jurnalistik.co.id – Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyampaikan pesan tegas kepada Menlu Iran, Abbas Araghchi, dalam pertemuan tatap muka di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada hari Rabu.
Dalam keterangannya, Kantor Luar Negeri Inggris menyebut Miliband menegaskan bahwa Inggris “not tolerate intimidation, threats or hostile activity on UK soil”. Pernyataan itu disampaikan langsung setelah keduanya membahas sejumlah isu keamanan dan perkembangan regional.
Foreign Office mengatakan Miliband menyinggung “the UK’s unwavering resolve to combat threats from Iranian-linked groups in UK soil, including attacks on the British Jewish community”. Dengan kata lain, ia menekankan ketegasan pemerintah Inggris dalam menghadapi ancaman yang dinilai terkait kelompok yang memiliki hubungan dengan Iran, termasuk serangan terhadap komunitas Yahudi di Inggris.
Tidak ada komentar segera dari Araghchi setelah pertemuan tersebut. Sementara itu, Kantor Berita Republik Islam Iran melaporkan bahwa kedua pejabat membahas hubungan bilateral serta perkembangan internasional selama pembicaraan mereka.
Serangan terhadap komunitas Yahudi dan penilaian intelijen
Komentar Miliband muncul setelah terjadinya serangan pembakaran terhadap empat ambulans komunitas Yahudi di Golders Green pada bulan Maret. Serangan itu, menurut laporan BBC, dikaitkan dengan Hatzola ambulance attack dan sejumlah insiden lain yang menargetkan komunitas Yahudi.
BBC juga menyampaikan bahwa kepala-kepala intelijen Inggris pada awalnya masih memiliki sikap terbuka terkait apakah peran tersebut berasal dari negara Iran atau organisasi yang bekerja untuknya. Namun, kemudian mereka mengambil kesimpulan setelah ada petunjuk intelijen rahasia yang menunjukkan keterlibatan Iran atau proksinya dalam serangan tersebut.
Pola ancaman serupa juga ikut dibahas dalam konteks keamanan yang lebih luas. Pada bulan Juli, sebuah pembangkit listrik berukuran kecil di Inggris juga dihentikan akibat serangan siber. Surat kabar The Telegraph melaporkan serangan itu dilakukan oleh peretas yang dikaitkan dengan rezim Iran.
Pesan soal eskalasi dan jalur Selat Hormuz
Selain membahas isu ancaman di dalam negeri, Miliband juga mengulas perang di Timur Tengah dalam diskusi dengan Araghchi. Foreign Office menyebut Miliband menegaskan bahwa Iran seharusnya memilih “de-escalation and diplomacy instead of prolonging the war”.
Berita Terkait
Dalam kesempatan yang sama, Miliband juga menekankan pentingnya upaya membuka kembali Selat Hormuz. Penekanan ini terkait dengan posisi strategis jalur tersebut dalam perdagangan energi global.
Untuk menggambarkan dinamika kawasan, laporan itu menyebut pada Februari, Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut. Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara Arab di kawasan Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.
Selain itu, Iran disebut “effectively closed the Strait of Hormuz”, sebuah jalur yang biasanya dilewati sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas global. Kondisi itu dipaparkan berpotensi memengaruhi perekonomian dunia.
Sidang PBB: pernyataan Pezeshkian dan sikap AS
Pada hari yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan kepada Majelis Umum PBB bahwa setiap kesepakatan harus mencakup penghentian blokade AS. Ia menyebut blokade itu menghentikan kapal-kapal Iran menggunakan jalur tersebut.
Menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyatakan akan “annihilate” Republik Islam jika kesepakatan tidak segera tercapai, Pezeshkian menyatakan negaranya tidak akan “bend the knee”. Ia juga menegaskan, “The resistance of the Iranian people will only increase in the face of sanctions, increased pressure, increased bullying,” menurut laporan tersebut.
Belum ada komentar langsung dari pihak AS atas pernyataan Pezeshkian. Delegasi AS disebut meninggalkan ruang sidang pada awal pidato presiden Iran.
Pembahasan kasus pasangan warga Inggris yang ditahan
Foreign Office menyebut Miliband juga menggunakan pertemuan itu untuk mengangkat penahanan pasangan warga Inggris, Lindsay dan Craig Foreman, di Iran. Pasangan tersebut berasal dari East Sussex dan telah ditahan lebih dari 20 bulan setelah ditangkap saat melintas di Iran dalam perjalanan menggunakan sepeda motor.
Pada Februari, masing-masing Foreman dijatuhi hukuman 10 tahun penjara atas tuduhan spionase. Mereka membantah tuduhan tersebut.
Dalam diskusi dengan menlu Iran, Miliband kembali menyerukan agar kedua orang tersebut segera dilepaskan. Foreign Office juga menyatakan bahwa kesejahteraan mereka tetap menjadi prioritas pemerintah Inggris.












