jurnalistik.co.id – Lima tahun setelah Taliban merebut kembali Afghanistan, perempuan di berbagai wilayah menceritakan bahwa hidup mereka kini sulit dikenali—dari pendidikan, pekerjaan, hingga akses kesehatan.
BBC melalui layanan Afghanistan berbicara dengan perempuan dan anak perempuan dari Kabul hingga pelosok pedesaan. Dalam laporan itu, kelompok Islam garis keras disebut terus menggerus ruang gerak perempuan sejak memperoleh kendali pada 2021, dua dekade setelah kekuasaan mereka dicabut oleh koalisi militer pimpinan AS.
Menurut BBC, Taliban membatasi akses pendidikan untuk anak perempuan di atas usia 12 tahun. Mereka juga menerapkan pembatasan perjalanan tanpa pendamping laki-laki, serta memasukkan aturan yang mengarah pada legitimasi pernikahan anak.
Saat ditanya mengenai kendala yang dihadapi perempuan, menteri luar negeri Taliban Amir Khan Muttaqi menyatakan, “Women are not totally restricted on all walks of life”. Namun para perempuan yang menjadi narasumber mengatakan dampaknya terasa hampir di setiap aspek kehidupan.
Banyak narasumber memilih tidak memakai nama asli. Mereka mengaku takut mendapat pembalasan, terutama setelah melihat betapa perubahan kebijakan memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Ela, perempuan dari Kabul, menggambarkan situasinya sebagai hari-hari yang dipenuhi kemiskinan dan kesulitan harian. “People are so overwhelmed by poverty and daily hardships that many have been forced to put their education, dreams, and hopes for the future aside,” katanya, menegaskan bahwa kini prioritasnya sekadar bertahan.
Ela menambahkan, “Today, survival has become the priority, and many of us no longer have the time or energy to think about the future.” Ia menyebut masa depan yang dulu ia bayangkan terasa makin jauh.
Dalam laporan BBC, Afghanistan juga digambarkan sebagai satu-satunya negara di dunia yang secara resmi melarang anak perempuan mengenyam pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Shakiba menceritakan bahwa 15 Agustus, ketika pemerintahan jatuh, menjadi hari terburuk dalam hidupnya.
“15 August, when the government fell, was the worst and most painful day of my life,” ujarnya. Ia menggambarkan tiap kali tanggal itu tiba, rasa sakit lama terasa terbuka lagi, disusul perasaan kalah yang memenuhi hati.
Shakiba menuturkan, “That day I felt that many of the dreams I had carried inside me for years were suddenly taken away.” Meski ia berhasil menyelesaikan pendidikan menengah secara daring—yang ia sebut “a very important victory”—tujuan seumur hidupnya menjadi pilot tetap terasa mustahil.
“Whenever I looked at the sky I imagined myself flying an airplane and seeing the world from above. I wanted to fly freely and experience a world without limits,” katanya. Keinginannya terbang bebas kini berbenturan dengan realitas yang ia hadapi.
Muttaqi kemudian ditanya tentang pendidikan anak perempuan di Afghanistan. Ia secara spesifik merujuk pada laporan UNICEF yang menyebut sekitar 2,6 juta anak perempuan tidak dapat bersekolah lagi setelah kelas 6.
Menanggapi pertanyaan itu, Muttaqi berkata, “it is not correct to say everything is banned for women,” lalu menambahkan, “right now, three million girls are going to schools and madrassas [religious centres focused on Islamic teachings]”.
Ketika ditanya bagaimana sekolah-sekolah keagamaan bisa menghasilkan tenaga medis seperti dokter, Muttaqi kembali menegaskan batasan itu tidak total. Ia menyatakan, “Women are not totally restricted on all walks of life… Only one small part (of their affairs) is restricted until further notice.”
Di bagian lain laporan, BBC mengutip data Perserikatan Bangsa-Bangsa: hanya 7% perempuan di Afghanistan yang bekerja. Kondisi ini disebut terkait pelarangan perempuan pada banyak tempat kerja serta bidang studi.
Perempuan tersingkir dari pekerjaan
Zuhal, pembawa berita, disebut didorong keluar dari pekerjaannya setelah serangkaian perintah Taliban. Ia menggambarkan bagaimana pekerjaannya dulu memberinya identitas dan kebanggaan.
“I was very passionate about my work and did it with love. Every time I sat in front of the camera and read the news, I felt proud and happy… it was part of my identity and life,” ujarnya. Perubahan kebijakan membuat rutinitas yang dulu ia jalani lenyap.
“The days when I used to wake up to the sound of my alarm clock and get ready to watch TV have now become days when I wake up in the morning knowing that I have to spend the whole day at home,” kata Zuhal.
Muttaqi menyebut jumlah perempuan yang menjalankan usaha pada 2020 dan 2021 mencapai hingga 30.000, lalu meningkat menjadi 120.000 perempuan wirausahawan. “Women are teachers, and civil servants and entrepreneurs. There is not a total ban on women in all forms of engagement and activities,” katanya.
Hukuman cambuk dan trauma keluarga
Laporan BBC juga menyinggung berlanjutnya pelaksanaan hukuman fisik secara publik. Menurut catatan resmi, ratusan orang dicambuk sejak 2021, meski BBC menilai angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.
