Olahraga

Inggris vs Spanyol di Nations League: Apakah Tiga Singa Kesulitan Hadapi Tim Top 10?

×

Inggris vs Spanyol di Nations League: Apakah Tiga Singa Kesulitan Hadapi Tim Top 10?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: England: Do Three Lions have a problem against top-10 teams?

jurnalistik.co.id – Jelang laga pembuka Nations League akhir pekan ini melawan Spanyol, Inggris (Three Lions) kembali menghadapi pertanyaan yang sama: apakah mereka benar-benar mampu tampil setara saat bersua lawan yang berada di level papan atas dunia?

Stadion Wembley bakal menjadi panggung yang menyalakan ingatan pada beberapa “hampir” sebelumnya. Tiga bulan lalu, Inggris juga kehilangan kesempatan bertemu La Roja di partai puncak Piala Dunia setelah takluk dari Argentina di babak semifinal terakhir empat.

Secara khusus, pertemuan terakhir Inggris versus Spanyol memang terjadi di final Euro 2024, dan saat itu Spanyol keluar sebagai pemenang. Kini, tantangannya datang dari wajah yang sama, tetapi konteks turnamennya berbeda: pertandingan pembuka Nations League.

Rekam jejak saat menghadapi top-10

Menurut catatan yang dirangkum BBC Sport, performa Inggris terhadap tim peringkat 10 besar dunia masih menyisakan banyak ruang untuk perbaikan. Dalam 15 pertandingan terakhir versus lawan yang berada di top-10 berdasarkan peringkat FIFA, Inggris hanya meraih enam kemenangan.

Lebih jauh, dari enam kemenangan tersebut, tiga di antaranya datang pada ajang-ajang besar. Inggris menang di semifinal Euro 2021 dan Euro 2024 masing-masing melawan Denmark dan Belanda, lalu meraih kemenangan saat perebutan medali perunggu melawan Prancis di Piala Dunia musim panas ini.

Kemenangan atas Les Bleus untuk merebut posisi ketiga juga menjadi kemenangan pertama Thomas Tuchel sebagai pelatih Inggris atas lawan yang masuk kelompok top-10. Selain itu, kemenangan pertamanya atas lawan yang berada di dalam rentang peringkat 20 besar terjadi pada laga grup pembuka turnamen melawan Kroasia.

Kalau dipadatkan, statistik itu menunjukkan pola yang sulit untuk disembunyikan: saat berhadapan dengan oposisi elite, Inggris cenderung tersandung—terutama di Piala Dunia.

Pola tersendat di fase gugur Piala Dunia

Dalam fase knockout Piala Dunia, Inggris tersingkir setiap kali menghadapi negara yang berada di peringkat top-10. Sejak 1998, catatannya tujuh kali, tujuh kali pula kalah.

Untuk rentang yang lebih spesifik, dari 10 pertandingan Piala Dunia terakhir yang mempertemukan Inggris dengan lawan top-10, satu-satunya kemenangan justru datang ketika fase grup musim 2002 menghadapi Argentina.

Ketika menghadapi juara dunia bertahan di Piala Dunia, Inggris juga tidak pernah mampu membalikkan keadaan. Mereka selalu kalah dalam empat kesempatan: 1954 Uruguay 4-2 Inggris, 1962 Brazil 3-1 Inggris, 2022 Inggris 1-2 Prancis, dan 2026 Inggris 1-2 Argentina.

Sementara itu, di Euro, Inggris menunjukkan hasil yang lebih baik. Di dua turnamen terakhir, mereka mampu menyingkirkan lawan yang berada di top-10—Denmark dan Belanda—hingga akhirnya mencapai final. Namun, di laga penentunya mereka gagal menuntaskan pekerjaan: melawan Spanyol (2024) dan Italia (2020).

Faktor kontrol permainan juga menjadi sorotan saat bersua tim-tim elite. Persentase penguasaan bola terendah Inggris dalam 15 laga versus lawan top-10 tercatat 35,8% pada semifinal melawan Argentina di Piala Dunia musim panas ini, serta 34,9% pada final Euro melawan Spanyol dan 42,1% saat menghadapi Italia.

