jurnalistik.co.id – Elisabeth Belien, salah satu penyintas dari penjual racun asal Kanada yang memfasilitasi bunuh diri secara daring, menceritakan di persidangan vonis bahwa Kenneth Law memanfaatkan kondisi mentalnya saat ia masih berusia 23 tahun.
Belien menyampaikan kesaksian pada sidang vonis empat hari di Ontario, Kanada, Rabu, ketika Law berada di dalam dok kaca. Ia mengatakan sebelumnya tak pernah dikenal sebagai salah satu pelanggan Law, namun kini harus menghadapi dampak yang ia sebut bertahan lama secara emosional dan psikologis.
Menurut Belien, ia berada dalam titik terendah saat Kenneth Law menjual zat beracun kepadanya. Ia menuturkan bahwa dirinya secara fisik pulih setelah mendapatkan antidotum dari para tenaga medis, tetapi pengalaman tersebut meninggalkan jejak yang sulit hilang.
“I had struggled with my mental health for a long time before this. Kenneth Law made it a lot easier to act on that despair,” kata Belien di hadapan pengadilan. Ia juga mengungkap bahwa hingga kini ia masih mengalami pikiran mengganggu dan kilas balik pada hari kejadian itu.
Belien menambahkan: “I continue to struggle with intrusive thoughts and flashbacks of that day.” Ia menyatakan, meski ia “made a full recovery”, efek yang tertinggal menurutnya jauh lebih panjang: “However, emotionally and psychologically, the effects are far more long lasting.”
Dalam kesaksiannya, ia menyebut rasa bersalah sebagai penyintas, termasuk setelah mengetahui dari polisi bahwa orang lain telah meninggal. “I feel guilty for surviving. Although I survived,” ujarnya, sekaligus menegaskan bahwa dampaknya merembet kepada orang-orang terdekatnya.
Ia menuturkan: “I feel like my vulnerability was exploited. I still feel a lot of shame about what happened.” Belien juga menyatakan rasa bersalah karena merasa tindakannya sebelumnya, yakni melakukan pembelian dari Kenneth Law, turut membantu bisnis tersebut agar tetap berjalan dan menyuplai produk kepada pihak lain yang mungkin berada dalam situasi rentan serupa.
“I felt like the purchasing from Kenneth Law, I enabled him to continue his business, supplying his products, to other people who might have been vulnerable, like I was. I felt guilty for surviving,” kata Belien.
Belien menyebut ia mengambil racun pada Januari 2023. Saat duduk berhadapan dengan terdakwa, ia mengatakan bahwa suasana ruang sidang membuatnya kembali merasakan betapa mudahnya kondisi itu bisa menimpa orang tua atau keluarganya sendiri—dengan cara yang sama, dan pada saat yang sama pula.
“Belien, who said she took the poison in January 2023, said being in court reminded her ‘how easily’ it could have been her own parents there talking about her,” demikian inti yang ia sampaikan. Ia juga menyatakan bahwa proses yang dialaminya mengajarkan bahwa keadaan bisa membaik.
“I’m learning that things can get better,” kata Belien. “I’m learning to be excited to see what the future holds for me.” Namun, ia menegaskan bahwa rasa syukur karena masih hidup tidak menghapus trauma pengalaman yang telah dialaminya.
“But the gratitude I’m feeling for being alive today doesn’t take away from the trauma of the experience,” ujarnya.
Di persidangan, pengadilan juga mendengar pengaruh yang dirasakan keluarga korban lain. Kenneth Law, yang sebelumnya bekerja sebagai koki, telah mengaku bersalah atas 14 dakwaan karena membantu bunuh diri di Kanada setelah bertemu orang-orang dalam forum bunuh diri daring.
Berita Terkait
Otoritas menyatakan Law menjual sekitar 1.200 paket zat beracun kepada penerima yang ia temui melalui forum bunuh diri online di 40 negara. Sekitar seperempat dari paket tersebut dikirim ke Inggris. Law ditangkap pada Mei 2023 setelah penyelidikan rumit yang melibatkan sedikitnya 11 lembaga penegak hukum, termasuk investigasi dari sekitar selusin negara, di antaranya Inggris, Italia, dan Amerika Serikat.
