Hukum & Kriminal

Dugaan Korupsi Pajak Mencuat, Saham Grup Boy Thohir Tertekan di Awal Perdagangan

×

Dugaan Korupsi Pajak Mencuat, Saham Grup Boy Thohir Tertekan di Awal Perdagangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Muncul Dugaan Korupsi Pajak, Saham Grup Boy Thohir Jatuh - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Rabu (2/9/2026) dibuka dengan tekanan pada sejumlah emiten yang terkait grup Boy Thohir. Penurunan harga saham terjadi seiring dengan perkembangan kasus dugaan korupsi pajak yang melibatkan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin.

Awal pelemahan pertama datang dari PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO). Pada pembukaan pagi itu, ADRO dibuka melemah 20 poin ke level Rp2.760 per saham.

Meski berada pada sesi awal yang cenderung melemah, pergerakan ADRO kemudian memperlihatkan tekanan yang makin dalam. Hingga pukul 10.19, harga ADRO tercatat turun lebih jauh.

Pada jam tersebut, ADRO kehilangan 90 poin atau setara 3,24% dan bergerak di level Rp2.690 per saham. Perubahan ini menggambarkan kelanjutan tekanan jual setelah pembukaan.

Aktivitas transaksi ADRO selama periode berjalan juga menunjukkan adanya perputaran saham yang nyata. Sejauh ini, saham ADRO sudah ditransaksikan sebanyak 13.890 kali dengan volume sebesar 38,88 juta saham.

Nilai transaksi yang menyertai pergerakan tersebut mencapai Rp105,3 miliar. Angka frekuensi dan nilai transaksi ini memperlihatkan bahwa pergerakan harga tidak hanya bersifat tipis, tetapi diiringi aktivitas perdagangan yang cukup intens.

Selain ADRO, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) juga mengalami penurunan lebih dalam pada pembukaan. AADI dibuka dengan pelemahan 175 poin atau setara 1,61% ke level Rp10.700 per saham.

Tekanan pada AADI berlanjut ketika perdagangan memasuki bagian waktu yang sama. Pada perkembangan hingga sekitar pukul yang disebut dalam laporan, AADI masih bergerak di area pelemahan dengan penurunan yang tercermin dari level harga tersebut.

Perkembangan harga dan transaksi AADI

Di sepanjang periode berjalan, AADI mencatat nilai transaksi sebesar Rp98,4 miliar. Saham tersebut ditransaksikan sebanyak 9,22 juta saham dengan frekuensi 7.713 kali.

Dengan pembukaan yang melemah, serta nilai dan volume transaksi yang terkumpul selama sesi berjalan, pergerakan AADI menunjukkan respons pasar yang konsisten terhadap informasi yang tengah berkembang. Dalam konteks yang sama, penurunan ini juga terkait dengan perkembangan kasus dugaan korupsi pajak yang menyeret grup bisnis Boy Thohir.

Adanya penurunan pada ADRO dan AADI pada jam-jam awal perdagangan menegaskan bahwa sentimen di pasar modal tidak hanya tercermin pada satu emiten. Tekanan terukur pada keduanya muncul pada hari yang sama, yaitu Rabu (2/9/2026), tepat sejak sesi pembukaan.

Dari sisi angka, ADRO bergerak dari level pembukaan Rp2.760 menjadi Rp2.690 pada pukul 10.19, yang berarti penurunan tambahan sebesar 90 poin atau 3,24%. Sementara itu, AADI yang dibuka melemah 175 poin ke Rp10.700 juga mencatat nilai transaksi Rp98,4 miliar dan volume 9,22 juta saham.

Walaupun rincian lebih lanjut mengenai proses hukum dan detail kasus tidak dijelaskan dalam ringkasan ini, pasar tercermin bereaksi melalui pergerakan harga dan aktivitas transaksi. Tekanan yang terjadi pada awal perdagangan menggambarkan bagaimana perkembangan dugaan korupsi pajak di KPP Madya Banjarmasin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor terhadap saham-saham terkait grup tersebut.

Sejak awal sesi pada Rabu (2/9/2026), pergerakan memperlihatkan pola yang sama: pembukaan sudah menunjukkan tekanan, lalu arah pelemahan berlanjut pada rentang waktu berikutnya hingga kinerja perdagangan di pagi hari makin terlihat menekan.

Tekanan tersebut tidak berhenti pada satu emiten. Keterkaitan sentimen dengan perkembangan dugaan korupsi pajak yang melibatkan KPP Madya Banjarmasin ikut tercermin pada saham-saham yang disebut berada dalam grup Boy Thohir, sehingga respons pasar tampak menyebar pada beberapa nama.

Indikasi reaksi itu juga terbaca dari aktivitas transaksi. Untuk ADRO, perdagangan tercatat mencapai 13.890 kali dengan volume 38,88 juta saham dan nilai Rp105,3 miliar. Pada AADI, nilai transaksi berada di Rp98,4 miliar dengan frekuensi 7.713 kali dan volume 9,22 juta saham, menegaskan bahwa minat beli-jual tetap berlangsung meski harga melemah.

Walau ringkasan yang tersedia tidak memaparkan uraian proses hukum secara rinci, dinamika harga dan angka frekuensi transaksi menjadi cermin dari bagaimana informasi kasus yang sedang berkembang memengaruhi pandangan pelaku pasar pada jam-jam awal perdagangan.