jurnalistik.co.id – Daniel Thomas kembali ditahan setelah pengajuan jaminannya ditolak saat sidang di Crown Court, Portsmouth. Penolakan itu terkait tuduhan kerusakan perahu di Selat Inggris.
Thomas—yang oleh pendukungnya dikenal dengan sebutan “Danny Tommo”—hadir melalui videolink di Portsmouth Crown Court. Di persidangan, ia menghadapi dakwaan terkait peristiwa pemotongan pada sebuah perahu kecil yang diduga digunakan untuk penyeberangan para migran.
Usia Thomas disebut 37 tahun. Pada persidangan sebelumnya, alamatnya tidak diungkap karena keputusan pengadilan, sehingga identitas tempat tinggalnya tidak dibuka ke publik.
Dalam sidang kali ini, Thomas mengenakan kaus abu-abu serta membawa sebuah salinan kitab suci. Meski demikian, ia tidak memasukkan pengakuan (plea) saat pemeriksaan berlangsung.
Namun, pada sidang sebelumnya di Basingstoke Magistrates’ Court, Thomas menyatakan tidak bersalah untuk dua dakwaan yang dihadapi. Dakwaan-dakwaan itu kemudian dibawa ke tahapan Crown Court.
Berita yang menjadi dasar perkara ini berawal dari video yang muncul dan diduga menampilkan Thomas sedang menyayat perahu menggunakan pisau. Proses hukum memperlakukan dugaan itu sebagai tindak “criminal damage”.
Selain tuduhan tersebut, Thomas juga didakwa gagal menyerahkan PIN ponselnya. Keberatan terkait kewajiban keterbukaan PIN itu menjadi poin tambahan dalam perkara yang sekarang masih berjalan.
Pengadilan menetapkan Thomas tetap ditahan dengan status reman (remanded in custody). Bersamaan dengan itu, pengadilan juga menetapkan tanggal persidangan sementara pada 1 Maret.
Tim pembela, yang diwakili Simon Pentol KC, sebelumnya mengajukan opsi selain penahanan lanjutan. Ia menyampaikan bahwa terdapat “package of bail conditions” sebagai alternatif agar Thomas tidak tetap mendekam dalam tahanan.
Berita Terkait
Pihak pembela juga menggambarkan tuduhan terhadap kliennya sebagai sesuatu yang “politically charged and fundamentally flawed”. Menurut argumen tersebut, substansi dugaan yang dipersoalkan dinilai tidak berdasar secara fundamental dan memiliki nuansa politis.
Meski demikian, hakim yang memutus permohonan jaminan menyatakan tidak akan mempertimbangkan motif atau isu politik saat mengambil keputusan. Hakim James Newton-Price KC mengatakan: “I am not concerned with the political issues or motivations in this matter and I put them aside in deciding this matter.”
Atas keputusan tersebut, sejumlah pendukung berkumpul di luar ruang sidang untuk mengikuti hasil pemeriksaan. Di dalam proses persidangan, Thomas tetap berhadapan dengan dakwaan yang dianggap berkaitan dengan tindakan terhadap perahu yang sedang berada di laut.
Di persidangan, jaksa menjelaskan bahwa Thomas diduga memanfaatkan platform media sosial untuk melakukan siaran langsung dari lokasi kejadian di Selat Inggris. Pengadilan mendengar bahwa siaran dilakukan sekitar pukul 16:30 BST pada 22 September dan disaksikan oleh audiens yang besar.
Dugaan yang disebut dalam persidangan menyatakan bahwa Thomas menyayat sebuah perahu yang digunakan oleh migran. Perahu itu disebut sedang mengapung (adrift) di laut, sementara seorang anggota kru penyelamat berada di atas kapal.
Selain tindakan yang diklaim dalam video, pengadilan juga mendengar adanya kalimat yang diduga diucapkan Thomas saat siaran langsung. Dua kutipan yang disebut adalah: “this is what needs to happen” dan “this is England, this isn’t France any more”.
Dengan rangkaian penjelasan tersebut, permohonan jaminan ditolak. Keputusan pengadilan berarti Thomas tidak memperoleh kebebasan bersyarat pada tahap ini dan harus menunggu proses berikutnya di bawah status tahanan.
Tahap lanjutan akan dimulai menuju tanggal persidangan yang telah ditetapkan. Penetapan 1 Maret menjadi tenggat penting bagi proses pembuktian atas kedua dakwaan yang saat ini menempel pada Thomas.
Perkara ini terus menjadi sorotan karena menyangkut dugaan tindakan terhadap perahu yang berhubungan dengan migrasi, sekaligus penggunaan video dan siaran langsung sebagai elemen yang disebut dalam persidangan. Di sisi lain, pihak pembela berupaya menegaskan bahwa penilaian pengadilan harus berfokus pada aspek hukum ketimbang isu yang dianggap politis.
Sementara proses berjalan, status Thomas tetap dalam tahanan hingga pengadilan menentukan langkah berikutnya. Penolakan jaminan juga menandai bahwa hakim memilih mempertahankan kontrol pengadilan terhadap terdakwa sampai pemeriksaan perkara memasuki tahap yang lebih substantif.












