jurnalistik.co.id – Kepala Kepolisian Metropolitan (Met) Sir Mark Rowley menyatakan kesalahannya dalam penanganan kasus Simon Levy, namun menegaskan penyelidikan yang dilakukan terkait pembunuhan pertama tidak bisa dinilai sebagai upaya yang “tak mengejar” perkara.
Menurut Rowley, perdebatan publik justru perlu lebih “better informed”, karena menurutnya fakta di lapangan jauh lebih rumit dibanding yang selama ini beredar.
Rowley mengakui bahwa Met telah melakukan kekeliruan dalam sejumlah langkah terkait Levy. Meski begitu, ia membantah anggapan bahwa kepolisian tidak membangun perkara setelah pembunuhan pertamanya, yang dikaitkan dengan kritik yang juga datang dari politisi Partai Buruh Jess Phillips.
Dalam wawancara dengan BBC Radio 4’s Today programme, Rowley menyebut bahwa penyidik telah bekerja “serious”, tetapi pada titik tertentu penegakan hukum tidak memiliki bukti yang cukup untuk mengajukan dakwaan.
Ia menilai keputusan untuk tidak langsung membawa kasus itu ke proses penuntutan saat itu karena bukti yang tersedia “didn’t have enough evidence” untuk membuat tuntutan.
Levy saat itu berada di masa penahanan dengan jaminan (on bail) dan dipantau oleh pihak kepolisian ketika ia membunuh Carmenza Valencia-Trujillo pada Maret 2025. Lima bulan kemudian, ia melakukan pembunuhan kedua terhadap Sheryl Wilkins.
Selain dua pembunuhan tersebut, Levy juga melakukan pemerkosaan dengan kekerasan terhadap seorang perempuan ketiga.
Rowley mengatakan bahwa ia telah menyampaikan permintaan maaf atas bagian yang salah dari Met. Pernyataan itu muncul setelah vonis terhadap Levy dibacakan pada sidang di Old Bailey, di mana Levy dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa kemungkinan bebas, atau whole life prison sentence.
Dengan vonis tersebut, Levy dipastikan tidak akan pernah dilepaskan.
Perdebatan soal apakah Met “mencoba” menyusun perkara
Setelah vonis Levy, muncul pemberitaan bahwa Met tidak mengklasifikasikan kematian Valencia-Trujillo pada Maret 2025 sebagai pembunuhan, serta baru menyerahkan penanganan perkara itu kepada penyidik spesialis pembunuhan setelah Levy kembali melakukan tindakan pembunuhan.
Rowley merespons informasi itu dengan nada yang tegas. Ia menilai, simpulan bahwa Met tidak “try on that case” adalah klaim yang tidak sesuai.
“So the inference that the Met didn’t try on that case is just not true, the Met tried,” ujar Rowley.
Ia menambahkan bahwa publik perlu memahami adanya batasan fakta yang lebih kompleks. Menurutnya, meski kematian Valencia-Trujillo “clearly very suspicious and concerning”, pemeriksaan medis tidak mampu memastikan penyebab kematian.
Rowley lalu menyatakan bahwa Met pada saat itu “didn’t have enough evidence to get to a charge”, sehingga jalan untuk membuat dakwaan berbeda dari anggapan bahwa kepolisian tidak berupaya sama sekali.
Rowley juga mengaitkan perubahan posisi penyelidikan dengan rangkaian peristiwa berikutnya. Ia mengatakan, barulah setelah pembunuhan Sheryl Wilkins, Met memiliki “combined evidence” yang membuat mereka bisa melangkah lebih jauh.
Ia menilai, ketika dua peristiwa itu dibaca dalam konteks bukti yang terkumpul, maka motif dan arah penyidikan tidak berdiri sendiri pada kejadian pertama saja.
Dalam bagian lain, Rowley menekankan kegagalan yang melibatkan pihak di luar kepolisian. Ia menyoroti keputusan layanan penjara (prison service) yang menurutnya turut berkontribusi.
“[Levy] was released on licence by the prison service having sexually assaulted in prison one its people. I don’t understand that decision either.”
Rowley menegaskan bahwa akuntabilitas dipandang serius oleh Met. Namun, menurutnya, “the rest of the system is not doing that”.
“We take our accountability seriously, the rest of the system is not doing that,” katanya dalam acara tersebut.
