jurnalistik.co.id – Micheál Martin menyampaikan kepada Perdana Menteri Andy Burnham bahwa kedua pemerintahan memiliki kewajiban untuk “mendukung” sekaligus “progress” Perjanjian Jumat Agung. Martin menekankan bahwa kewajiban itu berlaku dalam konteks Perjanjian Jumat Agung tahun 1998 yang menjadi landasan perdamaian di Irlandia Utara.
Dalam pertemuan mereka di Number 10 North, Burnham mengatakan hubungan Inggris dan Irlandia “matters so much on every single level”. Burnham juga menyebut kedatangan Martin sebagai kunjungan internasional pertama ke Number 10 North di Manchester, dan menilai itu “feels very fitting”.
Burnham menyatakan diskusi yang mereka lakukan akan menyinggung penguatan kerja sama di berbagai bidang. Rencana pembahasannya mencakup peningkatan kerja sama perdagangan, keamanan, serta langkah untuk terus bekerja bersama dengan Uni Eropa.
Menurut Burnham, kedua pihak “working together” untuk menjaga prinsip-prinsip kesepakatan perdamaian tersebut. Ia mengaitkan arah pembicaraan dengan kebutuhan memastikan Perjanjian Jumat Agung tetap dihormati sambil menatap ke depan.
Burnham juga menegaskan posisi mereka sebagai pihak yang sama-sama bertanggung jawab atas perjanjian itu. Ia menyebut bahwa sebagai “co-custodians of the Good Friday Agreement, we are working together to uphold its principles as we approach the 30th anniversary”.
Dalam kesempatan yang sama, Martin menyampaikan apresiasi bahwa pertemuan tersebut dapat berjalan sesuai rencana. Ia juga menyampaikan simpati kepada Burnham menyusul wafatnya ayah sang perdana menteri baru-baru ini.
Martin menggambarkan bahwa “I think your sense of duty shines through”. Pernyataan itu disampaikan Martin saat menanggapi komitmen Burnham terhadap peran dan tanggung jawab yang menyertai kerja sama kedua negara.
Berita Terkait
Martin menambahkan bahwa “in a global world marked by uncertainty” penting bagi dua tetangga dekat untuk tetap menjaga hubungan yang kuat. Ia menekankan perlunya keberlanjutan keterlibatan tersebut karena kondisi dunia yang tidak menentu dapat berdampak pada stabilitas dan kemajuan kerja sama lintasnegara.
Dalam pidatonya, Martin menyatakan bahwa mereka adalah “co-guarantors of the Good Friday Agreement”. Ia menegaskan adanya “very significant obligations to mind it and to progress it and so forth,” sekaligus menyiratkan bahwa tugas itu bukan hanya merawat, melainkan juga mendorong langkah lanjutan ketika momentum mendekati peringatan besar.
Martin juga menyebut agenda pembahasan akan mencakup peluang bagi hubungan yang “even stronger and closer” antara Uni Eropa dan Inggris. Menurutnya, pendekatan itu diharapkan memberi manfaat bagi Uni Eropa dan bagi Irlandia.
Sementara itu, juru bicara Downing Street mengatakan kedua pemimpin memulai pertemuan dengan “reaffirming the close partnership between the UK and Ireland” sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk mempertahankan Perjanjian Jumat Agung. Mereka juga membahas warisan konflik yang dikenal sebagai Troubles, termasuk upaya “working towards lasting reconciliation in Northern Ireland”.
Selain isu perdamaian, pembahasan lain disebut mencakup penguatan kedekatan Inggris dengan Eropa. Diskusi juga meliputi dukungan bersama terhadap Ukraina serta persiapan untuk penyelenggaraan UK-Ireland Summit berikutnya tahun depan.
Martin juga menempatkan pembicaraan itu sebagai kelanjutan dari tanggung jawab yang telah menjadi dasar perundingan sebelumnya. Menurutnya, penghormatan terhadap Perjanjian Jumat Agung perlu dipertahankan sambil mendorong langkah-langkah lanjutan agar kerja sama kedua negara tetap relevan ketika penanda penting 30 tahun mendekat.
Dalam uraian lanjutan, mereka menyoroti kebutuhan menjaga hubungan yang saling menguatkan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Karena itu, kesinambungan keterlibatan menjadi bagian dari upaya menyeimbangkan stabilitas, serta menjaga arah kemajuan hubungan lintasnegara agar tidak mudah tergerus oleh perubahan kondisi di luar kawasan.
Sementara itu, juru bicara Downing Street menegaskan bahwa dialog tidak hanya berfokus pada prinsip perdamaian, tetapi juga diarahkan pada rekonsiliasi yang berkelanjutan di Irlandia Utara. Selain mengingat warisan konflik Troubles, pertemuan tersebut juga menyinggung kerja sama yang diperluas, termasuk dukungan bersama untuk Ukraina dan agenda persiapan UK-Ireland Summit berikutnya yang dijadwalkan berlangsung tahun depan.