Kebutuhan “tetap jadi diri sendiri”

Di tengah rangkaian pertanyaan itu, Harry Kane—top scorer sepanjang masa Inggris dengan 85 gol—menjawab soal elemen yang dirasa kurang untuk membawa tim meraih kemenangan. Ia menyampaikan, “I think it’s just in those biggest moments, still being ourselves,” dan menambahkan bahwa laga melawan Argentina terlalu sulit untuk diterima karena Inggris membawa mindset untuk menang turnamen dengan cara dan gaya mereka.

Menurut Kane, ketika tim mencoba “bukan cuma memastikan tidak kalah” dalam menit-menit terakhir, hasil akhirnya tetap berjalan dengan cara yang tidak mereka inginkan: “The Argentina game was maybe the first game we tried ‘not to lose’ in the last 30 minutes and then we ended up losing anyway.”

Kane juga menegaskan pengalamannya di Bayern Munich, di mana ia merasa tidak ada kebutuhan untuk takut pada siapa pun. Ia mengatakan, “You don’t fear anyone,” lalu menekankan pentingnya tetap pada identitas: “You have an identity that you keep throughout.”

Bagi Kane, titik fokusnya kembali pada momen-momen besar. “We are very close, we have been very close but ultimately, we don’t need to fear anyone. We just need to be ourselves in the biggest moments and hopefully get over the line,” ucapnya.

Analisis berulang: dominasi bola dan lawan elite

Alex Howell menilai pertanyaan yang terus kembali mengemuka adalah satu hal yang sama: apakah Inggris bisa mendominasi bola dan menaklukkan oposisi kelas atas. Ia mengingat Euro 2020, ketika kemenangan babak 16 besar atas Jerman menjadi momen besar karena mengalahkan tim besar bersejarah, meski saat itu skuad Jerman sedang dalam fase transisi dan tidak berada di peringkat top-10 dunia.

Namun, perjalanan berakhir berbeda di final. Inggris sempat unggul, lalu menurun, bermain lebih dalam, memberi ruang kepemilikan bola, dan akhirnya kalah lewat adu penalti dari Italia.

Di Piala Dunia 2022 di Qatar, Inggris memulai dengan kemenangan 6-2 atas Iran. Meski lawannya bukan dari kelompok top-10, perubahan mental yang terlihat sempat memberi harapan. Akan tetapi, masalah lama muncul lagi saat menghadapi Prancis, ketika Inggris pada dasarnya lebih baik, Harry Kane gagal mengeksekusi penalti, dan pengetahuan serta kualitas Les Bleus membuat Inggris tersingkir di perempatfinal.

Di Euro 2024, turnamen itu disebut menjadi “satu edisi terlalu jauh” bagi Gareth Southgate. Tim tidak tampil mendekati performa terbaiknya, dan keberhasilan lebih banyak bertumpu pada kualitas individu. Untuk melawan Belanda di semifinal, Ollie Watkins mencetak gol di ujung laga, sementara Kane tidak dalam kondisi penuh; tanpa performanya yang maksimal, Inggris tidak mampu mengancam serius Spanyol.

Lalu, setelah kampanye kualifikasi Piala Dunia 2026 yang dinilai sempurna dan hadirnya pelatih elite baru, Thomas Tuchel, banyak pihak menganggap ini waktu yang tepat bagi Inggris meraih kejayaan. Meski demikian, kendala yang sama kembali menenggelamkan mereka setelah kemenangan babak 16 besar atas Meksiko yang dipenuhi rasa kebersamaan dan ketangguhan.

Tulisan itu menyoroti ketidakmampuan Inggris menerjemahkan bakat kelas dunia menjadi penguasaan dan kontrol permainan. Tuchel disebut menyatakan mungkin ia perlu “embrace the chaos,” sementara Anthony Gordon menambahkan bahwa Inggris seharusnya bertumpu pada gaya langsung yang mereka kenal sejak lama.

Dalam konteks Nations League melawan Spanyol, harapannya sederhana: apakah Inggris bisa mengakhiri penantian panjang trofi dengan cara yang benar—dan kali ini, tidak lagi tersandung ketika berhadapan dengan lawan yang benar-benar elite.