Berita Terkait
Permintaan maaf, pemeriksaan independen, dan rentang waktu penanganan
Perhatian publik terhadap kasus ini juga dipicu oleh serangkaian keputusan yang membuat Levy tetap bebas menyerang, meski ia telah dinyatakan sebagai pelaku yang pernah melakukan kejahatan seks. Pihak kepolisian dan Crown Prosecution Service (CPS) telah meminta maaf atas rangkaian keputusan tersebut.
Sementara itu, Independent Office for Police Conduct (IOPC) sedang memeriksa bagaimana Levy, yang berusia 40 tahun, dikelola selama periode empat tahun sejak vonis pertamanya pada September 2021 terkait penyerangan seksual hingga penangkapannya yang terakhir pada September 2025.
Pemeriksaan itu mencakup evaluasi langkah-langkah manajemen kasus dan proses tindak lanjut sejak vonis awal, hingga akhirnya Levy ditangkap kembali sebelum vonis seumur hidup dijatuhkan.
Rowley sendiri, dalam sidang tersebut, menggambarkan kasus ini sebagai “whole system failing”.
Kritik dari Jess Phillips dan Mina Smallman
Pernyataan Rowley turut menanggapi kritik yang datang dari sejumlah pihak. Jess Phillips, mantan menteri yang membidangi perlindungan (safeguarding), mengatakan pembunuhan kedua Levy “could have been avoided had the state not failed”.
Phillips juga menyebut kasus itu menampilkan “a litany of failures”. Kritik tersebut kemudian disuarakan pula oleh Mina Smallman, ibu dari Nicole Smallman (27) dan Bibaa Henry (46), yang dibunuh dengan cara ditikam di taman London pada Juni 2020.
Dalam Today programme, Smallman menegaskan bahwa pihaknya memandang penanganan kasus tersebut menimbulkan kegagalan berulang. Ia juga mengingatkan bagaimana Met sempat dikritik atas penanganan perkara saat itu.
Dalam kasus Nicole Smallman dan Bibaa Henry, dua mantan personel Met kemudian dipenjara karena membagikan foto jenazah kedua saudari tersebut dalam grup WhatsApp.
Smallman menambahkan penilaiannya terkait bagaimana masyarakat dan aparat memperlakukan korban tertentu. Ia menyatakan bahwa Valencia-Trujillo melakukan pekerjaan seks, sehingga ia menilai korban tidak “taken seriously” oleh pihak kepolisian.
“Once again the Met is deciding who matters. Both those women’s lives were important to their families,” kata Smallman.
Smallman mengatakan ia sempat menghubungi Sir Mark Rowley setelah membaca kasus ini. Ia menyebut bahwa ia mengirim pesan yang intinya mempertanyakan seberapa sering Rowley harus tampil mempublikkan permintaan maaf atas kegagalan Met.
“After reading this case, I sent a text message to Sir Mark and said to him ‘how many times are you going to stand up publicly and apologise for failures in the Met?’. It becomes a joke,” ujarnya.
Meski ia menilai Rowley ingin melakukan perubahan, Smallman tetap menyampaikan bahwa Met dinilai terlalu besar untuk dibenahi dengan sumber daya yang ada. Menurutnya, “we’re asking them to do too much”, dan “The whole system is struggling”.
Kondisi sumber daya Met dan jumlah pelaku yang dipantau
Rowley juga menyinggung isu investasi sistemik dalam penegakan hukum. Ia menyampaikan bahwa perubahan tidak cukup hanya dilakukan di internal kepolisian, melainkan juga dipengaruhi kebijakan yang berlangsung.
“This is a systemic disinvestment by successive governments,” katanya, menjelaskan bahwa masalahnya bersifat struktural.
Dalam penilaiannya, Met saat ini memiliki personel sekitar 4,000 orang lebih sedikit dibanding empat tahun sebelumnya. Namun, jumlah pelaku kejahatan seks yang terdaftar dan dipantau di ibu kota justru mencapai 10,800 orang.
Ia menyebut angka itu “is growing by 100 every three months”, sehingga beban pengawasan meningkat meski kapasitas institusi menurun.
Dalam konteks itulah Rowley mempertahankan garis penjelasannya: Met mengakui kesalahan, menilai penyelidikan telah “serious” dan diarahkan oleh bukti yang tersedia, sekaligus menegaskan bahwa simpulan publik tentang “ketiadaan upaya” pada pembunuhan pertama tidak sesuai dengan proses yang mereka lakukan.












