Internasional

Houthis Yaman disebut menguasai pelabuhan penting di Laut Merah, Mokha

×

Houthis Yaman disebut menguasai pelabuhan penting di Laut Merah, Mokha

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Yemen's Houthis reportedly seize strategic Red Sea port of Mokha

jurnalistik.co.id – Gerakan Houthi di Yaman dilaporkan merebut kota pelabuhan strategis Mokha di Laut Merah dari pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi. Perubahan kendali ini diperkirakan akan membuat kelompok yang didukung Iran itu makin dekat menguasai perairan Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran utama di kawasan tersebut.

Menurut sumber militer, Mokha jatuh ke tangan Houthi setelah pergeseran kendali dari pasukan pro-pemerintah. Pelabuhan tersebut berada di bagian selatan Laut Merah, sekitar 75 kilometer dari Bab al-Mandab yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Sejak ofensif diluncurkan sepekan lalu di wilayah pesisir barat daya Yaman, dampak pertempuran disebut sudah sangat besar. Laporan menyebut ratusan orang tewas dan ribuan lainnya mengungsi.

Selain persoalan perebutan wilayah, perkembangan terbaru juga disebut beriringan dengan eskalasi konflik Houthi dengan Arab Saudi. Eskalasi itu berkontribusi pada lonjakan harga minyak global.

Serangan drone dan rudal serta dampaknya

Pada hari Selasa, otoritas Arab Saudi menyatakan Houthi melancarkan puluhan drone dan rudal ke wilayah Arab Saudi bagian selatan. Serangan tersebut dilaporkan melukai 73 warga sipil dan memicu kebakaran di beberapa fasilitas minyak.

Akibat kebakaran tersebut, operasi di beberapa fasilitas disebut sempat dihentikan untuk sementara waktu. Klaim rincian dampak serangan tersebut disampaikan oleh pihak berwenang Saudi.

Di sisi lain, Houthi menyebut serangan itu sebagai bagian dari pembalasan terhadap rangkaian serangan udara Saudi. Kelompok tersebut mengaitkan tindakan mereka dengan serangan-serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di wilayah barat laut Yaman.

Houthi menyinggung satu serangan di sebuah penjara di kota Hazm, Provinsi Jawf. Pejabat setempat menyatakan serangan tersebut menewaskan sedikitnya 23 warga sipil.

Perang sipil dan dinamika koalisi

Sejak lebih dari satu dekade, Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab yang mendukung pemerintah Yaman melawan Houthi. Perang sipil ini telah menjadi salah satu konflik paling menghancurkan di kawasan.

Dalam kerangka itulah perebutan Mokha dibaca sebagai langkah yang memperkuat posisi Houthi di jalur-jalur strategis. Mengingat Bab al-Mandab merupakan lintasan penting untuk perdagangan dan pelayaran lintas kawasan, kendali atas titik-titik terkait dapat memengaruhi arus logistik regional.

Houthi juga sebelumnya mengaitkan tindakan militer mereka dengan upaya menekan infrastruktur dan akses yang dianggap menjadi saluran kepentingan Saudi. Pernyataan mereka menempatkan eskalasi sebagai respons timbal balik, bukan serangan tanpa alasan.

Upaya gencatan dan alasan pembentukan “embargo maritim”

Dalam konflik yang panjang itu, sebuah gencatan senjata informal selama empat tahun disebut mulai melemah pada Juli. Titik baliknya muncul ketika Houthi mengumumkan “embargo maritim” terhadap Arab Saudi.

Setelah pengumuman tersebut, Houthi melancarkan serangan berbasis rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Serangan ditujukan pada bandara, fasilitas minyak, serta kapal tanker yang beroperasi di wilayah Laut Merah.

Kelompok Houthi menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan balasan atas blokade Arab Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah mereka. Houthi juga menyebut serangan udara terhadap Bandar Udara Sanaa, yang menurut mereka dilakukan oleh pihak kerajaan.

Dengan demikian, rangkaian pertempuran yang kini meluas ke wilayah pesisir barat daya tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan pola aksi-misi yang saling menekan antara kedua kubu, termasuk melalui serangan di titik-titik yang berkaitan dengan akses logistik dan infrastruktur energi.

Ketika ketegangan meningkat, narasi yang muncul dari kedua pihak menunjukkan hubungan sebab-akibat yang saling berlawanan. Arab Saudi menekankan dampak serangan Houthi terhadap warga dan fasilitas, sedangkan Houthi menekankan pembalasan atas serangan Saudi di wilayah yang mereka sebut sebagai sasaran militer.

Kepentingan Laut Merah bagi ekspor energi

Peran Laut Merah bagi kepentingan energi juga disebut menjadi faktor penting. Laut Merah menjadi krusial bagi ekspor minyak Arab Saudi, khususnya sejak dimulainya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dalam laporan tersebut, disebutkan perang itu berujung pada penutupan yang “efektif” terhadap Selat Hormuz di Teluk Persia. Dengan kondisi itu, jalur-jalur lain yang menghubungkan wilayah produksi dan pasar menjadi semakin menentukan bagi pergerakan energi dan harga di pasar global.

Di tengah situasi tersebut, perebutan Mokha memberi isyarat bahwa pertarungan tidak hanya bersifat lokal. Kendali atas kota pelabuhan di sepanjang Laut Merah dapat memengaruhi kemampuan pihak-pihak yang bertikai untuk mengatur arus pelayaran serta meningkatkan tekanan strategis.

Dengan berlanjutnya operasi di wilayah pesisir dan eskalasi yang saling bersambut, konflik di Yaman disebut berpotensi menimbulkan dampak lebih luas. Lonjakan harga minyak dan gangguan operasional fasilitas energi menjadi sebagian dari efek yang sudah terlihat.