jurnalistik.co.id – Seorang konsultan dokter spesialis anak yang sempat berupaya mengangkat keprihatinan terkait kasus Lucy Letby mengatakan laporan penyelidikan Thirlwall membuatnya merasa “sangat suram”. Pernyataan itu disampaikan Dr John Gibbs kepada BBC setelah laporan akhir dipublikasikan.
Gibbs bekerja di Countess of Chester Hospital selama periode 2015 hingga 2016, ketika Letby dinyatakan melakukan pembunuhan terhadap tujuh bayi dan upaya pembunuhan terhadap tujuh bayi lainnya di unit neonatal. Ia juga termasuk di antara dokter senior yang mencoba menyalurkan kekhawatiran kepada manajemen rumah sakit pada masa tersebut.
Dalam penilaiannya terhadap laporan, Gibbs menyebut para konsultan ikut memikul tanggung jawab “secara kolektif” atas sejumlah kegagalan yang diuraikan dalam laporan. Ia menegaskan kesediaannya menerima bagian peran itu, meski tetap merasa situasinya seharusnya bisa ditangani lebih cepat.
“I wish we consultants had been brave enough to follow our suspicions and escalate things to the police earlier,” ujar Gibbs. Ia melanjutkan, “When I say, ‘we consultants’, I am responsible as well and if my other consultant colleagues didn’t go to the police, I should have.”
Laporan Thirlwall digulirkan setelah Letby dinyatakan bersalah dan diputus pada 2023. Laporan akhir tersebut terbit pada hari Selasa, setelah proses panjang penyelidikan yang berujung pada evaluasi menyeluruh terhadap apa yang terjadi di unit neonatal.
Dokumen setebal 822 halaman itu, menurut laporan BBC, memuat kesimpulan bahwa ada “a complete failure to protect babies on the neonatal unit at the Countess of Chester Hospital”. Temuan lain yang disorot adalah ihwal pemberitahuan kepolisian yang seharusnya dilakukan lebih cepat.
Laporan tersebut menyatakan polisi “should have been notified earlier than they were” dan bahwa manajer rumah sakit berulang kali menolak kekhawatiran para konsultan. Gibbs menilai, berdasarkan temuan yang sama, terdapat peluang-peluang yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh eksekutif rumah sakit untuk mencegah atau setidaknya mengurangi dampak yang berujung pada kematian bayi.
Ketika menanggapi temuan untuk pertama kali, Gibbs mengatakan ia tidak mengharapkan pembacaan yang mudah. “I wasn’t expecting it to be an easy read and it certainly isn’t. I’d imagine it’s an extremely difficult read for the parents of the babies concerned.”
Ia juga menyampaikan penyesalan atas kegagalan yang ia anggap telah terjadi. “As I admitted when I appeared before the inquiry to give evidence, I feel we failed the babies and I apologise to the families for that.”
Gibbs setuju dengan penemuan bahwa pimpinan rumah sakit memiliki beberapa kesempatan untuk bertindak dan berpotensi menyelamatkan nyawa bayi saat peristiwa-peristiwa itu masih berlangsung. Ia menambahkan, ada tekanan psikologis yang berat dalam proses penanganan ketika keterlibatan kepolisian belum terjadi.
Berita Terkait
“But it was during that 11 months after Lucy Letby was moved off the unit, before the police got involved, that it was a very difficult atmosphere, very tense, very stressful dealing with the managers,” katanya. Ia menggambarkan suasana yang ia sebut sulit, tegang, dan penuh tekanan dalam berinteraksi dengan pihak manajemen.
Menurut Gibbs, manajer berupaya memastikan agar seluruh pihak menerima bahwa Letby “wrongly suspected” melakukan tindakan yang membahayakan. Ia juga menyinggung kegagalan yang terjadi dalam timnya, termasuk kasus seorang dokter yang mengabaikan hasil tes darah.
Ia secara khusus merujuk pada kejadian pada Agustus 2015, ketika hasil tes darah menunjukkan adanya indikasi bayi telah diracuni insulin. Gibbs menyatakan bahwa meski ada rekan yang tidak menangkap relevansi hasil tersebut saat temuan kembali dari laboratorium, hal itu tetap merupakan kegagalan tim secara kolektif.
“Others of us were on call and covering the neonatal unit over the next week or two before the baby moved out of the unit. We all had the opportunity to review the notes.”
Reaksi di luar ruang sidang: vonis, banding, dan perhatian pada bukti
Di sisi lain, Letby saat ini menjalani 15 hukuman seumur hidup penuh. Ia juga disebut dua kali telah ditolak pengajuannya untuk mendapat izin mengajukan banding terhadap keyakinan bersalahnya.
BBC juga menuliskan bahwa Criminal Cases Review Commission (CCRC), sebuah badan independen yang menilai potensi kesalahan peradilan, sedang meninjau kembali keyakinan tersebut. Gibbs menjelaskan bahwa dukungan yang terus mengalir untuk Letby setelah vonis turut berdampak pada dirinya dan para konsultan lain.
Ia menyinggung bahwa setelah Letby divonis, pertanyaan tentang kasus tersebut muncul dalam bentuk teori konspirasi di internet dan perbincangan dari akademisi, termasuk ahli medis dan statistisi. Menurut Gibbs, situasi tersebut membuatnya menghadapi tekanan emosional yang tidak ringan.
Gibbs mengatakan ia merasa terbebani oleh klaim bahwa Letby justru diyakini secara keliru. “I particularly find the misinformation that’s on the internet is difficult to deal with,” ujarnya, sebelum menegaskan kembali pendapatnya.
“I haven’t changed my mind that I think Lucy Letby is guilty.” Namun, ia menambahkan penekanan berbeda: dengan mempertimbangkan kualitas sebagian pihak yang mengangkat keberatan, menurutnya penting agar bukti yang dipakai untuk menghukum Letby benar-benar ditelaah oleh CCRC.
Dalam pandangannya, proses peninjauan itu tidak sekadar formalitas, melainkan langkah yang diperlukan agar penilaian terhadap bukti tetap mendapat perhatian serius. Pernyataan Gibbs sekaligus menggarisbawahi bahwa bagi keluarga korban, laporan yang disusun Thirlwall bukan hanya evaluasi administratif, melainkan sesuatu yang dirasakan sebagai bagian dari pengalaman yang sangat menyakitkan.












