Hukum & Kriminal

Analisis BBC: 270 Orang Terkait 28.415 Kasus Pencurian Toko di Inggris

×

Analisis BBC: 270 Orang Terkait 28.415 Kasus Pencurian Toko di Inggris

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: England's shoplifting issue and the prolific suspects fuelling it

jurnalistik.co.id – Analisis BBC menyoroti bahwa persoalan pencurian di toko di Inggris tidak hanya dipicu oleh banyak pelaku kecil, tetapi juga oleh sejumlah tersangka yang berulang kali muncul dalam laporan kepolisian. Dari data yang dibagikan oleh 27 satuan kepolisian, tercatat 28.415 delik pencurian toko terkait dengan hanya 270 tersangka.

Temuan itu berarti rata-rata terdapat sekitar 105 kasus pencurian per orang, namun angka tersebut hanya mencakup peristiwa yang dilaporkan secara resmi dan di mana petugas berhasil mengidentifikasi tersangka. Dengan kata lain, kasus yang masuk kategori “teridentifikasi” menjadi basis perhitungan, bukan seluruh peristiwa pencurian yang terjadi di lapangan.

BBC juga mengangkat contoh seorang tersangka yang dihubungkan dengan 247 delik pencurian toko di Sussex. Jika dijumlahkan sebagai perbandingan ritme penegakan hukum berdasarkan temuan yang dilaporkan, itu setara dengan satu tindak kriminal yang tercatat setiap 10 hari.

Polisi dan pemerintah menilai efeknya meluas

BBC menyebut bahwa pelaku yang termasuk kategori “prolific” tetap menjadi masalah nyata bagi komunitas meski sebagian orang sudah berhenti beraksi. Salah satunya adalah Jeff Ashman, yang pada puncak kejahatannya memperkirakan ia bisa keluar dari toko membawa barang senilai £400 hingga £500 setiap hari.

Menurut keterangan Ashman, “It’s mind-boggling,” katanya saat menggambarkan besarnya pencurian untuk membiayai kecanduan heroin dan crack cocaine. Ia juga menyatakan, “I know the misery and grief and despair that I have caused these people for a long period of time.” Kini Ashman mengaku kejahatan pencurian tokonya sudah “firmly in the past”, tetapi pola yang serupa masih ditemukan pada pelaku-pelaku yang berulang.

Policing minister Sarah Jones menilai pencurian toko adalah kejahatan yang merusak namun terlalu lama tidak ditangani secara tegas. Ia mengatakan, “They need to know that they are going to be punished for what they have done.” Jones juga menyebut shoplifting sebagai “pernicious crime that for too long has gone unpunished”.

Data resmi menunjukkan kepolisian di seluruh Inggris dan Wales—tidak termasuk British Transport Police—mencatat 502.011 delik pencurian toko pada 2025-26. BBC melaporkan lebih dari setengah penyelidikan itu berakhir tanpa tersangka yang berhasil diidentifikasi.

Di luar hukuman penjara dan program pengobatan untuk masalah narkoba, pemerintah menyatakan sedang menelusuri cara lain untuk menangani pencurian toko yang berulang. Pendekatan yang disebut meliputi penggunaan teknologi serta perintah pengadilan yang mencegah tersangka mengunjungi toko atau area tertentu.

Dampak bagi pekerja toko dan bisnis lokal

Berkaca pada kota Hastings, BBC mempertemukan Jeff Ashman dengan sosok yang dulu ia anggap sebagai “public enemy number one”. John Bownas memimpin tim yang mendukung toko-toko di kota tepi laut tersebut, termasuk upaya kolaboratif untuk mengurangi kejahatan.

Bownas mengatakan kepada Ashman bahwa hubungan keduanya soal shoplifting ibarat “a bit of a history”. Ia melanjutkan dengan pandangan bahwa proses penertiban pada akhirnya dapat membuat pelaku merasa “we got you in the end”, meski sebelumnya sempat terkesan berhasil melangkah selangkah lebih maju.

BBC juga menuliskan bagaimana Bownas masih melihat konsekuensi pencurian toko terhadap bisnis dan pekerjanya. Ia menyebut ada rasa frustasi karena sistem dinilai “letting so many people down”. Dalam pandangannya, akibatnya pekerja muda yang upahnya minimum justru menghadapi karakter yang dapat menjadi sangat agresif.

Bownas menegaskan, “There are threats of needles and threats of knives and that’s not what a young shopworker should be faced with day in day out.” Untuk merespons situasi tersebut, Home Office membuat penyerangan terhadap pekerja ritel di Inggris dan Wales menjadi tindak pidana spesifik melalui Crime and Policing Act 2026.

Dalam aturan baru itu, pelaku yang terbukti bersalah dapat dipenjara hingga enam bulan serta menghadapi denda tanpa batas. BBC mencontohkan pengalaman seorang manajer toko di Canterbury yang menyebut keadaan “really upsetting” ketika staf diserang oleh shoplifters. Laurissa Woolgar menceritakan, “My colleagues have been wrestled with as they’ve tried to get items off [them]. We’ve been sworn at, there’s a lot of verbal abuse.”

