Internasional

Tahanan politik G-15 Eritrea dipenjara 25 tahun: “Saya bahkan tak tahu apakah orangtua saya masih hidup”

×

Tahanan politik G-15 Eritrea dipenjara 25 tahun: “Saya bahkan tak tahu apakah orangtua saya masih hidup”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Eritrea's G-15 political prisoners: 'I don't even know if my parents are alive'

jurnalistik.co.id – Selama 25 tahun, keluarga-keluarga politisi Eritrea yang masuk dalam kelompok G-15 hidup dalam ketidakpastian yang sulit dijelaskan. Anak-anak dari para tahanan politik itu kini mendesak jawaban: apakah orang tua mereka masih hidup, dan mengapa mereka dipenjara tanpa proses hukum yang jelas.

Kisah ini dibawa keluar oleh Hanna Petros Solomon dan Ibrahim Sherifo, yang keduanya mengalami hari penangkapan itu sebagai luka yang tak pernah benar-benar pulih. Bagi Hanna, momen ketika ayahnya hilang dari kehidupan berawal dari perubahan besar yang bermula di tahun 2001.

Hanna menuturkan kenangan terakhirnya saat ayahnya, Petros Solomon, berangkat pada usia belasan tahun. Ia mengingat, ayahnya membawa rutinitas layaknya atlet: “He had a towel on his shoulders like a sportsman,” katanya kepada BBC, menambahkan bahwa ayahnya “used to work out every morning.”

Petros Solomon merupakan salah satu pemimpin senior selama perang kemerdekaan Eritrea yang berakhir pada 1993. Setelah kemerdekaan, ia pernah menjabat sebagai menteri pertahanan, lalu menteri luar negeri, dan kemudian memimpin kementerian perikanan sebelum masalahnya dimulai.

Pada Mei 2001, ia bersama 14 tokoh politik berpengaruh menandatangani surat terbuka kepada Presiden Isaias Afewerki. Surat itu meminta pelaksanaan konstitusi yang telah diratifikasi setelah kemerdekaan, sekaligus menuntut pemilihan umum tingkat nasional. Kelompok tersebut kemudian dikenal sebagai G-15.

Namun, pemerintahan Isaias tidak merespons kritik tersebut dengan baik. Pada dini hari 18 September 2001, aparat keamanan menempatkan diri di luar rumah 11 pejabat pemerintah senior di ibu kota, Asmara, atas perintah presiden.

Petros ditangkap saat ia keluar dari rumah dengan pakaian olahraga. Keluarga tidak mengetahui apa yang terjadi. Hanna kemudian tinggal bersama nenek dari pihak ayah karena ibunya, Aster Yohannes, sedang belajar di Amerika Serikat.

Beberapa hari setelah Petros menghilang, kenyataan mulai membentuk rupa yang paling menyakitkan. Hanna mengenang bagaimana ia mendengar cerita yang membuatnya merasa dikhianati oleh cara orang-orang membingkai ulang peristiwa itu. “My classmates told me that my father sold out his country.”

Hanna menjelaskan dampaknya pada dirinya: “That is when I understood how serious the situation was, and how people framed my dad and his colleagues who fought for the independence of their country. I was hurt.”

Di Amerika, Aster sangat terkejut dan mengalami guncangan yang berat. Ia bertanya kepada pejabat pemerintah apakah anak-anak bisa diberi paspor, tetapi permintaan itu ditolak. “She insisted nothing would happen to her, saying: ‘I haven’t done anything wrong, and am only coming to raise my children.’”

Setelah dua tahun kegelisahan—seraya dilaporkan menerima jaminan dari pejabat pemerintah—Aster akhirnya pulang. Hanna dan saudara-saudaranya ingin ibunya kembali, tetapi mereka juga takut. Hanna mengingat percakapannya lewat telepon: “I told her on the phone: ‘What if they arrest you?’

Hanna kemudian mengetahui bahwa Presiden Isaias sendiri telah menjanjikan keselamatan Aster. Meski begitu, harapan itu runtuh pada 11 Desember 2003 ketika keluarga menunggu ibunya di Bandara Internasional Asmara bersama penumpang lainnya. Ibunya tidak muncul melalui pintu kedatangan.

“It was a long, long wait. Eventually we gave up and went back home.” Setelah itu, keluarga mendapat kabar dari teman dan kerabat bahwa Aster terlihat berangkat di bandara dari sisi Amerika. Lalu, ada panggilan resmi yang meminta Aster mengambil bagasi.

Di titik itulah mereka memahami bahwa Aster telah tiba di Eritrea, tetapi tidak akan kembali pulang ke kehidupan keluarganya. Upaya permintaan informasi setelahnya dipandang sia-sia; otoritas bahkan memperingatkan nenek Hanna agar berhenti menanyakan kabar.

Belakangan keluarga mendengar bahwa Aster ditahan di penjara Karshelli di pusat Asmara. Sementara itu, ayah Hanna dipercaya berada bersama tahanan lain di penjara Ela-Ero—wilayah terpencil di dataran rendah timur laut Asmara yang dikenal keras dan penuh kerahasiaan.

Hanna menyebut bahwa tidak ada satu pun dari para tahanan itu pernah dibawa ke persidangan, maupun diberi kesempatan bertemu keluarga. Tuduhan yang dikenakan adalah pengkhianatan, dan penahanan berlangsung tanpa proses hukum yang dapat diverifikasi.

Di waktu yang sama, pemerintah juga menutup media independen yang baru tumbuh, lalu menahan para editor dan jurnalis. Mereka juga diyakini dipenjarakan di Ela-Ero. Menurut cerita yang dihimpun, tindakan itu mempersempit ruang publik—ketika pertanyaan tentang nasib para tahanan justru makin sulit dijawab.

