jurnalistik.co.id – Erin Patterson, terpidana “pembunuh jamur” di Australia, kini mengajukan banding untuk membatalkan vonisnya. Sidang banding ini menjadi sorotan baru setelah satu tahun berlalu sejak persidangan besar yang berujung hukuman seumur hidup.
Erin Patterson dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada September tahun lalu. Ia dinyatakan bersalah karena membunuh tiga kerabat dan mencoba membunuh satu orang lain melalui hidangan berbahan jamur beracun yang ia sajikan di rumahnya di Leongatha, Victoria, pada 2023.
Dalam pengajuannya, Patterson menilai proses peradilannya tidak berjalan adil. Ia menyebut adanya masalah pada bukti, tindakan pihak penuntut, serta “kekeliruan yang tidak biasa” terkait jalannya deliberasi juri saat memutus perkara.
Vonis, dan apa yang dilakukan Patterson
Kasus ini berpusat pada kematian Don Patterson dan Gail Patterson, keduanya berusia 70 tahun, serta Heather Wilkinson yang merupakan saudara perempuan Gail. Ketiganya dinyatakan meninggal setelah memakan porsi masing-masing beef Wellington yang mengandung death cap mushrooms di kediaman Patterson pada tahun 2023.
Heather Wilkinson meninggal setelah mengonsumsi jamur beracun tersebut. Sementara itu, suaminya, Ian Wilkinson, selamat dari jamuan itu, meski ia sempat dirawat selama berminggu-minggu dan masih menghadapi masalah kesehatan yang berhubungan dengan keracunan.
Patterson tidak sekadar menghadapi konsekuensi hukum dari kejadian itu. Hubungan pribadinya dengan keluarga korban juga ikut terurai dalam persidangan, termasuk peran suaminya yang berstatus terpisah, Simon Patterson.
Simon Patterson seharusnya hadir dalam jamuan tersebut, tetapi membatalkan kehadiran di menit-menit terakhir. Pembatalan itu, antara lain, dikaitkan dengan keyakinannya bahwa Patterson berulang kali mencoba meracuni dirinya selama beberapa tahun.
Setelah persidangan, terungkap bahwa Simon Patterson pernah mengalami sakit yang sangat parah setelah mengonsumsi beberapa hidangan buatan Patterson. Ia dilaporkan sempat berada dalam kondisi seperti koma, dan sebagian ususnya harus menjalani operasi pengangkatan. Keluarganya pun diberi tahu untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya sebanyak dua kali karena tidak diharapkan bertahan.
Di sepanjang persidangan, Patterson mempertahankan bahwa ia tidak pernah berniat membunuh kerabat-kerabatnya. Ia menyatakan semuanya adalah kecelakaan tragis, dan beralasan bahwa kebohongan serta upayanya membuang bukti setelah jamuan terjadi muncul karena kepanikan—ia takut akan disalahkan atas kematian-kematian tersebut.
Bagaimana Patterson menghadapi banding
Dalam banding ini, Patterson tidak akan hadir secara langsung di ruang sidang. Ia memilih mengikuti proses melalui tautan video dari Dame Phyllis Frost Centre, penjara keamanan maksimum di pinggiran Melbourne, tempat ia menjalani masa hukumannya.
Pada November tahun lalu, tim kuasa hukumnya mengajukan dokumen banding setebal tiga halaman yang memuat sejumlah alasan. Banding ini akan dipertimbangkan oleh tiga hakim di pengadilan banding.
Apa yang dipermasalahkan Patterson dalam banding
Dokumen tersebut memuat tujuh dasar banding. Salah satu yang disorot adalah adanya bagian dari bukti yang menurut pengacaranya tidak seharusnya dilihat juri. Misalnya, data pelacakan ponsel yang menunjukkan Patterson melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang pernah dikaitkan dengan ditemukannya death cap mushrooms.
Pengacara Patterson juga mempermasalahkan bukti yang berasal dari “Facebook friends”. Menurut mereka, bukti ini seharusnya tidak diterima, termasuk pesan-pesan daring yang menampilkan kemarahan Patterson terhadap mertuanya maupun terhadap suaminya yang berpisah, Simon Patterson.
Berita Terkait
Dalam pesan tersebut, Patterson pada satu titik menyebut Simon Patterson dengan istilah “deadbeat”. Tim pembela berpendapat bahwa seluruh rangkaian bukti itu tidak relevan sekaligus bersifat merugikan secara substansial, sehingga memunculkan kekeliruan besar yang berujung pada kegagalan menjalankan keadilan.