Angka penuntutan dan hambatan penangkapan

BBC memaparkan bahwa ketegasan hukum dapat mengubah cara berpikir pelaku, tetapi keberhasilan penangkapan dan penuntutan tetap menjadi penentu. Sekitar satu dari lima delik pencurian toko pada 2025-26 berujung pada charge atau summons.

Namun masih ada banyak kasus yang belum berjalan ke proses tindakan. BBC menyebut 285.667 kejahatan yang dilaporkan masih berstatus terbuka atau ditutup tanpa langkah apa pun.

Sejumlah peritel menyampaikan bahwa mereka harus mengidentifikasi tersangka sendiri agar penangkapan bisa dilakukan. Salah satu kasus yang disebut BBC terjadi ketika shoplifters membawa kabur perhiasan emas senilai ÂŁ1.000 dari bengkel Dion Smith.

Smith menjalankan bisnis di Leeds selama 16 tahun dan mengatakan pencurian toko “got out of control” dalam lima hingga 10 tahun terakhir. Ia menceritakan bahwa istrinya sempat mengambil gambar pelaku yang menjual barang hasil curian di toko barang bekas, tetapi polisi tidak dapat mengidentifikasi mereka sampai pemilik usaha membagikan foto tersebut di media sosial.

Smith menjelaskan, “We had so many comments and people messaging us telling us they knew who they were and where they lived.” Setelah identifikasi di media sosial dilakukan, ia menambahkan bahwa polisi membantu pemulihan barang curian dan melakukan penangkapan. Ia menutup dengan pernyataan, “There has to be consequences; we’ve got to come up with something to deter them because at the moment they’re being given a green light to do whatever they want; they are running amok.”

Crime terorganisir, berbasis data, dan kolaborasi

Profesor kriminologi Emmeline Taylor dari City St George’s University di London mengatakan shoplifting juga didorong oleh kejahatan terorganisir. Ia menilai, “Post-pandemic, we have seen what’s been described as a shoplifting epidemic on the streets of the UK.”

Menurutnya, pelaku yang terlibat dapat mencuri barang-barang tertentu secara spesifik, mengosongkan rak dalam jumlah besar, lalu menjualnya kembali ke pasar lain—mungkin lewat kanal online atau melalui car boot sales. Taylor juga menyebut adanya pelaku lokal yang “prolific”, yang dapat terkait perubahan akibat narkoba, serta sudah mengetahui tempat penjualan barang.

BBC juga menyinggung bahwa pencurian toko masih relatif tinggi meski ada penurunan tipis dari tahun ke tahun pada 2025-26. Salah satu unit yang dibahas adalah Opal, yang dibentuk dua tahun lalu untuk membangun tim kejahatan ritel terorganisir, dan sering kali mencakup beberapa wilayah kekuatan sekaligus.

Jim Taylor—mantan detective chief superintendent yang sebelumnya memimpin unit itu—menjelaskan bahwa model lintas wilayah memungkinkan penautan geng kejahatan terorganisir dengan pola pelanggaran di berbagai lokasi negara. Ia mengatakan ada “individuals exploiting the lack of coordination between stores, between police forces and making vast sums of money”. Ia juga menyebut temuan mereka meliputi kelompok kejahatan yang bertanggung jawab atas “millions of pounds of theft”.

National Police Chiefs’ Council (NPCC) menekankan strategi yang diluncurkan tahun lalu telah membawa “real results” dengan menyatukan kepolisian, peritel, dan pemerintah. Alex Goss, asisten kepala polisi dan penanggung jawab retail crime di NPCC, menambahkan bahwa “tackling retail crime cannot be achieved by policing alone”.

Strategi tersebut mencakup upaya menargetkan organized retail crime, menjalankan offender management programme, serta membangun langkah pencegahan. Salah satu contoh yang disebut BBC adalah platform intelligence baru bernama Auror, yang memungkinkan peritel melapor langsung kepada polisi untuk menghadapi shoplifters yang berulang.

Hertfordshire Constabulary—salah satu dari tiga kekuatan yang menggunakan Auror—berhasil melakukan penangkapan dua tersangka di sebuah retail park di Stevenage berkat alat tersebut. BBC menyebut kedua pria itu dihubungkan dengan puluhan pencurian dari toko Boots di seluruh negeri.

Kolaborasi berbagi informasi juga ditekankan dalam Partnerships Against Business Crime di Staffordshire, yang memberi pembaruan mengenai pelaku yang diketahui kepada peritel yang terdaftar. Paul Greenhough menjelaskan bahwa penting untuk menolak anggapan bahwa toko “pasti kehilangan barang”. Ia menyatakan, “For us, it’s about saying, ‘No, that’s not acceptable – we need to do something about it’.”

Dari sudut pandang pemerintah, Sarah Jones menyebut penurunan tipis dari tahun ke tahun pada pencurian toko yang tercatat menunjukkan Inggris “turned that corner”. Tetapi ia juga memperingatkan masih ada banyak pekerjaan tersisa. “We all know there is a lot further that we need to go and a lot more we need to do,” katanya.