jurnalistik.co.id – Komandan militer Angkatan Laut Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah, Laksamana Muda (Adm) Brad Cooper, menegaskan bahwa kesehatan mental harus diperlakukan sebagai prioritas di atas kapal induk USS Lincoln.
Menurut Cooper, penegasan itu ia sampaikan setelah melakukan kunjungan ke USS Lincoln pada Sabtu. Ia menyatakan bahwa kapal tersebut memiliki “among the lowest number of cases related to mental health” dibandingkan 11 kapal induk aktif Angkatan Laut AS.
Meski demikian, Cooper juga mengakui tantangan yang khas bagi personel yang bertugas di laut dalam periode panjang. Ia menyebut pelayanan di tengah keterbatasan waktu dan lingkungan kerja sebagai sesuatu yang “uniquely challenging and tough”.
USS Lincoln mulai beroperasi di wilayah Timur Tengah pada Januari. Kapal induk tersebut mendukung operasi AS dalam melawan Iran, termasuk pelaksanaan blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dalam penugasan ini, kapal dilaporkan mencapai rekor waktu bertahan yang tidak terputus di laut, yakni lebih dari 240 hari. Kondisi serupa juga disebut memicu kekhawatiran berkelanjutan, seiring lamanya keberadaan kapal di kawasan tersebut.
Di sisi lain, keluarga para pelaut yang bertugas di Lincoln menyampaikan keprihatinan bahwa kesehatan mental sejumlah awak memburuk akibat kondisi selama penempatan yang panjang. Beberapa pelaut disebut pernah mencoba melompat ke laut, sebagai indikasi tekanan yang dialami.
Dalam pernyataan pada Minggu, Cooper menekankan hubungan antara kesehatan mental dan kesehatan individu secara menyeluruh. Ia mengatakan, “I’ve long believed that mental health is another aspect of individual health and requires our attention just like physical health and spiritual health. “I applaud Lincoln’s leadership for… stepping up and making mental health and crew resilience a leadership priority.””
Berita Terkait
Namun, klaim adanya krisis kesehatan mental di USS Lincoln dibantah oleh pihak Angkatan Laut AS. Pada pekan sebelumnya, Angkatan Laut mengakui adanya tantangan pasokan, tetapi menyatakan tidak terjadi krisis kesehatan mental di kapal tersebut, yang menampung sekitar 5.000 orang.
Garis bantahan itu juga disuarakan oleh pejabat pemerintah. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut laporan kondisi yang beredar sebagai “completely misrepresented”, sementara Presiden Donald Trump menolak anggapan bahwa durasi penempatan terlalu lama.
Trump, menurut pemberitaan, mengatakan kepada wartawan pada Jumat, “Not nearly long enough”. Ia menilai masa penugasan yang diperpanjang masih belum cukup, meskipun penempatan awalnya direncanakan berakhir pada Mei.
Dengan demikian, perdebatan berkembang antara penekanan Cooper soal kebutuhan perhatian pada kesehatan mental dan respons resmi yang menolak label krisis. Di tengah fakta bahwa USS Lincoln telah menjalani penugasan panjang di laut, perhatian pada ketahanan awak menjadi isu yang menonjol dalam pembacaan publik atas operasi tersebut.
Sampai laporan ini ditulis, penugasan kapal disebut terus diperpanjang berulang kali dari rencana semula. Kombinasi lamanya waktu di laut, tantangan operasional, serta kekhawatiran keluarga awak membuat isu kesehatan mental tetap berada di pusat perhatian ketika kapal menjalankan tugasnya di wilayah konflik.
Cooper juga menyoroti bahwa perhatian pada kondisi psikologis bukan hanya soal respons ketika masalah muncul, melainkan bagian dari cara pimpinan membangun kesiapan kru. Ia menempatkan pesan itu dalam konteks perbandingan dengan kapal induk lain yang aktif di kawasan, sekaligus menyebut bahwa penanganan kesehatan mental perlu mendapat perhatian setara dengan faktor fisik maupun aspek rohani.
Di tengah perbedaan versi tersebut, polemik di ruang publik makin menajam karena lama penempatan yang disebut telah melampaui rencana awal, serta munculnya kesaksian dari pihak keluarga yang menggambarkan tekanan yang dirasakan awak. Sementara itu, pihak Angkatan Laut AS dan pejabat pemerintah mempertahankan narasi bahwa tidak ada “krisis”, meski mengakui adanya tantangan operasional. Perbenturan pandangan ini kemudian membentuk diskursus yang menempatkan ketahanan kru dan kelayakan durasi penugasan sebagai isu utama.












