jurnalistik.co.id – Simon Levy (49) dijatuhi hukuman seumur hidup setelah membunuh dua perempuan dan memperkosa satu penyintas. Di pengadilan, keluarga korban dan penyintas menyampaikan kecaman keras, termasuk kutukan agar ia “rot in prison”.
Vonis itu dijatuhkan pada hari Rabu oleh pengadilan, setelah Levy terbukti melakukan kejahatan saat statusnya masih berada di bawah jaminan (bail) untuk rangkaian dugaan serangan seksual lainnya. Hakim menilai tindakannya menunjukkan pola eksploitasi terhadap orang lain demi kepuasan seksual pribadi.
Keluarga dua perempuan yang dibunuh—serta seorang penyintas perkosaan—menghadapkan Levy ke persidangan. Salah satu penyintas dari serangan tersebut mengatakan Levy “not worthy” atas kata-katanya atau waktunya lagi, di tengah duka yang belum reda.
Menurut laporan persidangan, Lindsey Hicks, kakak dari Sheryl Wilkins, muncul dengan mata berkaca-kaca saat menceritakan kehilangan yang dialaminya. Ia menyampaikan kalimat yang menggambarkan rasa hancur dan keyakinannya bahwa Levy tidak pantas kembali mengganggu kehidupan siapa pun.
“There will never be enough words to express how I feel since losing my big sister Sheryl. “You, Simon Levy, have destroyed our lives and we will never get over this.”
Hicks juga mengatakan keluarganya berharap bisa menua bersama seperti layaknya saudara perempuan, namun kenyataannya harus menghadapi bahwa Sheryl tidak lagi hadir. Ia menegaskan bahwa masa depan yang seharusnya dinikmati Sheryl kini dirampas oleh kejahatan.
“We should have been growing old together like sisters do and be there to support each other. Instead, I’m having to realise that one day in the near future I will be older than my big sister. “We hope you spend the rest of your miserable life behind bars and we get justice for Sheryl. This last year has been the worst year of our lives; the pain you have put us through has been unbearable. Sheryl’s life was taken unlawfully and violently.”
Berbicara langsung kepada Levy yang berada di kandang pesakitan sambil mengenakan kacamata untuk kondisi pada matanya, Hicks menyatakan bahwa keluarganya tetap akan melanjutkan hidup dengan menjaga ingatan tentang Sheryl. Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar Levy menjalani sisa hidupnya di penjara.
“Know this, you lose. We get to leave here today knowing we will keep Sheryl alive by sharing memories about her and living for her. “We will continue to live as a loving family through our loss, supporting each other. You don’t get to take that away. I hope you rot in prison for the rest of your life.”
Selain Hicks, Mary Wilkins, ibu Sheryl, menyampaikan keyakinan bahwa kematian anaknya pada Agustus 2025 menjadi titik akhir atas kejahatan Levy. Dalam pernyataan yang dibacakan oleh jaksa penuntut junior Kerry Broome, ia menekankan bahwa Levy telah merampas kesempatan untuk menyakiti orang lain.
“Our Sheryl has ended your chances of hurting anyone else, she lost her life to do this but we truly believe Sheryl has saved countless women. “You took away our beautiful daughter Sheryl. She was a mother, a sister, a daughter, a friend and a beloved family member. She had four beautiful children.”
Mary Wilkins menuturkan bahwa Sheryl diambil tepat sehari sebelum menginjak usia 40 tahun. Ia menggambarkan rencana hidup Sheryl—yang seharusnya dipenuhi harapan dan kedekatan keluarga—berubah menjadi kehampaan akibat tindakan Levy.
“Sheryl was taken from us one day before her 40th birthday, she had so many hopes and dreams. She should’ve celebrated her 40th birthday, she should’ve grown old with us, instead all of that was taken away.”
Ia menilai dampak kejahatan ini tidak berhenti pada kematian Sheryl, melainkan merusak masa depan anak-anaknya sebagai sebuah keluarga. Mary Wilkins juga menegaskan bahwa cinta mereka terhadap Sheryl tidak akan hilang meski putus asa datang dalam bentuk duka yang berkepanjangan.
“Sheryl’s children had been robbed not only of their mother but their future with her. This was the destruction of a life, a family and a future. “Sheryl’s life mattered, Simon you have changed our lives forever but you cannot take away our love for Sheryl. “We will continue to talk about her, we will continue to remember her.”
