Pendidikan

Mulai 2027, Inggris melarang makanan gorengan dalam standar baru makan siang sekolah

×

Mulai 2027, Inggris melarang makanan gorengan dalam standar baru makan siang sekolah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Deep-fried food banned under new school dinner rules in England

jurnalistik.co.id – Inggris mulai memperketat standar makan siang sekolah dengan sejumlah perubahan besar yang berlaku mulai 2027. Pemerintah menyebut pembaruan ini sebagai langkah “once-in-a-generation changes” dan menempatkan larangan makanan yang digoreng sebagai salah satu poin utamanya.

Dalam aturan baru, makanan yang digoreng tidak lagi boleh masuk menu makan siang sekolah di Inggris. Di saat yang sama, pemerintah juga menargetkan peningkatan asupan serat serta gandum utuh (wholegrains) untuk seluruh peserta didik.

Ketentuan yang menyasar menu juga mencakup variasi jenis makanan manis. Pemerintah menetapkan bahwa pencuci mulut manis seperti kue akan dikurangi, dari menu makan siang harian menjadi hanya dua kali seminggu di sekolah menengah (secondary) dan sekali seminggu di sekolah dasar (primary), dengan syarat setiap sajian harus disertai porsi buah.

Untuk makanan olahan berprotein hewani, porsi seperti ham, sosis, dan chicken nuggets juga dipangkas. Aturan baru membatasi penyajiannya menjadi satu kali per minggu, dan setiap penyajian harus disertai lauk pendamping berupa sayur atau buah.

Pemerintah menyebut reformasi ini dirancang untuk mengatasi obesitas anak, memperbaiki kualitas nutrisi, serta mendukung konsentrasi, pembelajaran, dan kesejahteraan siswa. Sekretaris Pendidikan Lucy Powell menyatakan perubahan ini merupakan “once-in-a-generation changes” yang diharapkan dapat “transform school food for children across the country”.

Di luar perubahan menu, aspek tata kelola turut diperketat. Sekolah diwajibkan memublikasikan kebijakan pangan dan daftar menu secara daring, sementara skema pemantauan akan dikembangkan bersama Food Standards Agency.

Organisasi yang mewakili kepala sekolah, Association of School and College Leaders (ASCL), menyambut perubahan tersebut. Namun, ASCL juga berharap aturan baru tidak berubah menjadi “another stick with which to beat head teachers,” sebagaimana disampaikan Pepe Di’Iasio, general secretary ASCL.

Di’Iasio menambahkan bahwa penegakan aturan perlu dilakukan dengan hati-hati. Ia menegaskan tidak ada pihak yang bisa mengklaim diri sebagai “expert in health and nutrition,” sehingga menurutnya jangan sampai aturan baru menjadi alat untuk menyudutkan kepala sekolah yang berusaha sebaik mungkin menyediakan makanan sehat dan seimbang bagi murid.

Lebih jauh, ASCL meminta adanya dukungan investasi. Di’Iasio menyatakan sekolah membutuhkan “more investment” untuk fasilitas katering serta “professional development” bagi para juru masak sekolah, agar menu yang disusun dapat “meet the ambitions” pemerintah.

Dalam rincian standar teknis, pemerintah menetapkan perlakuan berbeda untuk makanan tertentu. Kentang goreng yang biasanya dibuat dengan cara deep-fried harus diganti menjadi oven-baked, sedangkan hidangan pasta ditetapkan harus mengandung 50% gandum utuh setiap satu kali sajian dalam minggu tersebut. Selain itu, roti ber-serat tinggi (high-fibre bread) juga menjadi persyaratan.

Perubahan terbesar berikutnya datang dari program sarapan (breakfast clubs) yang sebelumnya tidak memiliki panduan seragam yang jelas. Mulai September mendatang, kue pastry dan telur goreng dikeluarkan dari menu, sementara sereal dibatasi dengan aturan “sugar cap”. Coco Pops tidak lagi menjadi pilihan, dan selai cokelat juga dinyatakan “not permitted”.

Pemerintah menyebut sejak Februari tahun ini, 1.250 sekolah telah menyediakan breakfast clubs gratis bagi muridnya. Salah satu yang menjalankan program tersebut adalah Oasis Blakenhale di Birmingham, tempat kepala sekolah Farzana Ahmed menyatakan sekolah menerima pembaruan itu dengan sikap positif.

Ahmed menilai akses bagi lebih banyak anak terhadap makanan panas yang bergizi adalah hal yang penting. Ia juga menyebut perubahan ini ikut membantu keluarga meredakan tekanan finansial di rumah, sambil menekankan bahwa pemantauan perlu dilakukan.

Meski mendukung, Ahmed juga meminta kejelasan pelaksanaan. Ia mengatakan sekolah “probably need some more guidance from the government” mengenai bagaimana aturan tersebut akan tampak dalam rutinitas harian, bukan hanya prinsip umum di atas kertas.

Di Oasis Blakenhale, sekitar 60% siswa menerima free school meals. Dengan perluasan kelayakan free school meals pada tahun ini yang mencakup semua keluarga penerima Universal Credit, Ahmed memperkirakan porsi siswa yang memperoleh manfaat akan naik hingga sekitar 70%.

Ahmed menggambarkan ini sebagai langkah yang sangat baik bagi perkembangan anak. Menurutnya, pola makan yang bergizi penting bagi kesejahteraan, perilaku, dan proses belajar murid.

Seorang orang tua, Kinza Butt, yang bekerja dan memiliki tiga anak, juga menyatakan adanya bantuan langsung yang dirasakan dari free school meals. Ia mengatakan anaknya tidak lagi harus makan sandwich dingin, dan menganggap perubahan tersebut meringankan “burden off the shoulders”.

Butt menambahkan bahwa sebelum program ini, anaknya sering mulai lapar menjelang akhir hari. Kini, menurutnya, anak pulang dengan senang karena mendapatkan makanan sehat yang baik, termasuk snack.

Perlu dicatat, aturan makan siang sekolah di Inggris berbeda dengan kebijakan di wilayah lain di Britania Raya. Di Wales, pedoman baru dijadwalkan berlaku pada akhir tahun, dengan fokus pada setidaknya dua porsi sayur setiap hari, serta hanya air, susu, atau minuman berbasis tumbuhan yang diperbolehkan untuk hidrasi.

Di Skotlandia, regulasi diperbarui pada 2020. Aturannya mengharuskan setidaknya dua porsi sayur dan satu porsi buah setiap hari, serta oily fish wajib disajikan setidaknya sekali dalam setiap tiga minggu.

Sementara itu, Irlandia Utara terakhir memperbarui regulasi pada 2007. Ketentuannya mencakup roti setiap hari tanpa spread, dua porsi buah serta sayur per hari, dan aturan tambahan bahwa jika kacang-kacangan atau polong-polongan menjadi bagian protein utama dalam menu, maka harus ada sayur lain yang tersedia.