Hukum & Kriminal

Ibu, nenek, dan ayah tiri divonis atas penyiksaan “house of terror”; korban Shirley Freeman, Julia Stephen, dan David McColl dipukul, kelaparan, dan disiksa psikologis

×

Ibu, nenek, dan ayah tiri divonis atas penyiksaan “house of terror”; korban Shirley Freeman, Julia Stephen, dan David McColl dipukul, kelaparan, dan disiksa psikologis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mother, grandmother and stepfather sentenced for 'house of terror' abuse

jurnalistik.co.id – Pengadilan Skotlandia menjatuhkan vonis tanpa penjara terhadap seorang ibu, seorang nenek, dan ayah tiri yang dinyatakan melakukan penyiksaan bertahun-tahun terhadap tiga anak dalam apa yang disebut jaksa sebagai “house of terror”. Keputusan ini terkait perlakuan yang berlangsung dari 2003 hingga 2012.

Shirley Freeman (51), Julia Stephen (69), dan David McColl (50) disebut memperlakukan para korban dengan pemukulan, kelaparan, serta tekanan psikologis secara berulang. Sheriff Craig Findlater menegaskan bahwa hukuman apa pun tidak akan mampu “memperbaiki” masa kecil yang hancur bagi ketiga korban tersebut.

Vonis tanpa penahanan

Di Aberdeen Sheriff Court, Freeman dan Stephen sebelumnya dinyatakan bersalah atas perlakuan kejam dan tidak wajar. Sementara itu, McColl mengaku melakukan tindak pidana.

Freeman dijatuhi 18 bulan masa probation, 240 jam kerja sosial tanpa upah, serta perintah pembatasan kebebasan selama 12 bulan sebagai alternatif langsung dari pemenjaraan. Stephen menerima perintah 150 jam kerja sosial tanpa upah dan probation selama 18 bulan.

Untuk McColl, pengadilan memberikan 220 jam kerja sosial tanpa upah, probation selama 18 bulan, serta perintah pembatasan kebebasan selama 11 bulan sebagai alternatif langsung dari penahanan.

Lokasi kekerasan

Perbuatan tersebut terjadi di sebuah alamat di Balloch, Dunbartonshire, dan juga di sebuah apartemen di Bedford Avenue, Aberdeen. Dalam persidangan, terungkap bahwa Freeman menciptakan “house of terror” bagi para anak tersebut.

Keterangan korban: kekerasan jadi hal yang biasa

Dua dari tiga korban, yakni William dan Meaghann Murphy, kini berusia 25 dan 28 tahun. Keduanya menyampaikan kepada BBC Scotland bahwa kekerasan dan perlakuan kejam yang dialami saat kecil membuat situasi itu terasa “normal” dalam hidup mereka.

Meaghann menggambarkan bahwa kemarahan dan ledakan kekerasan dari ibunya merupakan hal yang menonjol. Ia menceritakan pernah dikurung di dalam sebuah kamar, dan karena harus ke toilet, ia dipaksa mengeluarkan pakaiannya dari laci bagian bawah.

Menurut pengakuannya, setelah peristiwa itu ia dipukul, lalu bukannya dibolehkan keluar, ia hanya diberi sebuah ember di dalam kamar. Meaghann juga menyebut ia pernah mengalami kekurangan makan selama beberapa hari, sementara lemari-lmari dikunci agar anak-anak tidak bisa mengambil makanan.

Pengadilan mendengar bahwa Freeman berulang kali memukul anak-anak menggunakan sabuk yang memiliki peniti logam. William menambahkan bahwa, selama yang ia ingat, kehidupan keluarga penuh kekacauan dan tidak bisa diprediksi, bahkan kerap terasa bermusuhan.

William mengatakan mereka sering disuruh tidur di lantai sebagai bentuk hukuman. Pada kondisi tertentu, ia menyebut penyiksaan itu dilakukan dengan pola “sleep deprivation”, ketika mereka diminta berdiri seperti berbaris dan dipaksa tetap terjaga.

Ia juga menyampaikan bahwa pikirannya mulai “bermain trik”, termasuk mulai melihat wajah di dinding saat bertahan tanpa tidur. Jika ada tanda ia mulai mengantuk atau tidak dianggap serius, benda-benda akan dilemparkan atau ia akan dimaki, dan hukuman pun diperpanjang.

William menuturkan bahwa kakak perempuannya berusaha melindunginya. Ia menggambarkan Meaghann seperti “matras manusia”, karena Meaghann menanggung beban tidur di lantai beton dan kemudian membiarkannya mendekat untuk merapikan keadaan serta mengusap bagian belakang kepalanya.

Meaghann menyatakan ia terus bergulat dengan rasa bersalah, karena merasa tidak mampu memberi perlindungan yang lebih baik. Ia mengatakan akan menanggung peristiwa itu sepanjang hidupnya dan tidak pernah bisa memaafkan diri atas apa yang harus ia saksikan saat ia sendiri tidak punya kuasa untuk menghentikannya.

Proses perlindungan dan alasan bersuara

Pada tahun 2013, kedua saudara itu dimasukkan ke panti asuhan/penanganan perlindungan anak, seiring kekhawatiran terkait keselamatan mereka. Police Scotland kemudian memulai penyelidikan pada 2022 setelah William memberikan pernyataan.

Keduanya memilih untuk berbicara agar kisah mereka dapat membantu orang lain mengenali tanda-tanda penyiksaan anak. Meaghann berharap apa yang mereka sampaikan bisa memberi dampak positif bagi setidaknya satu orang, sedangkan William menegaskan harapannya agar pengalaman tersebut membantu orang lain memahami gejala kekerasan sejak dini.

Sikap penuntutan

Alison McKenzie, procurator fiscal Grampian, Highlands and Islands, menyatakan bahwa ketiganya adalah orang dewasa yang “secara sadar dan sengaja” memperlakukan anak-anak dengan rangkaian perlakuan yang mengerikan. Ia mengatakan bukti menunjukkan bukan memberikan perhatian, kasih sayang, dan rasa aman yang layak diterima anak, melainkan membangun pola kekejaman, degradasi, dan perilaku yang merugikan secara berkelanjutan.

McKenzie menambahkan bahwa penuntutan ini diharapkan dapat meyakinkan korban kekerasan terhadap anak bahwa mereka akan didengarkan, diperlakukan bermartabat, dan didukung sepanjang proses peradilan pidana, tanpa memandang kapan tindak pidana tersebut terjadi. Det Insp Kerry McCombie dari Police Scotland juga memberi penghormatan pada keberanian para korban yang membawa perkara ini ke pengadilan.