jurnalistik.co.id – Sidang Umum PBB 2026 menjadi panggung bagi Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menegaskan kedaulatan atas Saint Pierre dan Miquelon, wilayah Prancis di Kanada, menyusul gertakan yang dipopulerkan Presiden AS Donald Trump.
Menjelang keberangkatannya ke New York, Macron lebih dulu mengatur agenda di Atlantik Kanada. Langkah itu diambil sebelum Sidang Umum PBB tahunan para pemimpin dunia, dengan pertemuan yang diarahkan pada penguatan posisi Prancis di wilayah tersebut.
Pada Minggu waktu setempat, Macron bertemu Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Saint Pierre dan Miquelon. Reuters melaporkan kunjungan ini menjadi pembuka penting bagi pembahasan lintas isu, sekaligus simbol diplomasi yang ingin ditonjolkan Prancis.
Kunjungan Macron ke kepulauan tersebut tercatat sebagai kunjungan pertama seorang presiden Prancis sejak 2014. Waktu pelaksanaannya beririsan dengan upaya Kanada menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa di tengah perang dagang yang kian sengit dengan Amerika Serikat.
Kedatangan Macron juga datang beberapa hari setelah Trump mengunggah gambar yang memperlihatkan pulau-pulau itu tertutup bendera AS. Dalam unggahan tersebut, Saint Pierre dan Miquelon ditampilkan sebagai bagian dari gambaran wilayah yang diklaim Trump di media sosial.
Saint Pierre dan Miquelon disebut sebagai satu-satunya wilayah Prancis yang masih tersisa di Amerika Utara. Pejabat Prancis menyatakan, kehadiran Macron di lokasi akan menggarisbawahi kedaulatan Prancis sekaligus menonjolkan kedekatan hubungan dengan Kanada.
Setelah mendarat pada Sabtu malam, Macron menyampaikan pernyataan kepada wartawan. “Tidak ada keraguan (bahwa itu adalah wilayah Prancis),” katanya saat berada di wilayah berpenduduk 5.800 jiwa tersebut.
Macron kemudian menanggapi pertanyaan terkait peta yang beredar dari unggahan Trump. “Kami tidak akan menegaskannya setiap hari karena orang-orang memiliki ide aneh atau mengatakan hal-hal aneh,” ujarnya di hadapan para wartawan.
Berita Terkait
Para diplomat menilai kunjungan Macron, ketika ia berada dalam perjalanan ke Sidang Umum PBB, memiliki bobot simbolis karena unggahan Trump. Gambar yang dibagikan Trump menampilkan bendera AS terbentang di atas sejumlah wilayah, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Greenland, Islandia, Meksiko, Amerika Tengah, dan Karibia, serta diberi label “Amerika Serikat”.
Dalam gambar yang sama, Saint Pierre dan Miquelon turut dicantumkan, bersamaan dengan wilayah Karibia Prancis. Saat unggahan tersebut beredar, Prancis tidak memberikan tanggapan pada waktu yang sama.
Menurut seorang pejabat kepresidenan Prancis yang menggelar pengarahan menjelang kunjungan, Saint Pierre dan Miquelon memiliki arti strategis karena lokasinya berada dekat perbatasan AS dan kawasan Arktik. Kedekatan geografis itu membuat wilayah tersebut menempati posisi penting dalam kerja sama lintas sektor dengan Kanada.
Isu energi menjadi salah satu sorotan pembicaraan Macron dengan Carney pada hari Minggu. Macron menyatakan, pemerintahannya menghadapi peningkatan tekanan di dalam negeri terkait kenaikan harga bahan bakar, sehingga kebijakan luar yang disepakati perlu berdampak langsung pada berbagai kepentingan ekonomi.
Dalam konteks itu, Macron menyampaikan keinginannya agar Kanada memperluas ekspor gas alam cair (LNG) ke Eropa. Ia menekankan bahwa ekspansi tersebut bukan terutama untuk Asia, melainkan ditujukan bagi kebutuhan pasar Eropa.
Pembahasan kedua pemimpin juga diarahkan pada hubungan Kanada dengan Uni Eropa. Diplomats menyebut, Uni Eropa telah membuka pintu bagi Ottawa untuk menjadi anggota asosiasi pertamanya, meski langkah integrasi yang lebih dalam tetap berpotensi menghadapi hambatan.
Prancis disebut berada di antara negara anggota Uni Eropa yang belum meratifikasi Perjanjian Ekonomi dan Perdagangan Komprehensif. Perjanjian itu telah disepakati lebih dari satu dekade lalu, dan penerapan sementara dimulai sembilan tahun setelahnya, namun sejumlah negara anggota belum menyelesaikan ratifikasi.
Dengan demikian, sebelum memasuki forum global di New York, Macron memilih memusatkan perhatian pada simbol kedaulatan di Saint Pierre dan Miquelon. Langkah tersebut juga memperlihatkan keterkaitan agenda luar negeri Prancis dengan dinamika ekonomi, energi, dan hubungan transatlantik yang sedang bergulir.












