jurnalistik.co.id – Korban-korban Simon Levy di London diminta untuk segera maju dan melapor, setelah polisi menuai kritik tajam terkait penanganannya. London Victims’ Commissioner Andrea Simon menilai ada “litany of failures” yang memungkinkan Levy membunuh dua perempuan dan memperkosa seorang korban lainnya.
Andrea Simon menyampaikan seruan itu dalam konteks bahwa Levy sudah dikenal aparat sebagai predator seksual. Ia meminta ada peninjauan menyeluruh karena dinilai terdapat “failure to monitor him appropriately”. Menurut Simon, pihak berwenang perlu menjawab kekurangan yang membuat pengawasan tidak cukup ketat.
British Transport Police menyatakan bahwa perempuan yang mengenali Levy sebagai pelaku harus melapor. Met Police, di sisi lain, mengatakan pihaknya telah menelusuri kemungkinan bahwa Levy memiliki korban lain, termasuk dugaan pembunuhan lanjutan.
Di tengah proses ini, Independent Office of Police Conduct (IOPC) menyebut adanya penyelidikan internal terhadap dua petugas. IOPC menyatakan seorang constable sedang diperiksa atas dugaan gross misconduct, sementara seorang detective sergeant menghadapi penyelidikan misconduct.
Pada Jumat, Levy dinyatakan bersalah atas pembunuhan dua perempuan dan pemerkosaan seorang korban ketiga di London. Keputusan itu muncul saat ia berada dalam pengawasan Met Police sebagai pelaku kejahatan seksual yang telah dijatuhi vonis.
Levy juga pernah melakukan rangkaian serangan seksual sebelumnya, dan kasus ini terhubung dengan tuduhan lama maupun peristiwa baru. Ia dijadwalkan untuk menjalani tahap vonis pada Rabu.
Andrea Simon mengungkap bahwa diperlukan “multi-agency review”. Ia menilai tidak ada cukup pembatasan yang bisa dikenakan pada Levy serta terjadi “a failure to monitor him appropriately”, sehingga kata-kata itu harus diikuti dengan evaluasi dan jawaban yang jelas.
Simon juga menekankan bahwa layanan publik harus “get better at recognising patterns of offending” sebelum pelaku menjadi “emboldened”. Baginya, pengenalan pola tidak boleh berhenti pada laporan individual, melainkan harus dihubungkan agar risiko dapat dicegah lebih dini.
Pihak Met menyatakan penyidik mereka “exhausted numerous lines of enquiry – including working with coroners – to identify whether Levy is responsible for any similar, unsolved incidents, including deaths”. Met menyebut hingga saat ini belum ada korban tambahan yang teridentifikasi, tetapi mereka tetap mendorong siapa pun yang merasa menjadi korban untuk menghubungi polisi.
British Transport Police menambahkan bahwa perempuan-perempuan lain mungkin mengenali Levy namun belum melaporkan apa yang terjadi. Pernyataan itu terkait dengan pola serangan di transportasi umum, di mana Levy diketahui menyerang setidaknya 10 perempuan di London dengan mencari gerbong yang ramai.
Levy melakukan kekerasan seksual ketika ia sedang dalam status jaminan dan dipantau aparat. Ia melakukan pemerkosaan yang disertai kekerasan pada Januari 2025, dan kemudian membunuh Carmenza Valencia-Trujillo, usia 53 tahun, pada Maret tahun yang sama.
Berita Terkait
Lima bulan setelahnya, Levy membunuh Sheryl Wilkins, usia 39 tahun. Kasus-kasus tersebut terjadi pada masa ketika Levy berada dalam pengawasan Met sebagai terpidana kejahatan seks.
Di persidangan sebelumnya, Levy juga telah dinyatakan bersalah oleh juri di Inner London Crown Court atas tindakan meraba 10 perempuan di Tube dan seorang perempuan lagi saat ia berada di penjara. Andrea Simon menyebut bahwa rincian dari perkara itu baru dapat diberitakan minggu ini setelah berakhirnya persidangan pembunuhan.
Kejadian perbuatan di penjara terjadi pada April 2022. Sementara serangan di Tube terjadi antara 24 Oktober 2023 hingga Mei 2025.
Levy telah lebih dulu dihukum atas penyerangan seksual terhadap dua perempuan pada 2018, lalu dipenjara pada 2021. Vonis awal yang menjadi pijakan pengawasan tercatat dimulai dari September 2021 ketika ia dijatuhi hukuman atas dakwaan penyerangan seksual, sebelum penangkapannya terkait pembunuhan pada September 2025.
Met, British Transport Police, dan Crown Prosecution Service (CPS) mengakui adanya kegagalan dalam cara Levy dipantau selama periode tersebut. Kritik yang mengemuka juga menyoroti bagaimana prosedur pembatasan dan penelusuran tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Selain itu, BTP menyatakan dua petugas dipindahkan ke peran lain karena “incompetence” dalam menangani penyelidikan terhadap serangan Levy di transportasi. CPS juga menegaskan bahwa tindakan penuntutan tidak memenuhi standar yang seharusnya diharapkan korban dan keluarga.
Lisa Ramsarran, chief crown prosecutor untuk CPS, menyatakan: “Our actions fell short of the standards that victims, families and the public are entitled to expect.” Pernyataan itu menempatkan tanggung jawab pada proses penanganan, bukan semata pada hasil akhir persidangan.
Lisa Squire, yang putrinya Libby dibunuh oleh seorang pria yang sebelumnya melakukan rangkaian kejahatan seksual, mengatakan ada “a catalogue of disasters”. Ia menyampaikan bahwa “the patterns were there, he was flying those red flags”, serta menyebut adanya “precursor offences” yang seharusnya bisa menghentikan Levy sebelum ia melakukan pembunuhan.
Ia melanjutkan, “At the moment, the message going out, in my opinion, is that women’s safety is not important,” sebelum menekankan bahwa kegagalan menghubungkan tanda-tanda awal telah meningkatkan bahaya bagi perempuan.
ZoĂ« Billingham, mantan pengawas independen polisi yang mendorong reformasi dalam penegakan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, juga menyatakan bahwa “too often in cases like this the dots aren’t being joined up”. Baginya, rangkaian kelalaian itu bukan hanya “one or two missed opportunities”, melainkan “It was an extraordinary succession” dari kesempatan yang hilang untuk membawa pelaku ke proses hukum lebih cepat.
Di tengah proses vonis yang dijadwalkan pada Rabu, seruan kepada korban tetap menjadi titik penting. Polisi berharap perempuan yang pernah mengalami serangan Levy di transportasi umum, atau yang memiliki informasi yang relevan, segera menghubungi pihak berwenang.












