Peristiwa

Lebih dari 20 anak dikhawatirkan tewas dalam kebakaran sekolah di Bukavu, DR Kongo

×

Lebih dari 20 anak dikhawatirkan tewas dalam kebakaran sekolah di Bukavu, DR Kongo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: More than 20 children feared dead in DR Congo school fire

jurnalistik.co.id – Lebih dari 20 anak dikhawatirkan tewas dalam kebakaran yang melanda dua sekolah di Bukavu, Kota besar di bagian timur Republik Demokratik Kongo. Seorang pejabat setempat mengatakan dugaan itu muncul setelah kepanikan dan desakan saat warga mencoba menyelamatkan diri dari kobaran api.

Menurut informasi yang disampaikan otoritas di daerah tersebut, sedikitnya 24 pelajar sekolah dasar kini dikhawatirkan meninggal dunia akibat situasi yang dinilai mirip dengan insiden berdesakan. Kepanikan itu terjadi ketika orang-orang berupaya melarikan diri dari area yang terbakar.

Selain anak-anak, laporan juga menyebut adanya orang dewasa yang turut meninggal dalam kebakaran. Di Kadutu, sebuah komune yang padat penduduk, muncul kekhawatiran jumlah korban bisa bertambah seiring proses penanganan dan pendataan.

Para penyintas telah dibawa ke rumah sakit terdekat. Rekaman situasi yang beredar memperlihatkan anak-anak yang terbaring di lantai ruang perawatan dan tampak menahan rasa sakit.

Api melalap dua sekolah, ratusan rumah rusak

Kebakaran tersebut menghanguskan dua sekolah sekaligus, namun dampaknya tidak berhenti di lingkungan pendidikan. Sejumlah 300 rumah juga dilaporkan hancur akibat insiden itu.

Hingga saat ini, penyebab kebakaran belum diketahui. Seorang saksi yang dikutip Reuters menyatakan api sudah berhasil dipadamkan pada sore hari, tetapi asap masih terlihat membubung dari reruntuhan dan material berbahan seng/gelombang.

Di tengah upaya pemadaman dan pencarian korban, kondisi lokasi yang tersisa berupa puing-puing bangunan dan bagian atap yang runtuh. Masyarakat setempat kemudian menunggu proses verifikasi jumlah korban secara resmi.

Rebel-held Bukavu juga dikenal sebagai kota perbukitan yang sangat padat. Kota ini merupakan ibu kota Provinsi South Kivu, dan pernah jatuh ke tangan pasukan M23 pada Februari tahun lalu, sehingga pengelolaan otoritas wilayah dilakukan melalui otoritas yang ditunjuk pihak pemberontak.

Sejauh ini, otoritas yang ditunjuk tersebut menyebut sedang menilai situasi dan akan merilis angka kematian sementara pada sore atau malam ini. Sementara itu, mereka juga berupaya memastikan bahwa korban yang ditemukan segera ditangani.

Di sisi lain, pemerintah pusat di Kinshasa merespons melalui pernyataan di platform X, meski tidak menyebut angka korban secara rinci. Dalam rilisnya, pemerintah menyatakan turut berduka atas kebakaran yang menewaskan dan melukai warga.

Kementerian yang menangani pendidikan serta kewarganegaraan menyampaikan kesedihan mendalam atas musibah ini. Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa beberapa nyawa telah hilang dan banyak orang mengalami luka, namun jumlah korban masih bersifat sementara.

Selain menyampaikan belasungkawa, pernyataan pemerintah menyebut menteri menyatakan solidaritas kepada keluarga yang terdampak. Pemerintah juga memerintahkan adanya penilaian terhadap sekolah-sekolah yang terkena dampak agar kesinambungan kegiatan belajar dapat dijaga.

Tragedi ini datang setelah kebakaran serupa terjadi di Kinshasa pada akhir pekan lalu. Kala itu, sejumlah warga dilaporkan meninggal dunia akibat desakan berdesakan saat terjadi kepanikan di sebuah aula pesta pernikahan.

Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, pemerintah menyatakan telah menginstruksikan penerapan langkah keselamatan yang lebih ketat. Tim juga dikerahkan secara nasional untuk mengawasi standar keselamatan di tempat-tempat berkumpul masyarakat.

Dengan laporan awal yang masih bergantung pada pendataan di lapangan, publik menunggu angka resmi yang akan diumumkan otoritas setempat. Di saat yang sama, proses penanganan korban di rumah sakit dan evaluasi kondisi bangunan yang terbakar menjadi bagian penting dalam memastikan tidak ada yang terlewat.

Hingga kabar berikutnya dirilis, kabut asap dari sisa kebakaran dan kerusakan yang luas di Bukavu menjadi pengingat bahwa ruang publik, termasuk sekolah, membutuhkan perlindungan yang memadai. Ketika angka korban terus diverifikasi, perhatian juga diarahkan pada upaya pemulihan agar aktivitas pendidikan dapat berjalan kembali.