jurnalistik.co.id – Enam minggu terakhir penugasan panjang USS Abraham Lincoln menjadi sorotan setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menyatakan bahwa delapan pelaut dalam kelompok tempurnya mencoba bunuh diri. Keterangan itu disampaikan melalui surat yang dibahas di level politik di Washington.
Dalam surat kepada Senator Kirsten Gillibrand dari New York, Sekjen Angkatan Laut ad interim Hung Cao menjelaskan responsnya atas pertanyaan dari senator dari Partai Demokrat mengenai kondisi dan kesejahteraan para pelaut di kapal. Gelombang keprihatinan ikut menguat setelah keluarga pelaut menyampaikan alarm tentang memburuknya kesehatan mental dan suasana yang dinilai berat.
Kapal induk tersebut telah dikerahkan sejak November tahun lalu dan kini sedang dalam proses kembali ke Amerika Serikat. Kasus yang diungkap menyasar delapan orang kru yang tercatat melakukan upaya bunuh diri selama masa penugasan.
Hung Cao menegaskan ketersediaan dukungan di kapal, termasuk lima kapelan dan tenaga profesional kesehatan mental untuk membantu pemenuhan kebutuhan rohani serta emosional kru. Ia menyebut dukungan itu ditujukan untuk memenuhi “the “spiritual and emotional needs of the crew”.
Menurut surat itu, jumlah delapan pelaut yang mengalami peristiwa tersebut mencakup “the Lincoln crew and sailors from the carrier airwing, strike group and destroyer squadron staff, escorting destroyers and all embarked aviation squadrons”. Dengan kata lain, cakupannya tidak hanya personel kru kapal induk, tetapi juga mereka yang berada pada unit udara kapal, kelompok serang, serta staf skuadron perusak.
Angkatan Laut sebelumnya mengakui ada tantangan logistik selama penugasan kapal. Namun, pihak Angkatan Laut menolak gagasan bahwa tengah terjadi krisis kesehatan mental di USS Abraham Lincoln yang memiliki sekitar 5.000 personel.
Berita Terkait
Dalam surat kepada Gillibrand, Cao kembali menyampaikan penilaian yang menolak berbagai kekhawatiran yang meluas terkait kondisi fisik kapal. Ia menyebut tidak ada pembenaran untuk kekhawatiran yang menyeluruh mengenai kerusakan pipa serta kekurangan makanan segar.
Meski demikian, Cao mengakui adanya kendala yang sifatnya sementara. Ia menyebut terjadi “localized piping failures” serta masalah pada unit desalinasi air laut reverse osmosis yang digunakan untuk mengolah air.
Aspek lain yang turut disinggung berkaitan dengan penyajian makanan selama masa tertentu. Cao menyatakan bahwa “main entree options” untuk waktu yang singkat berkurang dari dua pilihan menjadi satu pilihan, sebagai bagian dari pembatasan yang terjadi selama periode tersebut.
Pengungkapan ini datang setelah pihak-pihak yang peduli pada kondisi pelaut menyatakan bahwa situasi di atas kapal dipandang makin memprihatinkan. Surat tersebut juga menjadi jawaban atas pertanyaan senator terkait apakah dukungan yang tersedia cukup untuk mengatasi tekanan psikologis selama penugasan panjang.
Pada bulan Agustus, USS George Washington—juga sebuah kapal induk—dikirim untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Pergantian itu dilakukan setelah Lincoln menjalani penugasan selama sembilan bulan.
Dengan dipaparkannya informasi mengenai delapan pelaut, perhatian publik kembali diarahkan pada bagaimana Angkatan Laut memonitor kesehatan mental selama operasi, sekaligus bagaimana dukungan rohani dan layanan kesehatan mental disediakan di lingkungan kapal perang. Surat Cao memberi gambaran bahwa ada mekanisme pendampingan, sambil tetap mempertahankan penolakan atas klaim “krisis” yang dikaitkan dengan kondisi di USS Abraham Lincoln.
Sementara itu, proses kembalinya USS Abraham Lincoln ke Amerika Serikat menandai berakhirnya masa dikerahkan dalam penugasan yang panjang. Kasus upaya bunuh diri yang dilaporkan menjadi elemen yang paling serius dari rangkaian kekhawatiran mengenai kesejahteraan personel di sepanjang perjalanan.