Sejauh ini, terdapat hampir 80 kematian di Inggris yang dikaitkan dengan aktivitas Law. Namun, sebagai bagian dari kesepakatan pembelaan dengan otoritas Kanada, Law tidak akan menghadapi dakwaan di Inggris maupun terkait kematian warga Inggris.
Meski demikian, pernyataan dampak dari keluarga korban dibacakan selama rangkaian sidang vonis. David Parfett, ayah dari Tom yang meninggal pada Oktober 2021, menyampaikan bahwa sejak kehilangan putranya ia bergumul dengan kesehatan mental.
Ia menjelaskan: “Since Tom died, I’ve struggled with my mental health.” Ia juga mengatakan bahwa pada awalnya ia tidak benar-benar berduka secara penuh karena fokusnya beralih kepada upaya memahami dan mengekspos bahaya yang ditimbulkan platform internet yang memungkinkan Law “to trade suicide to kids”.
Parfett menuturkan, setelah lima tahun, ia masih kesulitan memproses kematian tersebut secara utuh. “I’m still, after five years, unable to fully process Tom’s death.” Ia juga menyatakan bahwa dirinya kini menjadi sosok yang berbeda dari sebelum Tom mengambil nyawanya.
Dalam pernyataan untuk Henry Tucker, orang tua Henry menyebut putra mereka didiagnosis autisme, tetapi sebenarnya memiliki kondisi neurologis yang dapat diobati dengan antibiotik. Mereka mengatakan: “The realisation that his suffering and his death could have been prevented is a weight that is impossible to bear.”
Mereka menambahkan: “The death of a children under these circumstance is a heavy burden to carry for the rest of our lives.” “We will carry it however with Henry’s blessings until we meet again. We love you Henry,” ujar mereka.
Norson Harris, ayah Ashleigh Harris, turut membacakan pernyataan langsung di pengadilan. Ia menilai situasi kematian putrinya “incredibly tough to bear” dan menyebut semua pihak seharusnya bisa mencegah. Harris mengatakan bahwa Kenneth Law menjual bahan kimia yang kemudian digunakan Ashleigh untuk mengakhiri hidupnya.
Ia juga menyampaikan harapan agar Law suatu saat menyadari jawaban atas kematian Ashleigh dan banyak orang lain yang sempat menjangkau. “I still hope over time Mr Law will recognise the answer to Ashleigh and the myriad of others who reached out to him should have been that they were loved and there was help available to them.”
Sidang juga memuat kesaksian Stephen Mitchell Sr mengenai putranya, Stephen Mitchell Jr, yang meninggal pada 25 Maret 2023. Ia berkata bahwa putranya saat itu sakit dan membutuhkan pertolongan, dan ia telah berupaya sebaik mungkin untuk menghadirkan bantuan tersebut. “Mr Law robbed my son of that chance to be well,” ujarnya.
Mitchell Sr kemudian berbicara langsung kepada Law di ruang sidang, termasuk kemungkinan adanya momen penyesalan atau keputusasaan singkat selama masa penahanan. Ia mengungkap bahwa pikiran serupa—bahwa hidup terasa tidak berarti—adalah pemikiran yang ia yakini pernah ada pada putranya sebelum mengonsumsi bahan kimia yang dijual Law.
Selanjutnya, Sandra Scott, ibu dari Amara Scott yang meninggal pada 9 Februari 2022 saat berusia 25 tahun, menyampaikan bahwa keluarganya berupaya membantu Amara melewati krisis kesehatan mental. Scott mengatakan upaya tersebut terhenti ketika dalam keadaan paling rentan, Amara melakukan kontak dengan terdakwa.
“The day I and her friends found Amara, and the way that she died – it broke my heart. “It was a blessing and an honour to be Amara’s mother,” kata Scott. Ia menutup kesaksiannya dengan menegaskan rasa hormat yang tersisa dari peristiwa itu.
Rangkaian sidang vonis masih terus berlanjut.












