jurnalistik.co.id – Komisioner Korban London menilai keputusan bebas bersyarat yang memungkinkan Zafer Dogan kembali ke rumahnya merupakan kegagalan besar bagi korban dan keluarga yang terdampak kejahatannya. Andrea Simon menyampaikan bahwa sistem peradilan dinilai tidak menempatkan keselamatan korban sebagai pusat pertimbangan.
Menurut Simon, Dogan “grossly failed” dan berulang kali diizinkan pulang ke alamat yang berada tepat menghadap area bermain yang menjadi sasaran. Ia menyebut situasi itu berlangsung meski aparat penegak hukum dan penuntut berusaha menolak pengaturan tersebut.
Dogan, warga Enfield di London utara, dijatuhi hukuman penjara pada Kamis lalu selama dua tahun empat bulan. Vonis itu dijatuhkan setelah ia mengakui bersalah atas perbuatan terkait pengambilan gambar anak-anak dalam jumlah besar, serta penggunaan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan untuk “nudify” gambar tersebut.
Pengambilan gambar dari jendela kamar
Kasus ini bermula dari fakta bahwa polisi menyebut Dogan mengambil lebih dari 5.000 foto. Banyak di antaranya diambil dari jendela kamarnya, yang mengarah ke lingkungan sekitar.
Simon mengatakan kejadian tersebut memperlihatkan kegagalan sistem. Ia menyatakan: “I think victims and their families were grossly failed by the decision to allow this paedophile to return to an address where he was overlooking a playground near to his victims.”
Andrea Simon juga menegaskan bahwa pihak berwenang, termasuk kepolisian dan jaksa, sebelumnya menentang keputusan bebas bersyarat. Namun pada akhirnya, Dogan tetap kembali ke komunitas.
Simon menambahkan, “The case [shows that] the justice system just does not centre victims.” Ia menilai penolakan berulang dari kepolisian dan jaksa terhadap bebas bersyarat, tetapi keputusan tetap dibuat, menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara tekanan kapasitas penjara dan dampak yang ditanggung korban.
Dalam penilaiannya, sistem seperti bergerak dari satu krisis ke krisis lain. “We seem to be lurching from one crisis to another, and victim safety and their rights seem to be put to one side, as the justice system struggles,” kata Simon.
Gema dari Komisioner Polisi Metropolitan
Kritik Simon disuarakan kembali oleh Komisioner Polisi Metropolitan, Sir Mark Rowley. Ia menyebutnya “unfathomable” bahwa Dogan pada akhirnya diberikan kebebasan bersyarat.
Rowley mengatakan para penuntut justru menentang bebas bersyarat pada beberapa kesempatan, dengan bertumpu pada penilaian petugas tentang risiko besar yang ditimbulkan. Ia menilai keputusan tetap dibuat dengan mengutamakan kepentingan pelaku ketimbang keselamatan serta ketenangan pikiran korban.
Rowley menyampaikan, “Prosecutors rightly opposed bail on multiple occasions, building on officers’ clear assessments of the great risk he posed, and yet bail decisions were ultimately made that prioritised the offender’s interests over the safety and the peace of mind of the victims.”
Menurut Rowley, sebuah keluarga korban akhirnya tinggal berdekatan dengan seorang pria yang telah mengakui menargetkan mereka. Ia mengatakan keluarga tersebut begitu ketakutan hingga memilih pindah ke akomodasi sementara yang jauh, demi menghindari lingkungan tempat pelaku berada.
Rowley menambahkan bahwa perpindahan itu mengganggu kehidupan mereka dan juga anak-anak mereka. “They were so fearful, they ultimately felt forced to move to distant temporary accommodation, disrupting their lives and disrupting their children’s lives, simply to escape being in the neighbourhood of the offender.”
Berita Terkait
Rowley juga mengkritik peran teknologi dan perusahaan yang mengembangkan layanan berbasis AI. Ia menyebut adanya “some grossly irresponsible technology and AI companies” dalam konteks kemungkinan penyalahgunaan.
