jurnalistik.co.id – Sejumlah mantan kapten kriket mendesak Pakistan memastikan mantan perdana menteri Imran Khan mendapat “proper medical care” selama menjalani penahanan.
Desakan itu disampaikan lewat surat kepada pimpinan negara saat ini, Shehbaz Sharif, yang menekankan bahwa proses medis yang diperintahkan pengadilan harus dijalankan secara penuh.
Mereka menyebut Imran Khan, 73 tahun, telah mendekam di penjara sejak 2023, setelah ditahan dalam perkara korupsi yang ia bantah. Dalam surat tersebut, para mantan kapten juga menyoroti laporan bahwa Khan hanya diizinkan “only a few hours” di rumah sakit pada pekan lalu, untuk diperiksa oleh tim yang ditunjuk negara.
Khan juga menjadi perhatian dalam sengketa akses medis pribadinya. Partai politiknya telah mengajukan permohonan contempt petition kepada pemerintah karena tidak memberi Khan kesempatan menemui dan berunding dengan dokter-dokternya sendiri, padahal hal itu telah diperintahkan oleh pengadilan tertinggi.
Tuntutan utama dalam surat para mantan kapten
Dalam surat yang menggulirkan kekhawatiran itu, para mantan kapten menyusun tiga tuntutan. Pertama, mereka meminta penilaian kesehatan Khan dilakukan oleh dewan medis yang diarahkan oleh Pakistan’s Supreme Court, dengan mencakup dokter-dokter pribadi Khan.
Permintaan ini terutama terkait laporan adanya penurunan penglihatan pada mata kanan Khan. Para penandatangan surat menyatakan penilaian medis harus dilakukan sesuai arahan pengadilan, bukan sekadar pemeriksaan terbatas.
Kedua, mereka mendorong otoritas memberi izin kunjungan mingguan keluarga Khan sebagaimana diperintahkan pengadilan, “without interruptions or administrative delays”. Para penandatangan menilai aspek ini penting agar proses hukum dan kondisi kemanusiaan berjalan tanpa hambatan administratif.
Ketiga, surat tersebut meminta agar pengobatan apa pun yang direkomendasikan dewan medis dapat “provided without delay”. Dengan kata lain, mereka menolak jeda yang berpotensi membuat keputusan medis pengadilan tidak segera diterapkan.
Surat itu digagas oleh mantan kapten Australia Greg Chappell. Ia menulis, “Imran Khan is 73 years old and has now spent more than three years in custody,” sembari menegaskan bahwa permintaan menjalankan proses medis sesuai perintah pengadilan bukanlah isu yang seharusnya diperdebatkan.
Berita Terkait
Chappell juga menyatakan, “Whatever the legal and political arguments surrounding his case, the basic decency of ensuring a court-ordered medical process is actually completed is not, in our view, a controversial request.” Pernyataan ini menjadi penegasan moral bahwa perintah pengadilan harus dihormati dalam aspek kesehatan, terlepas dari perdebatan politik.
Di antara penandatangan lainnya terdapat nama-nama besar kriket, termasuk dari Inggris Michael Atherton, Michael Brearley, Nasser Hussain, Andrew Strauss, dan David Gower. Dari India hadir Kapil Dev dan Dilip Vengsarkar, sementara dari Australia ada Belinda Clark, Adam Gilchrist, Steve Waugh, serta Kim Hughes.
Surat juga memuat nama Sunil Gavaskar dari India dan Sir Alastair Cook dari Inggris. Dalam keterangan mereka, para penandatangan menggambarkan diri sebagai “former colleagues and rivals who share a bond forged on the cricket field”, dengan ikatan yang “transcends the borders and disputes that too often divide countries”.
Selain surat terbaru, 14 mantan kapten lainnya ikut mendukung seruan sebelumnya untuk “humane treatment and proper medical care” bagi Khan. Seruan itu diajukan pada Februari lalu, sebagai respons atas situasi kesehatan dan kondisi penahanan yang dinilai tidak memadai.
Dalam konteks yang sama, pengacara Khan sebelumnya mengklaim bahwa tersisa “15% vision left in his right eye” setelah otoritas penjara dinilai gagal mengambil tindakan yang semestinya. Klaim tersebut menjadi bagian dari alasan para penandatangan meminta pemeriksaan lanjutan yang lebih menyeluruh dan melibatkan dokter pribadi.
Perintah pengadilan dan perbedaan pelaksanaan
Mahkamah Agung Pakistan pada Selasa lalu mengarahkan pemerintah untuk memindahkan Khan ke rumah sakit swasta agar diperiksa oleh dokter-dokter. Namun, menurut laporan yang disebut dalam pemberitaan, Khan justru diperiksa oleh dokter di rumah sakit yang dikelola pemerintah di Islamabad.
Dokter di rumah sakit pemerintah tersebut menilai Khan “medically fit”, sebelum akhirnya ia dipindahkan kembali ke penjara. Perbedaan antara arahan pengadilan dan pelaksanaan pemeriksaan inilah yang kemudian memperkuat desakan para mantan kapten agar proses medis berjalan sesuai mandat hakim.
Imran Khan sendiri pernah menjadi kapten tim nasional kriket Pakistan sebelum masuk ke dunia politik. Ia menjabat sebagai perdana menteri Pakistan pada periode 2018 hingga 2022.
Ia dipenjara pada Agustus 2023 dan menghadapi tuduhan dalam lebih dari 100 kasus, mulai dari dugaan kebocoran rahasia negara hingga penjualan hadiah negara. Khan dan Partai Pakistan Tehreek-e-Insaf menyatakan semua tuduhan itu bermotif politik, dan penahanannya memicu protes besar-besaran dari pendukung yang kemudian direspons dengan penindakan oleh otoritas.












