Hukum & Kriminal

Simon Levy dari Tottenham Divonis Penjara Seumur Hidup atas Pembunuhan Dua Perempuan dan Pemerkosaan

×

Simon Levy dari Tottenham Divonis Penjara Seumur Hidup atas Pembunuhan Dua Perempuan dan Pemerkosaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Murderer and serial sex offender Simon Levy given whole life jail sentence

jurnalistik.co.id – Simon Levy, 40, warga Tottenham, dijatuhi whole life order atau seumur hidup di penjara setelah dinyatakan bersalah membunuh dua perempuan dan memperkosa seorang perempuan lainnya. Vonis itu diputuskan di Old Bailey pada hari Rabu, setelah pengadilan mendengar rangkaian serangan yang dilakukan secara seksual dan berujung pada kematian.

Hakim Mark Lucraft KC menyatakan Levy tidak akan pernah dibebaskan. Dalam pertimbangannya, hakim menekankan bahwa perkara ini tidak masuk kategori “borderline case”, melainkan memenuhi syarat untuk penetapan “whole life order” karena faktor pemberat jauh mengungguli faktor yang meringankan.

Vonis tersebut hadir setelah polisi dan Crown Prosecution Service (CPS) menyampaikan permintaan maaf atas sejumlah keputusan yang dinilai berdampak buruk, sehingga Levy tetap dapat beraktivitas di jalanan. Saat serangkaian serangan terjadi, Levy berada dalam status dibebaskan dengan jaminan (bail) dan dipantau oleh pihak Met Police.

Majelis juga menyebut adanya pemeriksaan oleh pengawas kepolisian terkait bagaimana penanganan kasus Levy selama empat tahun. Peninjauan tersebut berlangsung dari vonis pertamanya pada September 2021 untuk tindak penyerangan seksual, hingga penangkapan terakhir pada September 2025.

Sejumlah fakta kunci dalam putusan menunjukkan bahwa Levy membunuh Carmenza Valencia-Trujillo (53) pada Maret 2025, lalu lima bulan kemudian membunuh Sheryl Wilkins (39). Sebelum kematian Wilkins, pengadilan mendengar Levy juga memperkosa seorang perempuan lain pada tahun yang sama di tempat parkir mobil di Tottenham—lokasi yang kemudian menjadi tempat tubuh Wilkins ditemukan.

Carmenza Valencia-Trujillo ditemukan di sebuah kompleks hunian yang sebagian besar ditinggalkan, di Aylesbury estate, wilayah tenggara London. Sementara itu, Wilkins ditemukan berada di balik dinding area parkir dekat Tottenham High Road, di London utara.

Terkait pemerkosaan terhadap perempuan ketiga, pengadilan mendengar bahwa perempuan tersebut telah memberi tahu polisi lokasi tempat tinggal pelaku, namun ia baru diwawancarai secara formal setelah Levy membunuh kedua korban. Dalam persidangan, pengadilan menyimpulkan bahwa kedua pembunuhan dilakukan melalui serangan bermotif seksual.

Dalam pidato penjatuhan vonis, Lucraft menyatakan, “You are clearly someone who ruthlessly exploits others for your own personal sexual satisfaction”. Hakim juga menyoroti riwayat internet dan kumpulan guntingan pers tentang kejahatan seksual yang dimiliki Levy, sehingga Lucraft menyebutnya, “someone who appears to have a morbid fascination with sex, rape, and crime”.

Hakim menambahkan bahwa tindak pidana yang dilakukan Levy mencerminkan “a series of attacks by you upon vulnerable women”. Lucraft menegaskan keputusannya dengan mengaitkan prinsip bahwa whole life terms adalah hukuman yang semestinya dipertimbangkan untuk kasus-kasus yang jarang, namun pada perkara ini ia menilai fitur pemberatnya dominan.

Lucraft juga menyampaikan, “You will be in prison for life and there will be a whole life order,” serta menekankan bahwa ia “acutely aware that whole life terms are sentences that should be considered for rare cases”. Menurut hakim, “the starting point has to be a whole life order,” dan “this cannot be described in any way as a borderline case”.

Setelah putusan, Sir Mark Rowley, Komisaris Met Police, menyebut penanganan perkara Levy sebagai “whole system failing”. Ia menyoroti problem yang dianggap tidak dapat diterima ketika sistem peradilan yang “struggling” justru membuat pelaku berbahaya tetap berada di luar penahanan, sehingga polisi hanya dapat memantau dari jarak jauh.