Selain menolak masuknya bukti tertentu, pihak pembela juga menegaskan ada bukti lain yang justru membantu Patterson namun dikeluarkan. Mereka menyebut foto dan gambar yang berkaitan dengan hobi Patterson sebagai pengumpul jamur dalam waktu lama, yang menurut pertahanan bisa mendukung narasi bahwa kematian tersebut merupakan kecelakaan tragis.
Tim Patterson juga menilai ada inkonsistensi dalam cara penuntut mengemukakan motif. Mereka menyebut bahwa di awal persidangan pihak penuntut mengatakan tidak akan berargumen mengenai motif tertentu, tetapi pada bagian akhir justru memberi kesan bahwa ada motif yang dipersoalkan.
Di sisi lain, pembela turut mengkritik rangkaian pemeriksaan silang yang dilakukan oleh pengacara Nannette Rogers selama lima hari. Patterson menggambarkan suasan persidangan menjadi tegang saat dua pihak saling bersilang, termasuk ketika Rogers menuduh Patterson berulang kali berbohong. Menurut Patterson, proses itu tidak adil dan menekan.
Namun aspek yang oleh tim Patterson disebut paling menarik berkaitan dengan proses deliberasi juri. Dalam persidangan, karena tingginya perhatian media terhadap kasus ini, ada langkah-langkah untuk memastikan juri tidak mendapat pengaruh dari keluarga, teman, ataupun pemberitaan.
Ketika juri mulai bermusyawarah, mereka harus tinggal di akomodasi yang diawasi, dengan akses yang sangat terbatas terhadap dunia luar, hingga keputusan diambil. Meski demikian, tim Patterson menyatakan terjadi “ketidakteraturan fundamental” yang menurut mereka “secara fatal merusak” integritas putusan.
Menurut dokumen banding, masalah ketersediaan kamar akibat hiruk-pikuk media di kota-kota regional sekitar gedung pengadilan menyebabkan juri pada akhirnya berbagi satu hotel dengan anggota pihak penuntut, seorang saksi kepolisian utama, serta wartawan. Juri dikatakan memiliki satu lantai penuh untuk diri mereka, dan hakim saat itu menyatakan tidak ada bukti adanya interaksi dengan pihak mana pun yang terkait kasus.
Pembela mengatakan kekhawatiran itu tidak pernah diangkat selama persidangan berlangsung. Akan tetapi, dalam pengajuan banding, mereka meminta agar vonis dibatalkan dan dilakukan sidang ulang, dengan alasan bahwa keadilan tidak hanya harus terjadi, melainkan juga harus terlihat terjadi.
Sikap penuntut: banding atas lama hukuman
Sementara itu, pihak penuntut juga mengajukan upaya hukum. Kejaksaan Negara (DPP) disebut membantah keputusan terkait panjang masa hukuman Patterson.
Hakim Christopher Beale pada tahun lalu mengakui bahwa kejahatan Patterson termasuk yang terburuk dalam kategori serupa. Namun, ia menyatakan keputusan memberi peluang parole setelah 33 tahun dipengaruhi oleh kondisi penjara yang berat yang harus dihadapi Patterson.
Beale mencatat bahwa pada saat dijatuhi hukuman, Patterson telah menghabiskan 15 bulan dalam isolasi sel. Dalam kondisi isolasi, narapidana tidak dapat bercampur dengan penghuni lain dan makanan dikirim melalui bukaan kecil di pintu sel.
Hakim juga menambahkan adanya “kemungkinan besar” bahwa Patterson akan ditempatkan di sayap isolasi untuk bertahun-tahun ke depan karena notorietas kasusnya. Dengan demikian, pihak DPP kini mempersoalkan apakah pertimbangan tersebut sudah tepat untuk menentukan durasi parole yang ditetapkan.
Langkah berikutnya
Hasil banding tidak akan langsung diketahui setelah sidang ini. Keputusan dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Jika tiga hakim di Pengadilan Banding memutuskan untuk membatalkan putusan bersalah, terdapat dua kemungkinan: sidang ulang atau putusan bebas. Di sisi lain, jika banding pihak penuntut berhasil, Patterson berpotensi menghadapi perpanjangan masa periode parole yang melampaui 33 tahun.
Dalam skenario terburuk, ia bahkan dapat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan parole. Hingga putusan dikeluarkan, baik argumen tim Patterson maupun penilaian pihak penuntut akan menjadi penentu arah perkara berikutnya.












