Internasional

Gloria Steinem dan Warisan Feminisme di Amerika

×

Gloria Steinem dan Warisan Feminisme di Amerika

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Gloria Steinem: An icon of American feminism

jurnalistik.co.id – Gloria Steinem dikenal sebagai ikon gerakan feminisme di Amerika. Sepanjang kariernya, ia menempuh berbagai peran yang ikut mengubah kehidupan banyak perempuan dari generasi ke generasi.

Perjuangannya tidak hanya terkait isu kesetaraan, tetapi juga mencakup kebijakan hukum dan ruang kebebasan pribadi. Ia menyuarakan legalisasi aborsi, pernikahan sesama jenis, serta hak dan upah setara bagi perempuan.

Steinem juga menggelar protes terhadap hukuman mati dan praktik sunat perempuan. Namun, kiprahnya mendapat respons beragam, dari penolakan hingga pelecehan yang bisa bernada vulgar sekaligus mengintimidasi.

Awal kehidupan yang tidak mudah

Gloria Steinem lahir pada 25 Maret 1934 di Toledo, Ohio. Masa kecilnya jauh dari kata mudah.

Ayahnya, Leo Steinem, bekerja sebagai pedagang keliling. Bersama ibu, Ruth, dan kakak perempuannya, Susanne, mereka berpindah-pindah di sebuah karavan, melintasi banyak wilayah.

Kehidupan berubah ketika Leo meninggalkan keluarga dan pindah ke California saat Steinem berusia 10 tahun. Pada kondisi itu, Steinem harus membantu merawat Ruth yang selama itu mengalami gangguan kesehatan mental dan kerap mengalami halusinasi yang mengerikan.

Akibatnya, ia tidak bisa mengikuti sekolah penuh waktu hingga usia 12 tahun. Belakangan, Steinem mengungkap bahwa ia bahkan tidak pernah benar-benar menginginkan anak karena, baginya, ia sudah “memiliki satu anak”—ibunya.

Di akhir 1950-an, ia berangkat ke India dengan beasiswa penelitian. Selama dua tahun di sana, ia menjalani beragam tugas, termasuk membantu perempuan-perempuan desa menyelenggarakan aksi protes non-kekerasan terhadap kebijakan pemerintah.

Pengalaman tersebut memicu ketertarikannya pada gerakan berbasis akar rumput. Setelah itu, Steinem meninggalkan India dan pindah ke New York City pada awal 1960-an untuk memulai karier sebagai penulis lepas.

Ia juga datang ke masa ketika ruang redaksi masih didominasi laki-laki, sehingga perempuan sulit mendapatkan cerita yang benar-benar “menggigit”.

Terobosan lewat liputan menyamar

Titik penting kariernya datang pada 1963. Steinem menyamar sebagai pelayan koktail dengan identitas “Playboy Bunny”, lalu menulis A Bunny’s Tale untuk Show magazine.

Paparan itu berisi pengungkapan tentang kenyataan penuh seksisme di balik “kerajaan” Hugh Hefner. Saat ia tiba untuk wawancara, seorang petugas keamanan langsung berteriak, “Here bunny, bunny, bunny.”

Ia memakai nama samaran, Marie, dan berbohong soal usia. Kepada Playboy, ia mengatakan berusia 24 tahun, padahal kenyataannya ia lebih tua empat tahun.

Dalam liputan tersebut, Steinem mengangkat kehidupan para Bunny yang dibayar di bawah standar. Ia juga menggambarkan rasa sakit fisik yang harus ditanggung saat mengenakan sepatu hak tinggi dan korset ketat selama berjam-jam.

Meski kemudian mendapat ketenaran dan juga cibiran, ia tetap kesulitan agar dipandang serius oleh para editor. Walau liputan Playboy membantunya memperoleh penugasan untuk The New York Times dan New York Magazine, banyak di antaranya justru berkisar pada stok perempuan dan gaya rambut terbaru.

Dalam wawancara dengan The New York Times pada 2016, ia berkata, “To this day when people don’t like me they introduce me as a former Bunny, as a put-down,” lalu menambahkan, “On the other hand, I did improve the working conditions for those women.”

Jurnalisme khusus perempuan dan lahirnya Ms. magazine

Meski menghadapi hambatan, Steinem terus bergerak. Pada 1968, ia menjadi kolumnis untuk New York Magazine, dengan fokus pada isu sosial progresif dan hak-hak perempuan.

Artikel After Black Power, Women’s Liberation—yang membuatnya meraih ketenaran nasional—kemudian menjadikannya wajah gerakan feminisme AS pada era 1970-an. Ia juga menceritakan bahwa ia sering dianggap terlalu “mengganggu” oleh lingkaran pria.

