Bisnis & Ekonomi

JP Morgan Mengaku Sulit Memodelkan Harga Minyak Imbas Perang AS-Iran

×

JP Morgan Mengaku Sulit Memodelkan Harga Minyak Imbas Perang AS-Iran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: JP Morgan struggling to forecast oil prices due to US-Iran war

jurnalistik.co.id – JP Morgan mengatakan pihaknya kesulitan menyusun proyeksi harga minyak karena perang AS–Iran masih sulit dipetakan ujung akhirnya. Dalam catatan yang ditujukan kepada investor, bank investasi raksasa itu menulis, “we simply don’t know how to model the endgame”.

Pernyataan tersebut muncul dalam konteks ketika pelaku pasar berusaha menilai dampak konflik terhadap minyak, inflasi, dan biaya pendanaan. Bagi investor, ekspektasi inflasi dan pergerakan harga minyak sering menjadi penentu arah perubahan harga di berbagai sektor.

Sejak awal konflik, JP Morgan mengasumsikan akan ada “economic red lines” yang dianggap tidak ingin dilanggar oleh pemerintahan Donald Trump. Berdasarkan asumsi itu, bank percaya kesepakatan akan dicapai untuk membuka kembali jalur pengiriman di Selat Hormuz pada bulan Juni.

JP Morgan menyebut red lines tersebut mencakup beberapa batas yang diperkirakan akan memicu respons. Di antaranya, harga minyak melampaui $100 per barel, inflasi mencapai 4%, harga bensin menembus $5 per galon, serta suku bunga atas pinjaman pemerintah 10 tahun mencapai 5%.

Dari sudut pandang catatan JP Morgan, “The market is on edge,” sebagaimana disebut oleh analis. Mereka menilai suasana pasar memang tegang, karena parameter yang semula dipakai sebagai batas ekonomi ternyata tidak bergerak sebagaimana skenario awal.

Enam bulan setelah perang dimulai, JP Morgan menyatakan banyak batas yang diasumsikan telah terlampaui, namun strategi keluar justru terasa makin tidak jelas. Pernyataan itu dituangkan dalam kutipan: “Six months later [since the war began], many of those lines have been crossed, yet the exit strategy is less clear, not more,”.

Dalam kelanjutan catatan tersebut, bank menegaskan hilangnya pegangan dasar untuk penilaian skenario. “For the first time since the start of the Iran conflict, we don’t have a baseline view. We simply don’t know how to model the endgame.”

Seorang sumber industri minyak dan gas mengatakan kepada BBC bahwa penerbitan catatan semacam itu oleh institusi sekelas JP Morgan dinilai “unusual”. Namun sumber yang sama menambahkan itu merupakan “reflection on the state of play”, mengingat besarnya ketidakpastian yang menyelimuti konflik.

Di saat yang sama, sejumlah indikator yang disebut JP Morgan dalam asumsi awal menunjukkan perubahan. Meski inflasi belum sampai 4% dan bensin masih berada di bawah $5 per galon, harga minyak justru sudah kembali menembus kembali di atas $100 dalam beberapa pekan terakhir. Bank juga menyoroti yield obligasi pemerintah AS yang berada di sekitar atau di atas 5%.

JP Morgan juga menempatkan penilaian terhadap pergerakan minyak dalam kerangka penetapan nilai wajar. Dalam catatannya, analis memperkirakan “fair value” minyak pada bulan September berada di kisaran $90 per barel, meskipun harga saat itu diperdagangkan di atas $100.

Catatan itu juga menyebut bahwa pasar memperhitungkan risiko gangguan perdagangan. “the market is pricing in the risk” atas gangguan tambahan, sehingga pergerakan harga minyak tidak hanya mengikuti kondisi jangka pendek, melainkan juga persepsi risiko yang lebih luas.

Untuk sisi risiko pasokan, analis menggarisbawahi potensi gangguan di Timur Tengah. Mereka menyoroti langkah Houthis di Yaman yang disokong Iran, yang telah merebut area di mulut jalur Bab al-Mandab, sebuah rute pelayaran internasional penting.

Gangguan di kawasan lain juga masih terasa. Konflik Rusia–Ukraina disebut terus memberi dampak, dan hal itu membuat kondisi pasar makin sulit dipetakan dalam satu kerangka waktu yang sama.

Dengan tidak adanya tanda yang jelas menuju meredanya konflik, asumsi bahwa gangguan pasokan global sifatnya sementara, dinilai semakin sulit dipertahankan. Dalam catatan analis, “no clear signals” de-eskalasi menjadi alasan utama mengapa proyeksi berbasis skenario awal makin kehilangan kekuatan.

Sementara itu, narasi politik AS juga ikut memengaruhi cara pasar membaca arah konflik. Donald Trump menyatakan pekan lalu bahwa ia tidak melihat perang akan berakhir sampai setelah pemilu sela (midterm) November di AS. “Right after the election, oil prices are going to be tumbling downward,” ucap Trump kepada wartawan, seraya menambahkan, “I think it’s going to take a little bit longer than the midterm.”

Kenaikan harga minyak juga dikaitkan dengan tekanan biaya hidup. BB mengemukakan, harga energi dan bahan bakar yang melonjak menjadi bagian dari latar naiknya biaya hidup di AS maupun di berbagai wilayah dunia, khususnya ketika mendekati musim yang lebih dingin.

Di tingkat kebijakan moneter, Federal Reserve menaikkan suku bunga pekan ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun, serta memberi sinyal bahwa kenaikan bisa berlanjut pada tahun berjalan dan juga hingga 2027. Ketua Fed Kevin Warsh menjelaskan langkah itu karena “inflation is too high and has been for too long”, meski Trump menyatakan tidak setuju dengan keputusan tersebut.