Internasional

Dolar AS Menguat: Rupiah–Yen Terpuruk, Won dan Peso Masih Bertahan

×

Dolar AS Menguat: Rupiah–Yen Terpuruk, Won dan Peso Masih Bertahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dolar Perkasa: Rupiah-Yen Ambruk, Won-Peso Masih Selamat

jurnalistik.co.id – Jakarta melaporkan dinamika nilai tukar yang terbelah pada pekan ini. Di tengah perdagangan global, dolar Amerika Serikat (AS) bertahan menguat dan tetap berada di level tinggi setelah kenaikan pada sesi sebelumnya.

Pantauan Refinitiv menunjukkan, dari 10 mata uang Asia yang diamati, lima di antaranya mengalami apresiasi terhadap dolar AS, sedangkan sisanya justru melemah. Pola ini menandakan pasar tidak bertindak seragam, melainkan merespons perbedaan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS.

Won Korea menjadi yang paling menonjol. Won Korea menguat 2,3% menjadi 1.353,68.

Performa berikutnya datang dari peso Filipina yang naik 0,69% ke 62,395, serta ringgit Malaysia yang menguat 0,25% ke 4,07. Di segmen lain, dong Vietnam naik 0,17% ke 25.974 dan dolar Taiwan ikut menguat hingga 31,709.

Untuk menggambarkan sebaran level tersebut, won Korea berada di 1.353,68, peso Filipina di 62,395, ringgit Malaysia di 4,07, dong Vietnam di 25.974, dan dolar Taiwan di 31,709.

Rupiah turun paling dalam

Di kelompok yang melemah, rupiah mencatat penurunan terdalam. Rupiah turun 0,85% ke posisi Rp17.880 per US$.

Setelah rupiah, pelemahan berlanjut pada yen Jepang, baht Thailand, yuang China, serta dolar Singapura. Yen Jepang melemah 0,26%, baht Thailand turun 0,24%, yuang China turun 0,23%, dan dolar Singapura terkoreksi 0,12% terhadap dolar AS.

Penguatan dolar AS tampak selaras dengan pergerakan indeks dolar AS (DXY). DXY menguat 0,75% menjadi 100,971, sehingga dolar tetap menjadi acuan utama dalam perdagangan mata uang pekan ini.

Salah satu penguat utama berasal dari ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) belum selesai menaikkan suku bunga. Setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% pada pekan lalu, sejumlah pejabat kembali membuka peluang kenaikan lanjutan bila inflasi belum mereda.

Ekspektasi itu juga dipengaruhi respons terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang bernada hawkish pada pekan sebelumnya. Komentar para pejabat ikut menjadi sinyal pengetatan lebih lanjut masih masuk agenda.

Dari sisi data, dolar AS turut mendapat dukungan dari indikator ekonomi AS. Indeks awal S&P Global US Composite PMI naik menjadi 58,4 pada September, level tertinggi sejak Juli 2021, dari 56,0 pada Agustus.

Kenaikan PMI tersebut ditopang lonjakan pesanan baru. Setelah rilis data, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kembali meningkat.

Bagian probabilitas juga berubah seiring penghitungan LSEG. Peluang kenaikan setidaknya 25 basis poin melonjak menjadi sekitar 70%, dari sekitar 53% sebelum data tersebut dirilis.

Dengan probabilitas itu, fokus pasar mengarah pada apakah suku bunga bisa bertambah di Oktober sesuai skenario kenaikan minimal 25 basis poin yang dipantau sekitar 70%.

Selain suku bunga, perhatian juga kembali tertuju pada harga minyak. Harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah sempat menekan harga minyak, tetapi sentimen berbalik setelah Iran meragukan kemajuan perundingan.

Kenaikan harga energi kemudian memunculkan kekhawatiran inflasi. Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, memperingatkan bank sentral perlu berhati-hati, karena guncangan energi saat ini berpotensi menjadi sumber inflasi yang lebih persisten.

Dalam perdagangan pekan ini, dinamika dolar AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi mata uang Asia, bersamaan dengan ekspektasi suku bunga dan risiko inflasi dari energi.

Dalam kombinasi faktor tersebut, mata uang Asia bergerak terbelah: won Korea mampu bertahan menguat, sementara rupiah dan beberapa mata uang lain berada dalam tekanan seiring dolar AS yang tetap menguat.