Dalam perbincangan kepada Rachel Cooke untuk The Guardian pada 2011, ia menyatakan, “I was the only woman, and after I wrote an abortion article, my [male] friends there said to me: ‘Don’t get involved with these crazy women. You’ve worked hard to be taken seriously,’”

Setelah merasa harus mengambil inisiatif sendiri, Steinem meluncurkan Ms. magazine pada 1972 bersama sekelompok aktivis feminis. Majalah ini merupakan terbitan pertama yang didirikan dan dijalankan oleh perempuan sepenuhnya.

Ms. magazine dirancang sebagai alternatif dari majalah perempuan lain yang umumnya menitikberatkan pada urusan rumah tangga dan mode. Kritik awal datang dari berbagai pihak, terutama laki-laki.

Pembawa berita Harry Reasoner bahkan menilai majalah itu hanya akan bertahan enam bulan, menyebutnya “before they run out of things to say”.

Meskipun begitu, edisi pertamanya ludes dalam waktu seminggu dan menghasilkan 26.000 pelanggan. Majalah tersebut hingga kini masih terbit.

Pada 1978, Steinem menulis salah satu esainya yang paling terkenal dan paling banyak dibaca, If Men Could Menstruate. Refleksi satirnya tentang kemungkinan perbedaan struktur kekuasaan politik dan ekonomi jika laki-laki mengalami menstruasi masih sering dirujuk dalam diskusi tentang peran gender.

Menjelang akhir kariernya, Steinem tumbuh menjadi penulis produktif yang juga meraih banyak penghargaan. Ia menulis berbagai buku, termasuk memoarnya sendiri, biografi tentang Marilyn Monroe, serta kumpulan kutipan terkenal yang judulnya berbunyi The Truth Will Set You Free, But First It Will Piss You Off.

Kampanye hak aborsi

Meski sudah dikenal sebagai aktivis feminisme paling terkenal di dunia, Steinem justru mulai mengambil peran advokasi pada usia yang relatif lebih matang. Ia melakukannya saat berada di tahun-tahun tiga puluhan.

Pada 1969, ketika menghadiri rapat umum tentang kesadaran aborsi, perempuan-perempuan saling berbagi pengalaman tentang aborsi. Dalam situasi itu, Steinem didorong untuk menceritakan kisahnya sendiri mengenai pengakhiran kehamilan.

Kejadian tersebut berlangsung bertahun-tahun sebelumnya di London, ketika ia berusia 22 tahun, tepat sebelum ia berangkat ke India. Saat itu, aborsi di Inggris tidak legal kecuali jika kesehatan mental atau fisik perempuan tersebut berada dalam bahaya.

Dokter yang menangani Steinem mengambil risiko besar. Ia mengatakan, “You must promise me two things. First, you will not tell anyone my name. Second, you will do what you want to do with your life.”

Hampir 60 tahun kemudian, Steinem memutus salah satu janjinya. Ia mendedikasikan memoarnya, My Life On The Road, untuk Dr John Sharpe.

Steinem menggambarkan momen ketika ia buka suara sebagai “light bulb moment”, yakni saat ia menyadari bahwa AS membutuhkan gerakan hak-hak perempuan yang lebih besar. Hampir seketika, ia menjadi tokoh penggerak yang gigih memperjuangkan hak aborsi, menyebutnya “reproductive freedom”.

Frasa yang ia ciptakan dikreditkan karena membuat topik tersebut lebih mudah didekati untuk pembahasan politik, dan hingga kini tetap dipakai dalam perdebatan aborsi.

Steinem juga menyelenggarakan aksi-aksi jalan untuk menarik perhatian publik. Dalam sejumlah demonstrasi, ia menjadi daya tarik tersendiri, meski kemudian ia mengakui bahwa berbicara dengan kerumunan besar terasa “utterly terrifying”.

ERA, gugatan politik, dan kesetaraan di ruang publik

Setelah Kongres gagal meloloskan Equal Rights Amendment (ERA) pada 1970, Steinem ikut menggagas langkah politik yang lebih terarah. ERA adalah aturan yang memberi hak setara perempuan dengan laki-laki.

Steinem turut mendirikan National Women’s Political Caucus bersama para pemimpin feminis lainnya serta lebih dari 300 perempuan di seluruh AS. Kelompok itu bekerja untuk memastikan perempuan terlibat dalam seluruh aspek kehidupan politik dan publik.

Pada tahun yang sama, ia bersaksi dalam sidang-sidang Senat terkait ERA. Ia menyampaikan kepada audiens yang didominasi laki-laki: “I have been refused service in public restaurants, ordered out of public gathering places and turned away from apartment rentals all for the clearly stated, sole reason that I am a woman.”

