jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menegaskan pentingnya hubungan Inggris–Uni Eropa dalam pembicaraan bilateral pertamanya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Downing Street.
Dalam pertemuan Kamis pagi, keduanya berjabat tangan dan berpose untuk foto bersama para istri mereka sebelum melanjutkan diskusi tertutup di luar 10 Downing Street.
Burnham menyebut kunjungan Macron sebagai momen yang “so fitting”, karena Macron menjadi kunjungan luar negeri pertama ke Downing Street sejak Burnham resmi menjadi perdana menteri pada Juli.
Ia menggambarkan Macron sebagai “our nearest neighbour and close friend Emmanuel”, sekaligus menempatkan pertemuan ini dalam konteks kolaborasi lintaswilayah yang saling berdekatan.
Di hadapan pers, Burnham mengatakan, “It shows what collaboration can achieve, just as we are also showing on Ukraine, on small boats, and also on strengthening the UK-EU relationship. So I look forward to discussing those themes further with you today,”.
Pembahasan itu mencakup sejumlah “shared challenges”, termasuk meningkatnya arus penyelundupan melalui “mega dinghies” yang menyeberang dari Kanal Inggris secara ilegal.
Kepada publik, Burnham menekankan bahwa kerja sama bersama tetap diperlukan, khususnya ketika ukuran kapal yang digunakan penyelundup cenderung membesar dan membawa lebih banyak orang dalam setiap perjalanan.
Isu kapal “mega dinghies” dan tanggapan kebijakan
Menurut laporan yang dikaitkan dengan perbincangan kedua pemimpin, tantangan paling mendesak di tengah pembahasan itu adalah lonjakan kapal besar ilegal yang belakangan mendapat perhatian setelah muncul lebih awal pada Agustus.
Pada periode tersebut, tercatat sebuah kapal sepanjang 15 meter membawa rekor 230 migran menuju Inggris, yang kemudian mendorong pengawasan dan langkah penegakan di sisi Kanal Inggris.
Diskusi di Downing Street juga tersambung dengan narasi politik di Inggris: Partai Konservatif menilai pemerintah gagal “smash the gangs” yang selama ini dikaitkan dengan jaringan penyelundupan.
Meski demikian, musim panas disebut mengalami perbaikan karena total kedatangan menggunakan kapal kecil secara keseluruhan turun ke level terendah dalam tujuh tahun, namun masalah “mega dinghies” tetap menjadi sorotan.
Antara 1 Januari hingga 1 September 2026, total 16.513 orang menyeberang Kanal Inggris dengan kapal kecil dari Prancis, turun 43% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Berita Terkait
Sejak 2020, penyeberangan dengan kapal kecil menjadi cara paling umum ketika orang terdeteksi memasuki Inggris secara ilegal, dan hampir seluruh yang datang dengan cara ini mengajukan permohonan suaka.
Dalam rentang Juli 2025 hingga Juni 2026, kedatangan menggunakan kapal kecil menyumbang 40% dari seluruh permohonan suaka, dan pada periode 2 September 2025 hingga 1 September 2026, setiap kapal membawa rata-rata 68 orang—lebih dari dua kali lipat dibanding sejak 2021.
Para ahli memperingatkan bahwa kepadatan di dalam kapal membuat upaya penyeberangan menjadi lebih berisiko, sementara data Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut setidaknya 84 orang meninggal saat mencoba menyeberang pada 2024.
Dalam konteks skala imigrasi, jumlah kedatangan dengan kapal kecil pada kisaran sekitar 5% dari ukuran total imigrasi ke Inggris dari Januari 2025 hingga Desember 2025.
Terkait komposisi asal, Eritrea disebut menyumbang 18% dari seluruh kedatangan dari Juli 2025 hingga Juni 2026, dan pada data terbaru Januari 2025 hingga Desember 2025, sedikitnya 2.335 orang yang datang dengan kapal kecil ditemukan sebagai calon korban perdagangan manusia atau bentuk perbudakan modern, menurut Home Office.
Sementara itu, sekitar 4.712 orang lainnya terdeteksi masuk ke Inggris tanpa izin melalui metode lain pada Juli 2025 hingga Juni 2026—misalnya bersembunyi di kendaraan, menaiki feri, atau lewat bandara—dan angka itu turun 17% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Di luar kedatangan ilegal, ada pula individu yang masuk secara legal, misalnya melalui visa kerja atau studi, lalu kemudian melebihi batas masa tinggal; namun jumlah pasti orang yang tetap tinggal secara ilegal setelah datang secara legal disebut tidak diketahui.
Dari kerja sama Eropa hingga langkah penegakan di Prancis
Downing Street menyampaikan rencana menambah 45 petugas polisi di pantai-pantai Prancis melalui “surge team” untuk menarget kapal-kapal yang lebih besar, dengan tujuan mengurangi risiko yang muncul akibat perubahan ukuran dan kapasitas kendaraan penyelundupan.
Menteri Dalam Negeri (Home Office) Anna Turley menyebut petugas tambahan itu merupakan “just part of the armoury” dari lebih dari 1.000 petugas di pantai utara Prancis yang kini melakukan “actual intervention” di perairan.
Turley mengatakan dalam program Today BBC Radio 4 bahwa video dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan petugas pergi ke perahu, “slashing them, pushing people back”, lalu berhadapan dengan serangan batu dan bata serta “coming under a lot of challenge” sehingga mereka tetap harus melakukan intervensi.
Dalam unggahan di X, Burnham menyatakan ia “do[ing] politics differently” dengan memaparkan data terbaru terkait kapal-kapal kecil, pengembalian, serta hotel suaka, dan menggambarkan jaringan penyelundup sebagai “shared European challenge”.
Sementara itu, Ketua Partai Konservatif Kemi Badenoch menyatakan ia menyambut kerja sama Eropa, tetapi menilai “but the boats aren’t stopping”, seraya menekankan Inggris telah mengeluarkan ratusan juta hingga, menurutnya, “if not billions”, membayar Prancis agar mengurus penjagaan perbatasan.
Di luar isu kanal, pertemuan Burnham dan Macron juga menyentuh konflik di Ukraina dan Timur Tengah, termasuk kerja sama pertahanan dan koordinasi dengan Uni Eropa.