Pemerintah Eritrea, termasuk kedutaan di Inggris, tidak memberikan respons atas permintaan komentar BBC mengenai lokasi tahanan dan apakah mereka masih hidup. Hanna, yang memilih meninggalkan negara akibat ketakutan terhadap wajib militer dan pencarian peluang yang lebih baik, pergi secara sembunyi-sembunyi menyeberang tanpa paspor.

Saat ini Hanna berusia 35 tahun. Ia sudah menikah dan tinggal di Amerika Serikat, bekerja sebagai spesialis trauma. Tetapi ia tetap merasa terluka oleh cara ia kehilangan orang tuanya—dan oleh ketidakpastian yang membayangi setiap ingatan yang ia simpan.

Ia menatap foto-foto lama orang tuanya dengan kecemasan bahwa ingatan akan memudar: tawa keluarga, pertemuan sederhana, hingga perayaan ulang tahun. “My dad always wanted to gather people in the house, they were good days.”

Ia juga merindukan sandwich telur dan kentang ibunya yang, menurutnya, “unmatched.” Saat ayahnya menjabat sebagai menteri perikanan, Hanna ingat ayahnya mengatur kompetisi bernyanyi di dalam mobil: “He would ask us to sing one by one and whoever won would get a present.”

Salah satu lirik lagu favorit ayahnya adalah, “I had a sweater, a blue sweater, that my sister took.” Hanna mengatakan lirik itu mengingatkannya pada kakak perempuannya yang juga pejuang kemerdekaan dan tewas dalam perang. Ia juga menyimpan ingatan tentang ibunya yang mencintai musik—memainkan dan bernyanyi lagu-lagu dari Abba, Dolly Parton, dan Whitney Houston.

Sebelum ayahnya ditangkap, September baginya penuh harapan karena tiga perayaan besar Kristen Ortodoks, termasuk Tahun Baru Geez. Kini, bulan itu tidak lagi membawa kegembiraan apa pun.

Ibrahim Sherifo memahami perasaan Hanna dengan cara yang hampir sama. Keduanya berasal dari lingkaran keluarga yang sama: Ibrahim menyebut bahwa kedua orang tuanya, yang merupakan anggota senior Partai People’s Front for Democracy and Justice (PFDJ), termasuk di antara orang-orang G-15 yang ditangkap 25 tahun lalu. Ibrahim berusia 13 tahun saat penangkapan itu terjadi.

Ia mengatakan pada BBC bahwa tanggal itu berarti lebih dari sekadar kehilangan pribadi. “For me 18 September 2001 is a dark day, but not only for me, it is a dark day for Eritrea and its people, because it is the day when law and democracy was detained,”

Kini Ibrahim berusia 38 tahun dan tinggal dalam pengasingan di Belanda, tempat ia memperoleh suaka. Ia menempuh pendidikan pascasarjana (MA) dalam ilmu politik, mengikuti jejak ayahnya.

Ayah Ibrahim, Mahmoud Ahmed Sherifo, adalah menteri pemerintahan daerah dan, menurut catatan, menjabat sebagai wakil presiden secara de facto sebelum penahanannya. Ibrahim mengingat ibunya, Aster Fissehatsion, yang sedang tinggal bersama adik perempuannya saat agen keamanan mengetuk pintu dini hari dan membawa ibunya dengan pakaian tidur.

Khawatir pada ayahnya, Ibrahim langsung berlari ke rumah terdekat, tetapi diberitahu bahwa ayahnya sudah diambil saat ia keluar untuk berolahraga. Seperti Hanna, Ibrahim juga menekankan rasa terima kasih kepada teman dan keluarga yang membantu mengasuh mereka tanpa orang tua—meski ada risiko yang terus mengintai.

Ia menegaskan kebanggaan atas sikap kedua orang tuanya yang berani menuntut perubahan. “They had conscience and couldn’t observe idly while what they fought for what had been hijacked by Isaias and his coterie,” ujarnya. “As a family, we should be informed whether they are alive or not,” tambahnya, sembari menuduh pemerintah ingin menghapus ingatan tentang para tahanan politik.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyebut para tahanan G-15 sebagai tahanan hati nurani dan menyerukan pembebasan mereka. Presiden Isaias, yang kini berusia 80 tahun, disebut belum menerapkan konstitusi pertama negara—yang disetujui pada 1997—serta tetap berkuasa tanpa pernah menggelar pemilihan umum.

Bagi Hanna, luka itu juga berlapis pada hal-hal kecil yang sebenarnya sederhana. Ia mengingat pada malam sebelum ayahnya menghilang, ia merasakan firasat buruk dan mencoba menahan ayahnya agar tidak pergi. Ia menuturkan bahwa ia merayap ke tempat tidur ayahnya dan mengikat kaki sang ayah dengan tali saat ia tidur, lalu ketika pagi tiba, ayahnya terbangun dan melepaskan dirinya dengan menarik kaki Hanna. “I begged him not to leave but he assured me that he would return [after his run].”

Ia menggambarkan bertahun-tahun menanggung duka seperti tinggal di kedalaman laut. “Sometimes it is calm and you can float, but other times the sorrow comes back to you like a wave and drowns you deep down.” Ia menambahkan, “Sometimes you lose hope and you are out of breath.”

Jika ia bisa mengirim pesan pada orang tuanya, Hanna berkata dengan tenang tetapi tegas: “Don’t worry about us.” Ia melanjutkan harapan yang sama yang menuntunnya bertahan sampai hari ini: “Like you survived the struggle through sheer steadfastness, we hope you can pull through this too and return to us.”