jurnalistik.co.id – Kabar dugaan pemerkosaan yang belum terverifikasi memicu kerusuhan di Lovely Professional University (LPU) Phagwara. Insiden ini membuat kampus melumpuhkan aktivitas belajar dan mengosongkan asrama dalam waktu singkat, sementara polisi terus memeriksa rangkaian kejadian yang berawal dari rumor beredar.
Lembaga pendidikan itu menangguhkan kelas selama 10 hari setelah tuduhan terhadap seorang siswi beredar luas. Polisi mengatakan mereka sudah mendaftarkan perkara dan berupaya memastikan apakah dugaan tersebut benar-benar terjadi.
Pihak universitas membantah tuduhan itu secara tegas, menyebutnya salah dan tidak berdasarkan bukti. Namun, kegaduhan tetap meluas karena pesan beredar melalui grup WhatsApp mahasiswa.
Polisi menyatakan tidak ada mahasiswa yang maju untuk melaporkan bahwa dirinya atau pihak lain mengalami kekerasan. Investigasi juga belum menemukan identitas korban maupun pelaku yang diduga, sedangkan pemeriksaan awal rekaman CCTV belum menunjukkan adanya serangan.
Kerusuhan yang terjadi sejak akhir pekan lalu juga berimbas pada kondisi di luar kampus. Sejumlah rekaman menunjukkan kendaraan terbakar, kerumunan memenuhi jalan raya utama, serta aparat berhadapan dengan massa.
Menurut laporan pihak berwenang, kendaraan polisi mengalami kerusakan, petugas terluka, dan sebagian area kampus dirusak. Pada Senin, jalur utama sudah dibuka kembali dan situasi di kampus lebih terkendali, meski pengamanan semakin ketat.
Aktivitas kelas yang semula berjalan tidak lagi berlangsung seperti biasa. Universitas menunda ujian penting, sementara mahasiswa diberi kesempatan untuk kembali ke rumah setelah berkonsultasi dengan orang tua atau wali.
Mahasiswa yang tetap berada di lokasi diarahkan untuk bertahan di tempat tinggal masing-masing dan menghindari kerumunan agar tidak memperparah suasana. Di saat yang sama, proses penyelidikan berjalan untuk menentukan fakta di balik rumor tersebut.
Polisi menyebut kerusuhan bermula pada dini hari 27 September, ketika kabar bahwa seorang mahasiswi diperkosa di dalam atau dekat area asrama mulai menyebar. Dugaan waktu kejadian disebut-sebut terjadi beberapa hari sebelumnya, termasuk versi yang menyebut 23 September.
Dalam pemberitaan internal maupun percakapan mahasiswa, tersangka disebut dengan sejumlah deskripsi berbeda, mulai dari pekerja pipa, pelukis, hingga pekerja konstruksi. Perbedaan keterangan ini kemudian ikut menambah ketegangan karena ketidakpastian yang berkembang di lapangan.
Kerusuhan mulai melebar ketika massa berkerumun dalam jumlah besar. Ratusan orang akhirnya tumpah ke National Highway 44, jalur vital penghubung Delhi dan Punjab, dan memblokir lalu lintas selama lebih dari 15 jam.
Menjelang Minggu malam, properti universitas dilaporkan mengalami kerusakan, sejumlah benda dibakar, dan batu dilemparkan ke kendaraan polisi. Ada pula video yang menunjukkan petugas memukul pengunjuk rasa menggunakan tongkat, meski polisi kemudian membantah melakukan serangan terkoordinasi dengan baton-charge.
Di balik pagar kampus, para mahasiswa menggambarkan malam penuh ketakutan. Arya, seorang mahasiswa, mengatakan mereka berada dalam situasi tegang dan diminta mengunci diri di kamar ketika orang-orang mendatangi pintu-pintu.
“Kami duduk sambil memegang pisau dan gunting,” kata Arya. Ia menambahkan bahwa pada saat itu pikiran mereka hanya berputar agar malam segera berlalu dan mereka bisa keluar dengan selamat.
Pada hari berikutnya, Arya menyatakan keinginannya untuk meninggalkan kampus semakin kuat. Ia juga menyebut harapan orang tua agar mereka segera dipulangkan.
Berita Terkait
Polisi menjelaskan mengapa mereka tetap membuka perkara meskipun identitas korban tidak tersedia. Keterangan pejabat polisi senior, Naveen Singla, menyebut para mahasiswa meminta pendaftaran FIR, namun mereka tidak dapat memberikan nama korban.