Rowley menyampaikan bahwa Met telah meminta maaf atas bagiannya. Ia menyatakan, “The concerning aspect for me is the fact he had been caught, he had been charged with offences,” lalu menambahkan, “He was repeatedly put by police before the courts seeking he be remanded in custody, saying this man is too dangerous to be on the streets, and between the CPS and the courts, they kept bailing him.”

Menurut Rowley, tidaklah “not acceptable” jika sistem yang masih kesulitan justru melepaskan pelaku berbahaya ke jalanan agar dipantau polisi. Ia juga menilai ada terlalu banyak kasus serupa yang terjadi “day in and day out”, termasuk “knife carrier sex offenders who have been bailed” padahal beberapa tahun sebelumnya mereka seharusnya ditahan (remanded in custody).

Di ruang sidang, hakim juga mendengarkan pernyataan dampak (victim impact statements) dari keluarga korban yang dibunuh dan perempuan yang diperkosa. Lindsey Hicks, saudara perempuan Wilkins, berbicara langsung kepada Levy dengan mengatakan, “I hope you rot in prison for the rest of your life.”

Hicks menambahkan, “You, Simon Levy, have destroyed our lives and we will never get over this. Sheryl was a beautiful soul who you cruelly took away in an evil act of crime.” Ia juga menyampaikan harapannya yang tak lagi mungkin terwujud: “We should have been growing old together like sisters do and be there to support each other.”

Dalam pernyataannya, Hicks mengungkap perubahan kehidupan keluarga, “Instead, I’m having to realise that one day in the near future I will be older than my big sister.” Ia menyebut tahun terakhir sebagai “the worst of our lives” dan menutup kesaksiannya dengan, “Know this, you lose.”

Mary Wilkins, ibu Wilkins, menyampaikan bahwa ia memperoleh “small measure of comfort” karena Levy kini dikurung dan tidak akan pernah bebas lagi. Ia menyatakan putrinya “ended your chances of hurting anyone else”.

Di persidangan, juri juga mendengar bahwa Levy memiliki rangkaian catatan hukuman untuk menyerang perempuan yang dimulai sejak Juli 2018, termasuk insiden terhadap seorang petugas penjara pada 2022. Pada tahun ini, Levy juga dinyatakan bersalah karena melakukan tindak penyerangan seksual terhadap 11 perempuan lainnya, dengan 10 kejadian terjadi di kereta dan Underground (Tube) di London selama periode 2023 hingga 2025.

Levy menolak memberikan kesaksian di persidangan, namun mengajukan pledoi tidak bersalah atas dua dakwaan pembunuhan serta dua dakwaan pemerkosaan. Ia juga menyangkal dakwaan grievous bodily harm with intent dan non-fatal suffocation terkait terhadap perempuan yang masih hidup.

Mayor of London, Sir Sadiq Khan, menyampaikan bahwa Carmenza Valencia-Trujillo, Wilkins, dan para korban lain “deserved a system that believed and protected them”. Ia menambahkan, “Time and time again, opportunities to stop him were missed,” serta menyatakan rasa kaget atas kejahatan Levy dan kegagalan lintas lembaga yang dianggap dapat mencegah serangan, termasuk pembunuhan lebih banyak perempuan.

Khan menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh: “I am appalled by his crimes and the failures across multiple agencies that could have prevented him from harming, and ultimately killing, more women.” Ia juga mengatakan, “The multi-agency failings need a multi-agency review” dan menyebut bahwa pelajaran harus dipetik lalu dijalankan. Mayor menutup dengan pernyataan, “No woman or girl should be, or feel, unsafe in London”.

Dalam sebuah surat kepada direktur penuntut umum (director of public prosecution), Nick Timothy—shadow justice secretary—menulis, “Levy was free to do this partly because your organisation failed to make the case for this sexual predator to be put back behind bars, in spite of warnings from others.”

Former safeguarding minister Jess Phillips juga menyampaikan kepada BBC bahwa ada “a litany of failures”. Ia mengatakan kepada Radio 4, “Of course it was Levy who undertook that action, but the state could definitely have prevented it so it has to bear that responsibility,” lalu menambahkan, “an idiot could have seen that [Levy was a risk]”.

Dengan demikian, vonis whole life order tersebut bukan hanya menutup proses hukum atas kejahatan Levy, tetapi juga menempatkan sorotan pada cara sistem peradilan dan kepolisian bekerja dalam menahan atau menempatkan pelaku berisiko di balik jeruji sejak awal.