jurnalistik.co.id – Ratusan ribu anak di Gaza kembali menjalani hari sekolah setelah hampir tiga tahun pendidikan mereka terganggu perang. Di banyak lokasi, kegiatan belajar tidak berlangsung di ruang kelas permanen, melainkan di tenda dan area dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Pada Sabtu pagi, Rana Totah, 30, menggandeng dua putranya menuju sekolah di Al-Katiba, Gaza City. Baginya, langkah itu bukan sekadar penanda hari pertama tahun ajaran, melainkan kembalinya rutinitas keluarga yang lama terputus sejak perang mulai meletus pada Oktober 2023.
Totah mengaku menyiapkan anak-anaknya seolah menghadapi sekolah dalam kondisi normal. Ia memastikan mereka tidur lebih awal karena antusiasme mereka untuk kembali belajar terasa sangat besar.
“Jujur, hari ini adalah hari yang indah bagiku. Bahkan terasa seperti Idul Fitri,” kata Totah kepada Al Jazeera, dikutip Minggu (20/9/2026). Menurutnya, emosi yang muncul bukan hanya karena sekolah mulai lagi, tetapi juga karena keluarga akhirnya mendapat kembali pola hidup yang sempat hilang.
Selama masa pengungsian, Totah berupaya agar pendidikan bagi keempat anaknya tidak sepenuhnya berhenti. Ia mengandalkan pembelajaran informal yang digerakkan sukarelawan, meski kebutuhan bertahan hidup sering membuat pelajaran harus tersisih.
“Pendidikan adalah dasar dari segalanya dalam hidup,” ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan keyakinan bahwa belajar tetap menjadi bagian penting dari pemulihan, meski kondisi darurat terus memaksa keluarga menyesuaikan prioritas.
Ketika tahun ajaran baru resmi dimulai pada 19 September, Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina menyebut sekitar 541.000 siswa kembali mengikuti pendidikan di Gaza. Namun, pemulihan ini berlangsung di tengah kerusakan infrastruktur pendidikan yang luas.
UNICEF menyatakan hampir 98% bangunan sekolah di Gaza rusak sejak Oktober 2023. Sementara itu, sekitar 700.000 anak berusia 4-17 tahun kehilangan pendidikan tatap muka formal selama hampir tiga tahun.
Belajar di tenda, meja dan kursi jarang ditemui
Di salah satu tenda, guru matematika Nesma Nahid Abu Asim mengajar siswa kelas enam dengan posisi duduk di atas kasur. Para siswa memegang buku di pangkuan, sementara ruang yang tersedia jauh dari standar ruang kelas pada umumnya.
Abu Asim mengatakan banyak murid datang tanpa alat tulis dan buku pelajaran. Di kondisi seperti ini, meja maupun kursi pun tidak selalu tersedia, sehingga proses belajar harus menyesuaikan realitas fasilitas yang minim.
Berita Terkait
Meski demikian, ia menekankan nilai belajar yang tetap harus dipertahankan. “Pendidikan adalah hak bagi setiap siswa,” katanya, sambil menjelaskan bahwa keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan kesempatan memahami materi.
Bagi sejumlah siswa, situasi apa pun yang memberi ruang belajar setidaknya lebih baik daripada kehilangan kesempatan sepenuhnya. Harapan itu juga terasa dari pengakuan Osama Alayleh, 11 tahun, yang mengaku senang kembali ke sekolah meskipun harus belajar di tenda.
“Yang penting adalah kita belajar. Aku senang dengan tahun ajaran ini. Saya harap ini berlanjut tanpa masalah,” ucap Osama. Kalimat tersebut menggambarkan fokus utama para murid: bukan kemewahan fasilitas, melainkan keberlanjutan proses belajar.
Ruang darurat menggantikan kelas permanen
Di Sekolah Ahbab Shujayea, lebih dari 300 siswa bahkan belajar tanpa meja dan kursi. Mereka menggunakan potongan kardus sebagai media menulis, menunjukkan bagaimana kegiatan akademik beradaptasi pada keterbatasan lingkungan.
Direktur sekolah, Inaam al-Batreekhi, menyampaikan kekhawatiran yang datang bersama cuaca. Ia menjelaskan, “Kita bisa belajar hari ini, kita bisa duduk di tanah hari ini. Tapi besok, ketika hujan datang, kita tidak akan bisa melakukannya.”
Kalimat itu menegaskan bahwa sekolah darurat saat ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada kondisi lapangan. Saat hujan tiba, kelangsungan belajar dapat terganggu, sehingga tantangan bukan hanya ketersediaan fasilitas, tetapi juga ketahanan ruang belajar menghadapi perubahan cuaca.
Karena itu, sekolah-sekolah darurat menjadi pilihan utama agar anak-anak Gaza tetap bisa mengikuti pelajaran. Para guru berharap ruang belajar sementara ini segera digantikan sekolah yang lebih aman dan permanen, lengkap dengan fasilitas dasar yang layak.
Secara umum, harapan yang sama juga ada pada keluarga seperti Totah. Bagi banyak orang tua, tahun ajaran yang kembali berjalan memberi tanda bahwa rutinitas harian masih bisa dipulihkan, meski belum sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum perang.
Pemulihan pendidikan, meskipun dilakukan dalam bentuk yang tidak ideal, tetap dipandang sebagai langkah penting. Di tengah kerusakan luas, kembali bersekolah berarti mempertahankan kesempatan belajar bagi anak-anak yang hampir tiga tahun merindukan pendidikan tatap muka.
Di Gaza, belajar tidak lagi berlangsung dalam kelas yang utuh, melainkan melalui ketekunan guru dan kemauan murid yang bertahan. Selama ruang aman dan fasilitas dasar belum tersedia, pendidikan akan terus berjalan dengan cara yang paling memungkinkan—namun tujuan akhirnya tetap jelas: menghadirkan sekolah yang benar-benar layak bagi masa depan anak-anak.