Shaima mengatakan ia dicambuk 50 kali. Ia menyebut tubuhnya mengalami bekas luka parah dan seluruh keluarganya mengalami trauma.
Berita Terkait
“They brought a paper and forced me to confess that: ‘Yes, I am an apostate woman. I am collaborating with infidels and have spoken with unrelated men’,” ujarnya. Ia menggambarkan tekanan yang dialaminya berlangsung dalam suasana di mana banyak orang berkumpul.
“They hit me so hard that my head would bend toward the ground. Around 200 local people had gathered, including men, boys, and children. All of them were male. I was required to say out loud that I repented,” kata Shaima.
Shaima menambahkan bahwa putri sulungnya kini terbangun dalam ketakutan hampir setiap malam. “Mother, they are beating you,” atau “Mother, they are killing you,” bunyi pertanyaan yang selalu muncul dalam tidur putrinya.
“That is what causes me the greatest pain,” ujarnya, menekankan bahwa luka terdalam bukan hanya pada tubuhnya, melainkan pada rasa aman anggota keluarga.
Manizha juga menceritakan pengalaman serupa. Ia disebut dicambuk di depan publik sebanyak 39 kali karena persahabatannya dengan seorang laki-laki, sebelum kemudian dipenjara.
“We wanted to get married, but unfortunately we were arrested. I do not know how the Taliban intelligence found out, or whether someone reported us,” katanya. Di dalam penjara, ia menyampaikan bahwa ia mengalami hal-hal yang bahkan belum pernah ia ceritakan kepada ibunya.
“In prison, I experienced things that I have never even told my mother. I had no desire to continue living. I used to say that the first thing I would do after getting out of prison would be to take my own life,” ujarnya. Ia juga mengatakan dirinya merasa menjadi aib bagi keluarga dan teman-temannya.
“I had become a source of shame for my family and friends… I could no longer think about marriage,” tutur Manizha.
Hambatan kesehatan bagi ibu hamil dan perempuan
BBC juga mengaitkan pembatasan layanan kesehatan dengan tingginya angka kematian ibu. Disebutkan bahwa aturan yang membatasi penanganan oleh dokter laki-laki membuat banyak perempuan dan anak perempuan kesulitan mengakses perawatan yang mereka butuhkan.
Midwife Marzia menceritakan pengalamannya menyaksikan kematian seorang ibu berusia 45 tahun. Ia mengatakan ibu tersebut memiliki enam anak dan meninggal di depan matanya setelah harus menempuh perjalanan ke klinik dari distrik yang jauh.
“We managed to save the baby, but now I keep thinking about the baby’s future and the future of her six other children. What will happen to them without their mother? What will happen to the whole family? ” kata Marzia.
Ia menambahkan bahwa semua yang terlibat merasa hancur. “We were all heartbroken. For us, losing a patient is always the hardest part of our job. We become exhausted, both physically and emotionally,” ujarnya.
Maryam, yang tengah menantikan kelahiran bayi perempuan, mengatakan ia terus memikirkan masa depan putrinya. Ia khawatir bila keadaan seperti ini berlanjut, anaknya tidak akan memiliki kesempatan yang sama untuk menuntut pendidikan.
“If things continue like this, what will happen to her? She will not even have the chance to finish school like I did, let alone go to university.”
Ia kemudian menyinggung kebutuhan dokter perempuan saat proses melahirkan. “If one day she gets married, becomes pregnant and needs a female doctor during childbirth, what if there isn’t one? This is a matter of life and death,” tegas Maryam.
Harapan yang masih bertahan
Di tengah banyak gambaran kelam, BBC mencatat sebagian perempuan masih menyimpan harapan. Noori, 24 tahun, mengatakan ia memilih belajar hukum dan ilmu politik karena ingin memberi perempuan suara serta membela hak mereka.
Noori tidak menyelesaikan studinya akibat pengambilalihan Taliban. Namun ia tetap menemukan cara untuk membantu perempuan, terutama lewat kemandirian ekonomi.
“I did not lose hope. I decided to start working and become financially independent. I found a job at a jam-making company and started working there. I have now been working for three years,” katanya. Ia kemudian berniat memperluas dampak lewat usaha sendiri.
“Now, I have decided to establish my own company so that I can provide employment opportunities for other women. I want them to become independent, strong, and successful women like me and have a better future. Currently, 10 brave women are working there,” ujarnya.
Asma, yang masih 13 tahun, menyatakan ingin menjadi dokter dan yakin suatu hari tujuan itu bisa tercapai. “One day, everything will change… but we must continue with patience, and we will not lose hope,” katanya kepada BBC.
Ela—kali ini sebagai asisten gigi—mengajak komunitas internasional agar tidak melupakan perempuan dan anak perempuan Afghanistan. Ia menyerukan dukungan nyata untuk hak pendidikan dan kerja.
“Speak up for Afghan women, support their right to education and work,” ucapnya. Ia menutup dengan permintaan agar perhatian dunia tetap tertuju pada situasi mereka: “Keep the world’s attention on their situation. We need solidarity, not silence.”












