jurnalistik.co.id – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan sejumlah pernyataan saat berbicara di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti konflik Iran dengan Amerika Serikat.
Araghchi menegaskan bahwa negaranya secara konsisten menunjukkan komitmen terhadap hukum internasional dan diplomasi, meski menghadapi serangan dari AS dan Israel. Ia menyatakan posisi Iran tetap berangkat dari prinsip-prinsip tersebut dalam menghadapi situasi yang terus memanas.
Dari podium Sidang Majelis Umum PBB, Araghchi menyampaikan kritiknya terhadap langkah yang menurutnya diambil oleh Washington. Ia mengatakan bahwa “Amerika Serikat memilih jalan yang sebaliknya: agresi, ancaman, pembunuhan, perang ekonomi, serta pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB,” ujar Araghchi.
Ia kemudian memaparkan dampak yang disebutnya sebagai akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran. Menurut Araghchi, serangan-serangan tersebut diarahkan pada berbagai lokasi sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, fasilitas olahraga, serta infrastruktur transportasi.
Dalam penjelasan lanjutan, Araghchi menyebut bahwa serangan AS–Israel secara keseluruhan telah menewaskan lebih dari 5.000 orang. Ia menambahkan bahwa korban juga mencakup ratusan perempuan dan anak-anak.
Upaya Membalikkan Peran Korban dan Agresor
Araghchi juga menyinggung cara pandang yang, menurutnya, coba dibangun oleh pihak lawan di forum internasional. Ia menyatakan bahwa situasi di meja persidangan tidak mencerminkan realitas yang terjadi di lapangan.
“Namun, dari podium Majelis Umum, presiden AS—bersama dengan perdana menteri Israel yang kriminal—berupaya memutarbalikkan fakta serta menukar posisi korban dan pihak agresor,” kata Araghchi.
Berita Terkait
Dengan narasi tersebut, Araghchi menempatkan tuduhannya pada upaya “memutarbalikkan fakta” dan perubahan posisi yang ia sebut sebagai penukar peran. Ia tidak hanya menilai tindakan yang telah terjadi, tetapi juga menyoroti bagaimana pesan disampaikan ketika berbicara di forum PBB.
Ia menegaskan bahwa kritiknya bukan sekadar penilaian umum, melainkan respons terhadap apa yang ia gambarkan sebagai pola tindakan agresif. Dalam konteks itu, ia menyampaikan pernyataan yang lebih tegas mengenai kemampuan pihak-pihak yang ia sebut sebagai pelaku.
“Amerika Serikat dan rezim Israel tidak dapat menutupi tindakan kriminal mereka terhadap rakyat Iran.”
Pernyataan Araghchi tersebut disampaikan dalam suasana Sidang Majelis Umum PBB yang berlangsung di New York. Ia menempatkan pembicaraannya sebagai bagian dari rangkaian pembelaan posisi Iran, sekaligus penegasan bahwa Iran menilai langkah AS dan Israel bertentangan dengan hukum internasional.
Dalam penjelasannya, Araghchi tetap merujuk pada sejumlah unsur yang disebutnya menjadi ciri tindakan AS dan Israel, yaitu agresi, ancaman, pembunuhan, perang ekonomi, serta pengabaian terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Ia juga menyusun rangkaian argumentasi melalui uraian mengenai target serangan, mulai dari fasilitas layanan publik seperti sekolah dan rumah sakit hingga fasilitas olahraga serta infrastruktur transportasi.
Lebih jauh, ia mengikat pembahasannya pada angka korban yang disebutnya sebagai lebih dari 5.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Dengan demikian, ia menempatkan dampak kemanusiaan sebagai salah satu inti dari kritik yang disampaikan di ruang sidang.
Pada akhirnya, Araghchi menutup dengan penekanan bahwa pihak yang ia sebut tidak dapat menghindari penilaian atas tindakan mereka terhadap rakyat Iran. Ia juga menegaskan bahwa forum PBB, menurut versinya, semestinya tidak menjadi tempat untuk memutarbalikkan fakta, melainkan ruang untuk mengakui korban dan pihak yang melakukan agresi.
Dalam rangkaian penuturannya, Araghchi juga menekankan bahwa Iran memandang perbedaan posisi di forum internasional harus kembali pada rujukan hukum dan prinsip diplomasi. Ia menilai cara berpikir yang menyalahkan pihak lain atau mengaburkan tanggung jawab tidak sejalan dengan mandat hukum internasional.
Ia pun menegaskan bahwa serangkaian tuduhan yang disampaikannya merupakan penilaian terhadap tindakan yang, menurut versi Araghchi, diarahkan pada sektor-sektor kehidupan masyarakat. Ia mengaitkannya dengan gagasan bahwa korban seharusnya diakui, sementara pihak yang disebut agresor tidak semestinya berlindung di balik narasi publik di hadapan sidang.












