jurnalistik.co.id – Kekhawatiran makin menguat menyusul kondisi USS Abraham Lincoln, yang dikerahkan sejak 11 Desember dalam konteks perang antara AS dan Iran. Kapal induk itu kini disebut-sebut mengalami tekanan yang berlarut pada logistik maupun kesehatan mental personelnya.
Seorang veteran Angkatan Laut, Jonny Burnell, pernah merasakan rutinitas panjang di atas kapal perang saat bertugas sebagai fotografer kapal. Ia menghabiskan 111 hari di USS Vinson selama perang AS di Afghanistan pada 2001, dan perannya memungkinkannya berpindah serta mengunjungi kru di berbagai bagian kapal, berbeda dengan banyak pelaut lain yang umumnya terikat pada area kerja mereka.
Dalam pengalaman Burnell, perubahan emosi kru berlangsung pelan namun nyata. Ia melihat momen ketika energi dan antusiasme mulai pudar hingga muncul “sadness” yang ia gambarkan. Burnell mengatakan ada titik ketika terlihat “deadness” di mata rekan-rekan satu tim.
Ia menuturkan, “There was one point where there was a visible kind of deadness in the shipmates’ eyes”, lalu menambahkan bahwa bagian tersulit pekerjaannya adalah menyaksikan “watching the sadness in people’s faces every frickin’ day.” Bagi Burnell, kelelahan bukan sekadar isu sementara, melainkan sesuatu yang dapat menumpuk setiap hari.
Dalam laporan yang ia sampaikan kepada BBC, Burnell membandingkan masa penugasan yang dialaminya dengan durasi yang kini harus dijalani kru Lincoln. Menurut konteks yang diberitakan, penugasan Lincoln disebut sudah lebih lama dari yang pernah ia jalani di Vinson. Kekhawatiran itu muncul ketika sejumlah pemberitaan menyebut adanya masalah serius di kapal tersebut.
Keluhan di lapangan, bantahan resmi, dan kegelisahan keluarga
Dua publikasi AS yang memberitakan kondisi militer disebut menggarisbawahi persoalan seperti food shortages, broken plumbing, dan exhaustion di USS Lincoln. Keluarga personel yang berada di atas kapal juga dikabarkan menyampaikan kekhawatiran bahwa kondisi mental mereka mengalami penurunan, bahkan ada laporan bahwa beberapa pelaut mencoba melompat ke laut.
Namun, pejabat militer disebut membantah adanya persoalan berat yang diderita kapal itu. Beberapa veteran juga menilai cerita yang beredar di media dibesar-besarkan. Retired Navy Lt Commander Steve Rogers, Direktur Association of the United States Navy (AUSN), menyatakan laporan di media “largely inaccurate” dan menyebutnya “99% hype”.
Rogers mengaku berbicara dengan pihak keluarga kru Lincoln sebagai bagian dari pekerjaannya di AUSN, sebuah organisasi nirlaba yang membantu anggota dinas Angkatan Laut AS. Ia mengatakan kekhawatiran keluarga ketika anggota bertugas di zona perang adalah hal yang normal, dan menurutnya pasukan telah dipersiapkan dengan baik untuk kondisi yang mereka hadapi.
Dalam wawancara dengan BBC, seorang anggota keluarga dari kru Lincoln juga menyampaikan bahwa keluarganya kehilangan 65lbs (29kg) dan mengalami kelelahan karena kebisingan serta getaran yang terus-menerus. Detail itu menegaskan bagaimana beban fisik dapat berdampak pada kondisi harian seseorang di kapal.
Ketika ditanya mengenai situasi di kapal itu pada hari Jumat, Donald Trump menolak laporan tersebut dengan mengatakan bahwa penggelaran “not nearly long enough”. Sementara itu, pada hari Minggu, Kepala US Central Command—yang menaungi operasi di Timur Tengah—merilis pernyataan bahwa dari 11 aircraft carrier aktif militer AS, Lincoln saat ini berada di antara yang memiliki jumlah kasus terkait mental health paling rendah.
