Hukum & Kriminal

Zafer Dogan, pelaku pelecehan anak 32 tahun, dibolehkan kembali tinggal dekat taman bermain sasaran

×

Zafer Dogan, pelaku pelecehan anak 32 tahun, dibolehkan kembali tinggal dekat taman bermain sasaran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sex offender bailed to flat near playground

jurnalistik.co.id – Seorang pelaku pelecehan anak, Zafer Dogan, yang berusia 32 tahun, kembali mendapatkan izin untuk tinggal di sebuah flat dekat taman bermain yang menjadi sasaran. Keputusan itu membuat korban-korban Dogan—yang berasal dari Enfield di London utara—hidup dalam jarak dekat dengan pria yang mengaku melakukan beberapa pelanggaran.

Menurut pihak kepolisian, Dogan dijatuhi hukuman penjara dua tahun dan empat bulan setelah pengadilan menjatuhkan putusan atas kasusnya. Ia juga telah mengaku bersalah atas beberapa pelanggaran sebelum vonis dijatuhkan.

Dogan bekerja sebagai mekanik, dan sebelumnya telah mengaku bersalah atas beberapa tindak pidana, termasuk membuat indecent images of children. Ia dinyatakan berulang kali diperbolehkan kembali ke rumahnya yang menghadap langsung area taman bermain yang ditargetkan.

Seorang hakim mendengar bahwa Dogan menggunakan perangkat lunak kecerdasan buatan untuk memodifikasi foto anak-anak. Dalam pemberitaan ini, disebutkan bahwa ia memakai AI untuk “nudify” gambar tersebut.

Met Police Commissioner Sir Mark Rowley berbicara di luar Wood Green Crown Court setelah Dogan dijatuhi hukuman. Ia mengkritik sejumlah keputusan dalam sistem peradilan dengan nada yang tajam.

Rowley menyampaikan, “The children should be put first, not the paedophile.” Kalimat itu ia ucapkan saat menyoroti dampak dari keputusan-keputusan yang memungkinkan pelaku tetap dekat dengan para korban.

Dalam penjelasan kepolisian, Dogan mengambil lebih dari 5.000 foto, dan banyak di antaranya diambil dari jendela kamar tidurnya. Foto-foto tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian pelanggaran yang akhirnya dibawa ke proses hukum.

Komisi kepolisian menyatakan, Dogan melakukan pengambilan foto secara mengintai terhadap anak-anak yang ia ketahui sebelum menggunakan teknologi pengeditan foto berbasis AI. Manipulasi gambar dilakukan untuk kepuasan seksualnya sendiri.

Rowley menyebut keputusan pemberian izin kembali ke rumah terjadi berulang kali. Ia menilai situasinya tidak selaras dengan kepentingan korban dan keamanan lingkungan mereka.

Menurut Rowley, keputusan-keputusan tersebut berujung pada kondisi di mana korban dan keluarga mereka harus menghadapi ketakutan yang nyata. Ia menggambarkan satu keluarga yang akhirnya pindah karena merasa sangat tertekan.

Rowley menyatakan para penuntut semestinya menolak pemberian jaminan (bail) pada beberapa kesempatan. Ia mengatakan, “Prosecutors rightly opposed bail on multiple occasions, building on officers’ clear assessments of the great risk he posed, and yet bail decisions were ultimately made that prioritised the offender’s interests over the safety and the peace of mind of the victims.”

Ia melanjutkan kritiknya dengan menegaskan bahwa situasi yang tercipta membuat korban berada sangat dekat dengan pelaku. Rowley menyampaikan, “A victim and their family found themselves living in close proximity to a man who had admitted targeting them.”

Lebih lanjut, ia menuturkan dampaknya hingga keluarga tersebut mengambil langkah yang mengganggu kehidupan mereka sendiri. Rowley menyebut, “They were so fearful, they ultimately felt forced to move to distant temporary accommodation, disrupting their lives and disrupting their children’s lives, simply to escape being in the neighbourhood of the offender.”

Dalam proses persidangan, Dogan juga disebut mengambil foto dari posisi yang memungkinkannya mengamati area tertentu. Pemberitaan ini menekankan bahwa ia mengarahkan pengintaian ke anak-anak yang diketahui olehnya sebelum pemanfaatan AI dilakukan.

Rowley juga mengkritik teknologi dan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam ekosistem kecerdasan buatan. Ia menyebut adanya “some grossly irresponsible technology and AI companies” dalam konteks ini.

Ia menegaskan bahwa pihak industri memiliki tanggung jawab untuk mencegah teknologi dipakai melakukan kejahatan seksual dan menimbulkan bahaya. Rowley menyampaikan, “Innovation cannot come at the expense of public safety, and industry has a clear responsibility to help prevent these technologies being exploited by predators.”

Di bagian lain, ia menambahkan bahwa korban—terutama anak-anak yang sangat muda—berhak mendapatkan perlindungan yang lebih baik dari berbagai pihak. Ia mengatakan, “Victims, in this case extremely young children and their families, deserve better from both the tech companies and the criminal justice system.”

Selain keterangan pejabat kepolisian, laporan ini juga memuat pernyataan dari keluarga korban. Salah satu ibu dari korban di bawah usia delapan tahun menggambarkan perasaannya sebagai situasi yang tak berdaya.

Ia menyampaikan, “helpless”, dan menambahkan, “Our lives will never be the same again and I can’t do anything about it all because one man exploited my child.” Kalimat tersebut mencerminkan dampak psikologis yang ia rasakan setelah kejadian tersebut.

Untuk korban lain yang berusia remaja, ibu korban mengungkapkan rasa shock yang ia rasakan saat pihak kepolisian menjelaskan apa yang terjadi. Ia menyampaikan bahwa rasanya seperti, “punched in the gut.”

Ia juga mengatakan kekhawatiran utamanya adalah keberadaan foto-foto anaknya di ruang daring. Ia menambahkan, “I’m really worried that my daughter’s photos are online and other paedophiles have them.”

Kesaksian-kesaksian tersebut menjadi latar dari kritik Rowley terhadap keputusan bail. Ia menilai bahwa pemberian izin bagi Dogan untuk kembali ke rumah dekat taman bermain membuat korban terus berada dalam situasi ketakutan.

Dalam konteks vonisnya, pemberitaan menegaskan bahwa Dogan bukan hanya memotret anak-anak, tetapi juga memanfaatkan perangkat AI untuk mengubah gambar demi kepuasan seksual. Hal itu, menurut laporan, termasuk penggunaan teknologi pengeditan foto dengan hasil yang terkait dengan “nudify.”

Dengan demikian, kasus ini juga mempertemukan dua isu sekaligus: risiko langsung terhadap keselamatan anak di lingkungan sekitar dan persoalan bagaimana teknologi dapat disalahgunakan. Kritik Sir Mark Rowley diarahkan pada keputusan peradilan dan pada tanggung jawab industri teknologi dalam pencegahan.

Di tengah vonis yang sudah dijatuhkan, pemberitaan ini menyoroti bahwa pilihan untuk membiarkan pelaku tinggal dekat area yang menjadi sasaran tetap memunculkan konsekuensi besar bagi korban dan keluarga mereka. Situasi tersebut juga memicu langkah-langkah perlindungan yang sampai mengharuskan perpindahan tempat tinggal sementara.

Atas dasar itulah, Rowley menilai keputusan-keputusan terkait bail telah menempatkan kepentingan pelaku di atas keselamatan korban. Ia menutup kritiknya dengan penekanan bahwa anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan.