Teknologi

Harga Ponsel Melejit, Penjualan Model Baru di Sentra HP Turun

×

Harga Ponsel Melejit, Penjualan Model Baru di Sentra HP Turun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Penjualan di Pusat Ponsel Melambat Efek Lonjakan Harga Perangkat - Teknologi

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Harga rata-rata perangkat smartphone di pasar Indonesia mengalami kenaikan sepanjang 2026. Kenaikan ini dikaitkan pedagang dengan krisis chip yang berlangsung di berbagai belahan dunia.

Di banyak titik penjualan, para pedagang menyebut saat ini makin sulit menemukan ponsel dengan kisaran harga di bawah Rp2 juta. Mereka juga melihat lonjakan makin menonjol dalam beberapa bulan terakhir.

Seorang pedagang di ITC Kuningan, Asep Saputra, mengatakan kenaikan harga mulai terasa sejak awal 2026. Menurutnya, pada fase berikutnya perubahan harga berjalan lebih cepat dan lebih terasa di etalase.

“Android sekarang yang Rp1,5 juta sudah nggak ada. Sekarang paling Rp2 jutaan, Rp2,2 juta,” ujar Asep saat ditemui pada Kamis (24/9/2026).

Asep menjelaskan perubahan yang paling terlihat terjadi pada segmen harga menengah ke bawah, di mana ketersediaan perangkat dengan harga lama semakin berkurang. Ia menilai kondisi itu membuat pilihan konsumen menyempit pada batas anggaran tertentu.

Kenaikan juga tidak berhenti pada satu merek atau ekosistem perangkat. Ia mencontohkan harga iPhone 17 base model yang sebelumnya berada di kisaran Rp17 juta kini mendekati Rp20 juta.

Perubahan harga tersebut, kata Asep, semakin terasa memasuki periode Agustus hingga September 2026. Pada masa itu, ia melihat pembaruan harga yang dilakukan mengikuti dinamika pasokan dan biaya perangkat.

Dalam catatan pedagang, kenaikan harga rata-rata perangkat ponsel dapat mencapai 10-20% sepanjang 2026. Perubahan ini kemudian merembet ke pola belanja konsumen yang menjadi lebih selektif.

Dampak ke penjualan model baru

Selain memengaruhi biaya, kenaikan harga mulai berdampak pada permintaan pasar. Asep mengakui penjualan produk baru cenderung melambat karena konsumen mempertimbangkan harga yang kian tinggi.

Ketika harga perangkat makin naik, sebagian pembeli memilih menunda keputusan atau mencari opsi lain yang lebih sesuai dengan daya beli. Perubahan sikap itu membuat perputaran stok model terbaru menjadi tidak secepat sebelumnya.

Atas kondisi tersebut, konsumen juga disebut mulai beralih untuk mencari perangkat bekas. Peralihan minat ini membuat segmen penjualan model baru kehilangan sebagian momentum.

Pedagang memandang perpindahan ke ponsel second merupakan respons praktis terhadap kenaikan biaya perangkat. Dengan demikian, transaksi tidak hilang sepenuhnya, tetapi bergeser ke kategori yang dianggap lebih terjangkau.

Dengan lonjakan harga yang berulang mengikuti dinamika chip global, pasar pun menghadapi fase penyesuaian. Hingga saat ini, Asep menilai tantangan utama masih pada ketersediaan perangkat dengan level harga lama dan kemampuan konsumen untuk menyesuaikan anggaran.

Situasi ini menggambarkan bagaimana faktor rantai pasok global dapat berujung pada perubahan perilaku belanja di tingkat pusat perdagangan. Ketika harga bergerak, penjualan model baru ikut merespons lebih lambat dibanding periode sebelum kenaikan.

Di ruang etalase, perubahan harga ini juga terlihat dari cara pedagang menata pilihan. Ketika perangkat di level biaya lama makin sulit didapat, variasi di rak ikut menyusut. Akibatnya, pembeli tidak hanya berhadapan dengan angka baru, tetapi juga dengan pilihan yang lebih terbatas sesuai rentang anggaran yang mereka pegang sejak awal.

Pedagang juga mencatat bahwa pembaruan harga tidak selalu mengikuti satu pola tetap, melainkan mengikuti kondisi pasokan dan biaya perangkat yang ikut bergerak. Pada titik tertentu, lonjakan menjadi lebih cepat dibanding periode sebelumnya, sehingga pelaku usaha harus menyesuaikan informasi yang mereka berikan kepada calon pembeli. Kondisi ini membuat konsumen lebih berhati-hati sebelum memutuskan pembelian.

Selain mendorong minat pada perangkat bekas, kenaikan harga turut mengubah ritme transaksi untuk perangkat baru. Model terbaru tidak langsung terserap secepat sebelumnya karena sebagian orang memilih menunggu waktu yang lebih sesuai atau mencari opsi yang terasa lebih realistis untuk dibeli. Dengan demikian, alur belanja tetap berjalan, tetapi bergeser mengikuti ketersediaan perangkat pada harga yang dianggap masih masuk kemampuan.