Gerakan feminisme gelombang kedua terus mendapatkan momentum, dan Steinem termasuk salah satu figur paling terkenal di dalamnya.

Kontroversi: dari tuduhan hingga pelecehan

Namun, Steinem tidak lepas dari kritik dari berbagai arah, baik dari kalangan kiri maupun kanan. Sebagian menyoroti penampilan, sementara yang lain menilai motifnya.

Ada yang mengatakan ia terlalu glamor untuk dianggap feminis sejati. Yang lain berpendapat ia sukses terutama karena penampilannya.

Betty Friedan, penulis The Feminine Mystique—buku yang dikaitkan dengan lahirnya feminisme gelombang kedua—mengaku kesal ketika Steinem menjadi wajah gerakan tersebut. Friedan menuduh Steinem “ripping off the movement for private profit” saat ia meluncurkan Ms.

Friedan juga mengkritik upaya media yang mendorong Steinem sebagai figur selebritas. Ia melontarkan protes, “The media were trying “to make her a celebrity,” fumed Friedan, “but no one should mistake her for a leader.”

Steinem bahkan menjadi bahan percakapan rahasia di tingkat pemerintahan. Presiden AS Richard Nixon tercatat sedang meluapkan kemarahan dalam percakapan yang bersifat rahasia terkait Steinem, dan Steinem menanggapi, “There is some opinion that Richard Nixon is the most sexually insecure chief of state since Napoleon”.

Al Goldstein, figur pornografi dan penerbit Screw magazine, melancarkan kampanye serangan. Ia memasang nomor telepon Steinem berdampingan dengan iklan palsu untuk oral sex.

Selain itu, ia mencetak gambar khas centrefold yang menampilkan perempuan mirip Steinem, lalu menggantungnya terbuka di etalase dekat kios koran di luar gedung kantor Ms. Steinem menyatakan ia harus melihatnya setiap hari.

Seiring bertambahnya usia, pelecehan dengan tingkat seperti itu menjadi lebih jarang. Namun, karena dikenal luas di New York City, ia juga tidak asing untuk dihentikan orang-orang di jalan yang ingin berdiskusi—kadang dengan nada permusuhan.

Sebaliknya, ia menyambut ruang perdebatan tersebut. Pada 2020, ia termasuk di antara sejumlah figur publik yang menandatangani surat terbuka mengecam cancel culture, karena dianggap melemahkan diskusi terbuka dengan cara “mematikan” orang lain.

Ia menyampaikan kepada The New York Times, “If you care about having the conversation, surely you want to try in a humane way to convince the other person, not do away with them,”

Menikah, hubungan, dan kutipan yang jadi rujukan

Steinem pernah melontarkan kalimat yang sering dikutip, “I can’t mate in captivity”. Ungkapan itu merujuk pada ketidaktertarikannya pada pernikahan.

Meski begitu, ia diketahui menikmati kehidupan kencan yang sehat bersama sejumlah pria kaya dan terkenal, sehingga kritik terhadapnya terus mendapatkan amunisi. Di antaranya adalah Frank Thomas, yang memimpin Ford Foundation; sutradara film Mike Nichols; serta Rafer Johnson, peraih medali decathlon asal Olimpiade—yang juga membantu menangani pria yang membunuh Robert F Kennedy pada 1968.

Dalam tulisannya, ia berkata, “I was the one always accused of using men, of being too sexual. Someone once sent me a cartoon of a tombstone that said ‘at last she sleeps alone’,”

Pada tahun 2000, saat berusia 66 tahun, Steinem menikah dengan David Bale. David Bale adalah pengusaha dan aktivis lingkungan asal Afrika Selatan, sekaligus ayah dari aktor Christian Bale.

Keputusan itu mengejutkan banyak pihak, bahkan membuat sebagian feminis merasa kecewa karena mereka selama ini mengikuti debat Steinem yang intens terkait hukum pernikahan. Steinem menyatakan bahwa aturan-aturan itu akhirnya berubah.

Ia menjelaskan, “If I had married when I was supposed to get married, I would have lost my name, my legal residence, my credit rating, many of my civil rights. That’s not true anymore. It’s possible to make an equal marriage,”

Steinem juga mengakui pernikahan itu sempat disebut sebagai “green card marriage” karena visa AS Bale akan segera berakhir. Namun, ia menegaskan bahwa mereka saling mencintai dan akan tetap bersama apa pun kondisinya.

David Bale kemudian meninggal dunia tiga tahun setelah pernikahan tersebut akibat brain lymphoma.