Admiral Brad Cooper menambahkan, “This doesn’t mean all is perfect.” Ia menegaskan bahwa “service at sea for long periods isn’t for everyone,” seraya menyebut mental health sebagai bagian dari kesehatan yang memerlukan perhatian sebagaimana kesehatan fisik dan kesehatan spiritual. Pernyataan itu menempatkan diskusi bukan hanya pada kondisi material, tetapi juga pada cara perang berpengaruh pada psikologis personel.
Suara kebisingan, keterbatasan ruang, dan isolasi yang memperpanjang beban
Burnell menyampaikan pandangan lain dari pengalamannya. Ia mengatakan banyak anggota kru di kapal seperti Lincoln tidak mendapat kesempatan mengunjungi dek teratas karena tuntutan tugas di bagian bawah. Akibatnya, sebagian personel bisa menjalani waktu lama tanpa melihat langit secara langsung.
Burnell juga mengangkat contoh dari rekan di USS Vinson yang ia gambarkan sebagai “floating prison.” Menurut cerita Burnell, rekan itu berusaha keras agar dipindahkan, termasuk menjual drugs dan memulai “underground rave club.” Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana sebagian orang mencari jalan untuk mengatasi tekanan lewat cara-cara yang ekstrem.
Di tempat tidur kecil Burnell, yang oleh personel disebut “coffin racks”, ia mengatakan tidak ada ruang untuk menoleh. Ia juga menambahkan bahwa kabel yang digunakan untuk menangkap dan memperlambat pesawat saat mendarat berada tepat di belakang kepalanya. Ia menggambarkan suasana: “It was just non-stop noise. The ship is just always loud.”
Berita Terkait
Burnell melanjutkan bahwa pesawat terus mendarat atau lepas landas dan tembakan meriam terus terdengar. Ia menekankan bahwa kebisingan bukan kejadian sesekali, melainkan ritme yang berlangsung tanpa jeda. Dalam situasi seperti itu, ketahanan psikologis bisa diuji dari hari ke hari.
Meski demikian, keadaan terbaru di Lincoln masih disebut belum sepenuhnya jelas. Tim dari CNN dikabarkan mengunjungi kapal tersebut bulan lalu dan tidak menemukan masalah luas selama tiga hari berada di atas kapal. Beberapa personel menyebut adanya kewajiban merasion food dan mengalami penurunan berat badan “over many months”, tetapi ketika CNN masuk pada 7 Juli, outlet itu melaporkan “food was plentiful.”
Menurut pemberitaan tersebut, shower juga disebut terasa hot, meskipun ada tanda-tanda mould. Sementara itu, AS juga dikabarkan menyiapkan battleship lain untuk menggantikan peran Lincoln, yaitu USS George Washington, yang diperkirakan tiba di Timur Tengah dalam sekitar satu minggu. Kapal pengganti itu disebut memiliki riwayat tantangan mental health tersendiri.
Pada 2022, terjadi serangkaian bunuh diri di USS George Washington saat kapal itu masih merapat di port di Virginia. Insiden itu memicu investigasi oleh pemeriksa militer. Laporan yang dirilis pada Mei 2023 menyimpulkan bahwa kematian tidak disebabkan oleh satu masalah tunggal, melainkan merupakan hasil dari beberapa persoalan yang berkaitan dengan poor living conditions. Laporan tersebut menyebut, “let our standards slip – and in doing so we let our people down.”
Di tengah kebosanan, kewaspadaan ekstrem, dan risiko psikologis
Dr Harold Kudler, mantan kepala kebijakan mental health untuk Veterans Administration (VA), mengatakan persoalan ini telah dipelajari pemerintah AS selama bertahun-tahun. Ia menjelaskan bahwa isolasi sebagai bagian dari kehidupan di kapal, lalu diikuti momen kebosanan berkepanjangan yang diselingi “extreme alertness”, dapat memperkuat kesulitan mental.
