jurnalistik.co.id – FIFA menuduh UEFA menjalankan “misinformation campaign” dalam upaya memengaruhi kontestasi kampanye presiden organisasi sepak bola dunia tersebut. Keberatan itu disampaikan melalui dokumen pengadilan terbaru yang diajukan FIFA.
Menurut FIFA, UEFA tidak hanya membawa sengketa ke jalur hukum, tetapi juga memasukkan narasi yang dinilai keliru untuk menggiring opini menjelang pemilihan. FIFA menyebut materi yang diajukan UEFA berisi banyak pernyataan yang “false or misleading”.
Belakangan, UEFA mengajukan dokumen hukum di Amerika Serikat pada bulan lalu, meminta pengungkapan bukti dan berkas dari FIFA. Dalam pengajuan tersebut, UEFA juga memberi peringatan bahwa organisasi itu berpotensi mengajukan keluhan pidana ke Swiss.
Dalam dokumen yang sama, UEFA menyasar Presiden FIFA Gianni Infantino. UEFA menuduh Infantino melakukan “criminal mismanagement” serta mempromosikan “a fraudulently off-market price” yang dinilai menguntungkan dirinya, terkait skema yang kini telah dihentikan, yakni Fifa Forward Enterprise (FFE).
FIFA menanggapi langkah UEFA dalam berkasnya pada Senin malam. FIFA menyatakan bahwa pengajuan UEFA memuat “numerous false or misleading statements about Fifa and Infantino”.
FIFA secara spesifik menolak anggapan bahwa Infantino berniat mengambil keuntungan pribadi dari proposal FFE. FIFA menulis bahwa tidak ada dasar sedikit pun bagi klaim tersebut, menyatakan bahwa UEFA “with no basis whatsoever” menuduh Infantino mencari profit personal lewat proposal FFE.
Selain itu, FIFA juga menolak bagian yang menyebut Infantino melanggar hukum atau prinsip etik. Dalam penolakan tersebut, FIFA menyebut bahwa tuduhan UEFA “categorically without merit”.
FIFA juga menilai ruang lingkup permintaan UEFA terlalu luas. FIFA menggambarkan berkas UEFA sebagai “farcically overbroad”, seraya menambahkan bahwa pengadilan di wilayah tersebut menolak aplikasi serupa dalam perkara lain.
Berita Terkait
BBC Sport melaporkan bahwa organisasi tersebut telah menghubungi UEFA untuk mendapatkan tanggapan. Namun, dalam artikel tersebut belum ada komentar resmi lanjutan dari pihak UEFA.
Di luar dokumen pengadilan, artikel juga mengutip bahwa kalangan internal meyakini FIFA seharusnya menyerahkan dokumen bila tidak ada informasi yang hendak disembunyikan. Harapannya, keterbukaan itu dapat membantu mempercepat proses hukum.
UEFA diketahui memimpin perlawanan terhadap Infantino. Presiden FIFA itu tengah menghadapi desakan agar mundur, yang datang dari tiga konfederasi sepak bola. Di tengah tekanan tersebut, konflik mengenai FFE menjadi salah satu titik pusat pertentangan.
Skema FFE dan dampaknya
FFE yang sempat diajukan oleh FIFA menawarkan penjualan kepemilikan saham dalam Piala Dunia dan kompetisi-kompetisi lain kepada investor swasta. Skema ini memicu gelombang penolakan yang besar di kalangan berbagai pihak.
Infantino kemudian menghadapi desakan untuk mengundurkan diri. Ia membantah kritik tersebut dengan menyatakan bahwa proyek itu dimaksudkan untuk menghasilkan uang tambahan bagi permainan sepak bola.
Pada awal bulan ini, Debbie Hewitt—yang menjabat sebagai ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (Football Association) sekaligus wakil presiden FIFA—meminta Infantino merilis seluruh dokumen yang berkaitan dengan rencana yang kontroversial tersebut. Hewitt juga menyerukan adanya peninjauan independen atas FFE.
Untuk agenda pemilihan, Infantino dijadwalkan maju untuk pemilihan presiden FIFA untuk keempat kalinya pada Maret 2027. Dalam jadwal tersebut, pihak penantang diberi batas waktu hingga 18 November untuk mencari kandidat pengganti.
Dengan demikian, sengketa terbaru melalui dokumen pengadilan menempatkan klaim “misinformation campaign” sebagai salah satu eskalasi penting di tengah pertarungan menuju pemilihan. Di saat yang sama, penolakan FIFA terhadap tuduhan pelanggaran hukum maupun prinsip etik menjadi bagian sentral dari strategi jawab mereka di meja persidangan.