Berita Terkait
Persidangan memuat rincian mengenai dua pembunuhan yang dilakukan Levy. Ia disebut membunuh Carmenza Valencia-Trujillo (53) pada Maret 2025, yang ditemukan di sebuah blok apartemen yang sebagian besar ditinggalkan di wilayah Aylesbury, London tenggara.
Pembunuhan kedua menimpa Sheryl Wilkins. Ia ditemukan di belakang sebuah tembok pagar area parkir dekat Tottenham High Road, London utara. Dalam kasus itu, penyerangan seksual yang dialami korban terjadi di tempat yang sama, yakni di area parkir tersebut.
Dalam proses persidangan, terungkap bahwa serangan perkosaan dilakukan ketika korban berada di tempat yang sama, namun petugas kepolisian baru melakukan wawancara mengenai Levy setelah dua pembunuhan terjadi. Pernyataan di persidangan menyoroti bahwa korban sebelumnya sempat memberi tahu pihak kepolisian lokasi tempat tinggal pelaku.
Proses persidangan juga menyinggung kesaksian dari Nazly Johana Fuenmayor Valencia, anak perempuan Carmenza Valencia-Trujillo. Ia mengatakan bahwa ibunya datang ke Inggris untuk memberi keluarganya kehidupan yang lebih baik.
“There’s an emptiness that can’t be filled. I have been ripped apart… we will never be the same again,” katanya di pengadilan. Ia menambahkan bahwa Carmenza adalah sosok yang sangat spesial dan memberi begitu banyak kasih sayang kepada orang lain.
“She was a truly special person who gave so much love to others. Her kindness, her smile and the love she shared so freely will stay with us forever.”
Nazly menggambarkan hidup mereka seperti mimpi buruk yang tak bisa diakhiri. Ia menyatakan keluarganya tidak memahami alasan mengapa ibu mereka harus diambil, dan ia menegaskan bahwa sisa hidup mereka tidak akan sama lagi.
“We have been living a nightmare we cannot wake up from. We don’t know why she was taken from us. The rest of our lives will never be the same. “My mum came to this country to give her children a better life and for safety. Instead her life was taken so cruelly.”
Kesaksian dari penyintas lain juga menjadi sorotan. Penyintas yang mengalami perkosaan oleh Levy pada Januari 2025 menyatakan bahwa ia tidak bisa melupakan bau yang ia rasakan ketika Levy menyerangnya.
Dalam pernyataan yang dibacakan oleh jaksa, ia menyampaikan bahwa kejahatan tersebut merampas harga dirinya dan membuatnya merasa seakan dirinya “taken advantage of” sepanjang hidup. Ia juga mengatakan ia tidak dapat melupakan bau tangan pelaku yang berkeringat menempel di mulutnya, hingga ia sempat berpikir bahwa ia akan mati.
“He took away my soul that night and he took away my dignity. He took my soul like a parasite. “I feel like people have taken advantage of me all my life. I can’t forget the smell of his sweaty hands on my mouth. I thought I would die.”
Ia menuturkan bahwa proses untuk kembali percaya pada orang lain membutuhkan waktu lama. Ia hanya bisa mempercayai sejumlah kecil teman yang ia anggap aman, sekaligus menyatakan keinginannya untuk berusaha melupakan pelaku.
“It’s taken me a long time to trust people, I can trust a small number of friends. “I want to try to forget this monster. This man is a parasite not worthy of any more of my words or time.”
Menanggapi keseluruhan perkara, hakim Mark Lucraft KC—Recorder of London—menjatuhkan hukuman “whole life prison term”. Dalam arahannya, hakim mengatakan bahwa Levy secara jelas mengeksploitasi orang lain tanpa belas kasihan demi kepuasan seksual pribadi, serta memiliki ketertarikan yang “morbid” terhadap seks, pemerkosaan, dan kejahatan.
“You are clearly someone who ruthlessly exploits others for your own personal sexual satisfaction. “You are someone who appears to have a morbid fascination with sex, rape and crime.”
Vonis seumur hidup ini, sebagaimana disampaikan keluarga dan penyintas, dipandang sebagai titik keadilan setelah rangkaian kejahatan yang menimbulkan luka mendalam. Dalam kesaksian mereka, kata-kata kutukan seperti “parasite” dan “rot in prison” berulang sebagai penegasan bahwa keluarga korban dan penyintas menolak siapa pun mengalami nasib serupa.












