jurnalistik.co.id – Hobi menonton film horor memang sering jadi pilihan hiburan yang memacu adrenalin. Namun, kebiasaan itu juga kerap memunculkan pertanyaan: apakah sensasi menakutkan bisa berdampak pada kesehatan mental, terutama bila dilakukan terlalu sering?
Menurut penjelasan para pakar kesehatan jiwa yang dikutip dari Real Simple, efek yang muncul dapat berbeda-beda pada tiap orang. Perbedaan respons ini sangat dipengaruhi oleh cara otak dan tubuh memproses ketidakpastian saat menonton, serta bagaimana seseorang “membawa” pengalaman tersebut setelah film selesai.
Di satu sisi, ada orang yang justru mencari kepuasan dari sensasi horor. Psikolog klinis sekaligus pendiri dan CEO di KMN Psych, Max Doshay, PsyD, menyebut ada keseruan yang dicari penonton ketika film menghadirkan ketakutan.
“Sebagian orang melihat film horor sebagai sarana untuk mencari keseruan, meluapkan emosi, serta merasakan ketakutan dan memacu adrenalin dengan aman,” jelas Doshay.
Bagi sebagian orang, ketegangan yang tercipta bisa terasa seperti pelepasan. Mereka merasa emosi yang muncul bisa “ditumpahkan” dengan aman, sementara sensasi ketakutan tetap berada dalam kendali karena konteks menonton dipahami sebagai hiburan.
Tetapi ada pula catatan penting untuk penonton yang mudah terbawa perasaan. Doshay mengatakan kelompok ini bisa mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi, bahkan sampai sulit tidur.
“Atau merasakan stres yang meningkat akibat menonton jenis film ini,” tutur Doshay.
Dalam kondisi seperti ini, film horor tidak lagi berhenti sebagai tontonan semata, tetapi berpotensi mengganggu kualitas istirahat. Dampaknya dapat terlihat dari meningkatnya kecemasan, termasuk kemunculan mimpi buruk yang membuat waktu tidur terasa lebih berat.
Selain faktor individu, lingkungan tempat menonton disebut turut menentukan. Psikiater forensik dan profesor di Case Western Reserve University, Susan Hatters-Friedman, MD, menjelaskan bahwa rasa aman di dunia nyata membantu otak menikmati kengerian yang bersifat fiktif.
“Rasa takut yang memang kita harapkan saat menonton film horor dapat memicu pelepasan adrenalin. Hal ini memunculkan lonjakan energi dan pancaindra yang lebih tajam. Rasanya sangat mendasar, bahkan evolusioner,” paparnya.
Berita Terkait
Hatters-Friedman menekankan bahwa ketakutan di dalam film tidak sama dengan ancaman nyata. Saat penonton merasa terlindungi oleh situasi sekeliling—misalnya berada di bioskop atau rumah—pikiran dapat tetap menempatkan adegan horor sebagai pengalaman yang aman.
Saat bersantai bersama orang terdekat, penonton juga lebih mudah mengingat bahwa yang ditakuti bukan realitas di hadapan mereka. “Kita menonton film horor dengan aman di bioskop atau di sofa rumah, bersama teman maupun orang terkasih. Kita juga berjarak dengan karakternya. Saat terlalu takut, kita mengingatkan diri sendiri bahwa itu tidak nyata dan mereka cuma berakting,” tambah Hatters-Friedman.
Menurutnya, kunci dari pengalaman menonton horor adalah jarak psikologis tersebut. Penonton menyadari bahwa ia tidak berada dalam posisi karakter, meskipun ia ikut merasakan sensasi menegangkan di layar.
“Jika sebagai penonton kita melihat diri kita pada mereka, kita menjadi partisipan yang lebih aktif dan berpikir, ‘Apa yang akan kulakukan kalau itu aku? Siapa yang bisa kupercaya di situasi ini?’. Semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa kita sudah familier dengan alur yang mungkin akan muncul,” ujarnya.
Kesadaran bahwa cerita berjalan sesuai pola yang sudah dipahami—tanpa risiko nyata—dapat memunculkan rasa kendali. Dengan begitu, rasa takut yang muncul justru terasa seperti pengalaman berpetualang, bukan ancaman.
Hatters-Friedman menggambarkan sensasinya mirip wahana yang seram namun tetap terkontrol. “Semua ini dapat membangun rasa kendali atas pengalaman menakutkan. Kita merasa berpetualang, tetapi sebenarnya tidak ada bahaya nyata. Sensasinya mirip seperti naik wahana halilintar yang menyeramkan, ada rasa takut dan seru yang memang diharapkan, lalu diikuti oleh rasa kendali penuh,” imbuhnya.
Meski demikian, efek yang bersifat sementara tetap dapat muncul setelah menonton. Doshay menjelaskan bahwa reaksi seperti tegang, kaget mendadak, atau emosi yang tidak menentu merupakan hal yang lazim terjadi.
“Reaksi saat menonton film seram seperti merasa tegang, tiba-tiba kaget, atau emosi yang tak menentu adalah hal lumrah. Pada kebanyakan orang, hal tersebut tidak memicu masalah psikologis atau kesehatan mental jangka panjang,” terang Doshay.
Artinya, ketidaknyamanan yang muncul seusai menonton tidak otomatis berarti ada kerusakan serius. Bagi sebagian besar penonton, respons tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring berjalannya waktu setelah film selesai.
Namun, bagi mereka yang rentan mengalami kecemasan lebih tinggi, penting untuk memberi perhatian pada pola respons pribadi. Jika kebiasaan menonton horor mulai mengganggu tidur, meningkatkan stres, atau membuat mimpi buruk sering muncul, seseorang sebaiknya menilai ulang intensitas dan kebiasaan tersebut.