Ia mengatakan: “Dogan voyeuristically photographed children known to him before using an AI photo-editing technology to manipulate those images for his own sexual gratification,” dan menegaskan perusahaan harus berbuat lebih banyak untuk mencegah platform serta alat digunakan guna memfasilitasi kejahatan seksual dan menimbulkan bahaya.
Periode penahanan dan keputusan bebas bersyarat
Pada tahap proses peradilan, keputusan penahanan dan bebas bersyarat ditetapkan oleh hakim atau magistrate yang bersifat independen. Menurut keterangan penuntut, Dogan berada dalam status bebas bersyarat “throughout” proses perkara.
Jadwal yang disebutkan dalam perkara ini mencakup: 16 Juli 2026, Dogan ditangkap dengan dugaan tindak pidana yang melibatkan indecent images of children. Pada 4 Agustus, ia ditangkap kembali, lalu hari berikutnya didakwa dan ditahan oleh kepolisian.
Pada 6 Agustus, saat penampilan pertamanya di Highbury Corner Magistrates’ Court, Dogan mengaku bersalah atas seluruh dakwaan dan mendapatkan kebebasan bersyarat dengan syarat. Selanjutnya pada 7 Agustus, sidang bebas bersyarat di Wood Green Crown Court memutuskan agar syarat tetap berlaku, dengan tambahan kewajiban untuk menghadiri pertemuan bersama petugas probation untuk laporan pra-putusan.
Pada 7 September, sidang bebas bersyarat digelar lagi atas permintaan kepolisian dan Crown Prosecution Service. Disebutkan pula bahwa hakim kemudian membawa lebih cepat penjatuhan pidana sebagai upaya mitigasi.
Pada 11 September, pengadilan menjatuhkan putusan di Snaresbrook Crown Court, dan kemudian mengembalikan perkara ke Wood Green Crown Court pada 23 September. Pada 23 September, sidang penjatuhan pidana ditunda, dan pada 24 September Dogan akhirnya dijatuhi hukuman di Wood Green Crown Court.
Perbandingan dengan kasus Simon Levy
Andrea Simon menyampaikan adanya “parallels” atau kemiripan dengan kasus Simon Levy, seorang pelaku kejahatan seksual berantai sekaligus pembunuh. Levy dilaporkan membunuh dua perempuan dan memperkosa seorang perempuan lainnya pada 2025 saat ia berada dalam status bebas bersyarat untuk perkara lain.
Simon menautkan kemiripan itu pada rangkaian keputusan otoritas yang disebut membuat Levy dapat bebas bergerak di jalanan. Ia juga menyebut Levy telah dilaporkan kepada Metropolitan Police untuk dugaan serangan seksual pada 2017, kemudian melakukan serangan kepada dua perempuan pada 2018, namun barulah dihukum pada 2021.
Rowley dan Simon juga mengingat bahwa setelah Levy keluar dari penjara—di mana ia melakukan serangan seksual terhadap seorang petugas perempuan—ia melakukan serangan lain sebelum pembunuhan pada 2025. Levy akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada Agustus.
Kekhawatian terhadap skema pelepasan awal
Simon turut menyampaikan kekhawatian mengenai kebijakan pelepasan awal yang rencananya akan membuat sekitar 2.550 narapidana yang memenuhi syarat keluar dari penjara di Inggris dan Wales pada akhir tahun. Ia mengatakan para korban menyampaikan pandangan tentang rencana yang menurut mereka akan diperlukan menjelang pelepasan awal.
Ia menyebut: “I hear from victims about what they think they want to do ahead of offenders’ early releases from prison,” dan menambahkan, “they feel they may have to install security cameras or change their daily routines, or live in fear.”
Dalam rangkaian pernyataannya, Simon mendorong adanya peninjauan multi-lembaga. Di saat yang sama, juru bicara pemerintah menyatakan hukum sudah jelas bahwa kebebasan bersyarat “should only be used where necessary and proportionate, including to protect victims”.