Kudler menyampaikan, “You don’t know where the front is,” menggambarkan situasi di atas USS Lincoln. Ia menambahkan, “Especially in this kind of asynchronistic war that we’re seeing.” Menurutnya, kondisi ini dapat terasa membebani baik bagi personel yang berpangkat enlisted maupun perwira.
Ia merangkum dampak yang mungkin dialami dalam kalimat: “You’re isolated. You don’t know exactly what’s going to happen. You’re not even sure what the mission is anymore. And you don’t know when you’re going to come home.” Pernyataan itu menyoroti ketidakpastian sebagai faktor yang dapat memperpanjang stres.
Dalam Perang Dunia II, militer disebut pernah membuat film pelatihan untuk membantu prajurit yang berpotensi menghadapi “combat irritability”. Film tersebut menampilkan seorang pelaut yang berada di bawah dek, bertugas mengawasi mesin di ruang yang tertutup dan sepi, sementara perang berlangsung di luar. Kudler mengatakan, “He can’t see the enemy. He doesn’t know what’s going on topside. His job is to watch the two gauges in the engine room.”
Tujuan film itu adalah menunjukkan bahwa personel yang tidak langsung menembakkan senjata tetap berada dalam tekanan besar. Kudler menegaskan mereka mengalami “under tremendous stress, high alertness and subject to exhaustion.”
Dalam kajian VA, Kudler menyatakan bahwa melalui riset bertahun-tahun, personel dinas dan veteran memiliki risiko bunuh diri 50% lebih tinggi dibanding populasi umum. Ia menambahkan tantangan militer adalah membuat setiap prajurit dan pelaut merasa sebagai bagian penting dari misi, sambil tetap mengakui monotoninya sebagai “cog” dalam sistem yang lebih besar.
Untuk melawan isolasi dan kebosanan, Kudler menyebut personel kadang melakukan aktivitas menyenangkan di atas kapal, seperti singing competitions dan picnics di top deck. Ia mendukung seruan dari Demokrat di Kongres untuk membuka investigasi mengenai kondisi di USS Lincoln dan bagaimana situasi itu bisa berkembang sampai titik ini.
Rogers dari AUSN memiliki pandangan berbeda namun tetap menempatkan isu psikologis sebagai hal yang nyata. Ia pernah bertugas berminggu-minggu di kapal-kapal Angkatan Laut yang lebih kecil dan menyebut persoalan depresi serta kebosanan merupakan sesuatu yang bisa ditemui di antara jajaran militer. “We’re all human beings. We all go through difficult times.”
Rogers menyalahkan media karena menyebarkan informasi yang ia anggap salah, yang disebutnya “absolutely outrageous”. Ia mengaku marah karena dampak yang timbul pada moral personel dan keluarga mereka. Menurutnya, prajurit dapat merasa bosan atau cemas, tetapi kapal-kapal memiliki chaplains dan mental health counsellors, sehingga personel dipandang telah dipersiapkan menghadapi stres tersebut.
Ia juga menilai pembicaraan tentang pelaut yang mempertimbangkan untuk melompat ke luar kapal sebagai hal yang dibesar-besarkan. Rogers mengingat lelucon yang pernah muncul di era ketika ia bertugas di atas aircraft carrier, dengan menyebut, “I remember one guy said, ‘I wish I could parachute outta here,’” dan menegaskan itu ia anggap sebagai “locker room talk”.
Pada akhirnya, diskusi mengenai USS Abraham Lincoln memperlihatkan dua sisi: ada keluhan yang disampaikan berbagai pihak, namun juga ada bantahan resmi dan pandangan bahwa sebagian masalah dapat menjadi bagian dari realitas penugasan jarak jauh. Yang pasti, pengalaman panjang di atas kapal seperti yang diceritakan Burnell, serta penjelasan klinis dari Kudler, menggambarkan bahwa beban mental di lingkungan perang tidak bisa dipandang sebelah mata—baik dalam bentuk isolasi, kebisingan, maupun ketidakpastian misi.