Meski demikian, polisi mendaftarkan FIR berdasarkan ketentuan hukum pemerkosaan terhadap “orang yang tidak diketahui”. FIR dalam konteks investigasi hanya mencatat adanya dugaan untuk diperiksa, bukan bukti bahwa kejahatan benar terjadi.
Dalam tahap awal, penyelidik mulai memeriksa rekaman CCTV. Singla menyatakan penelusuran awal sejauh ini menunjukkan tidak ada pihak luar yang masuk ke sebuah kamar di area yang disebut-sebut, namun penilaian final masih belum dapat ditetapkan.
“Saat ini belum bisa diverifikasi apakah pemerkosaan terjadi atau tidak,” kata Singla. Pemeriksaan tetap dilanjutkan, sebab wilayah kampus yang sangat luas membuat tidak semua kamera dapat segera ditinjau.
Salah satu hasil pengembangan investigasi adalah pembentukan SIT, tim investigasi khusus beranggotakan tujuh orang. Tim ini dibentuk untuk menelusuri dugaan peristiwa dan dampak kerusuhan yang menyertainya.
Pertanyaan mengenai mengapa protes membesar tidak memiliki jawaban tunggal. Sejumlah kerumunan mulanya berangkat dari klaim pemerkosaan, lalu bergeser menjadi protes yang lebih luas terkait keamanan, respons universitas, hingga konflik yang akhirnya berubah menjadi kekerasan.
Di tengah ketidakpastian, perdebatan juga muncul soal siapa sebenarnya berada di dalam kampus. Sebagian mahasiswa menilai demonstrasi awal berlangsung damai dan menyalahkan pihak luar atas setidaknya sebagian kekerasan, sementara pihak lain mengaku melihat orang bertopeng atau tidak dikenal.
Pawan, seorang mahasiswa, menggambarkan suasana yang berkembang cepat hingga “menjadi medan pertempuran”. Aniket Singh juga menyampaikan bahwa ada pihak luar yang masuk ke asrama khusus perempuan dan mengetuk pintu dengan mengaku sebagai petugas polisi.
Polisi kemudian mengonfirmasi bahwa terdapat pihak luar di antara kerumunan, namun mereka masih berusaha menetapkan identitas dan peran pihak tersebut. Kebingungan di lapangan ini turut memperumit upaya meredakan konflik.
Universitas sendiri berusaha menyangkal tuduhan pemerkosaan dengan merilis video yang memperlihatkan tiga perempuan penghuni kamar asrama yang dikaitkan dengan dugaan serangan. Mereka menyatakan tidak ada kejadian di tempat itu dan meminta orang berhenti mengganggu mereka.
Namun, beberapa mahasiswa kemudian mengklaim dalam video lain bahwa pihak universitas mengarahkan apa yang harus mereka katakan, lalu merekam pesan tersebut, mengedit rekaman, dan memublikasikannya tanpa persetujuan. Klaim lanjutan tersebut belum diverifikasi secara independen, dan universitas belum memberikan komentar atas tuduhan mahasiswa.
Di tengah kerusuhan, beredar pula klaim yang mengaitkan dugaan pemerkosaan dengan kematian bunuh diri seorang mahasiswi LPU dari negara bagian Telangana. Polisi menyatakan penyelidikan terkait kematian tersebut memang sudah dimulai, tetapi tidak ada bukti terverifikasi yang menghubungkan kedua peristiwa.
Saat ini, kehidupan kampus tetap terganggu. Selain kelas yang ditangguhkan, mahasiswa diminta kembali setelah berdiskusi dengan orang tua atau wali, sementara yang tinggal dianjurkan menjaga jarak dari kerusuhan.
Komisi Perempuan Pemerintah Negara Bagian Punjab juga meminta informasi mengenai FIR, rincian investigasi, serta pengaturan keselamatan bagi mahasiswa. Penyelidikan kini memiliki dua fokus utama: apakah ada bukti kekerasan yang memicu protes, dan siapa pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan yang menyusul.
Menjelang Senin, pro-chancellor LPU, Rashmi Mittal, menyampaikan kekecewaan karena meskipun universitas telah menyediakan banyak kanal untuk menyampaikan kekhawatiran, mahasiswa justru “percaya pada rumor yang menyebar”. Ia juga menambahkan bahwa pihak luar ikut bergabung dalam kerusuhan.
“Saya merasa siswa tidak bisa melakukan ini,” katanya. Investigasi yang sedang berjalan diharapkan menjawab rangkaian pertanyaan yang selama ini berkembang tanpa kepastian, sekaligus memulihkan keamanan di lingkungan kampus.










