jurnalistik.co.id – Iran menyampaikan peringatan keras setelah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Peringatan itu disampaikan melalui pernyataan pejabat tinggi Iran yang menekankan bahwa balasan akan berlangsung lebih cepat dan lebih berat.
Dalam keterangan yang dilaporkan kantor berita dan merujuk pada terjemahan pernyataannya di media pemerintah, juru runding utama Iran disebut menyampaikan ancaman dengan frasa “a faster, heavier, and more painful response”. Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan kedua pihak makin memanas, menyusul rangkaian serangan yang saling dibalas.
Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjabat sebagai pembicara parlemen, mengatakan pada hari Minggu bahwa pihak Amerika harus memahami “before it is too late”. Ia menegaskan bahwa “the rules of the game have changed”, merujuk pada perubahan cara permainan berjalan dalam eskalasi saat ini.
Ghalibaf menyampaikan peringatan tersebut pada saat konflik yang sempat mereda kembali bergerak. Pernyataan itu muncul hampir sepekan setelah pertempuran diperbarui antara Iran dan AS, serta sehari setelah Washington menyatakan telah menyerang kapal tanker Iran.
Menurut keterangan dari Washington, serangan terhadap kapal tanker itu dilakukan sebagai respons atas serangan Teheran terhadap kapal perang Amerika di perairan kawasan. Rangkaian tudingan dan bantahan ini membentuk pola balas-membalas yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
BBC menyatakan telah menghubungi US Central Command (Centcom) untuk mendapatkan komentar terkait situasi terbaru. Namun, laporan yang beredar tetap menampilkan perbedaan versi antara media pemerintah Iran dan penjelasan pihak militer AS.
Di sisi Iran, media pemerintah juga melaporkan pada hari Minggu bahwa Angkatan Laut setempat melakukan serangan terhadap sebuah kapal yang dikendalikan jarak jauh milik Amerika. Kapal tersebut disebut berupaya memasuki Selat Hormuz, sebuah jalur strategis di kawasan.
Pihak militer AS membantah klaim tersebut. Captain Tim Hawkins, juru bicara Centcom, menyebut, “The report came from Iranian state media and it’s a total lie,” sebagaimana dilaporkan Associated Press.
Berita Terkait
Di saat yang sama, ancaman dari pihak AS turut dipublikasikan melalui pernyataan pejabat pertahanan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menuliskan di media sosial pada hari Sabtu: “It’s simple: if Iran shoots at US ships, we will destroy (and sink) their oil tankers.”
Di luar pernyataan ancaman, latar eskalasi juga terkait tenggat kesepakatan. Sebuah gencatan senjata selama 60 hari antara AS dan Iran secara formal berakhir bulan lalu, sehingga masa relatif tenang tidak bertahan lama.
Setelah periode itu berakhir, situasi berubah ketika AS kembali melancarkan serangan pada hari Minggu minggu lalu. Sejak saat itu, pertukaran serangan berlanjut sepanjang pekan, dengan keduanya saling melakukan respons di area yang lebih luas.
Dalam perkembangan yang disebut berlangsung dari hari ke hari, AS melaporkan peluncuran beberapa serangan terhadap target-target yang terkait Iran. Sebaliknya, Iran menyatakan melakukan pembalasan terhadap target milik AS di kawasan, termasuk wilayah di Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Di tingkat politik, Presiden Donald Trump juga menyampaikan pandangannya mengenai keberlanjutan konflik. Ia mengatakan bahwa pertempuran yang diperbarui “would not last “too long””, sekaligus mengulang komentar yang kerap disampaikan ia maupun pihak pemerintahannya sejak perang kini berlangsung selama enam bulan, dimulai pada Februari.
Meski sebelumnya sempat ada proses negosiasi antara AS dan Iran, tidak ada tanda bahwa upaya tersebut menghasilkan perdamaian yang bertahan. Menurut laporan, tidak terlihat kemajuan yang cukup untuk mengarah pada penyelesaian diplomatik lebih lanjut dalam waktu dekat.
Pernyataan Ghalibaf dan ancaman dari pejabat AS, baik melalui klaim serangan maupun peringatan lanjutan, memperlihatkan bahwa eskalasi tidak hanya berhenti pada satu insiden. Yang terjadi justru mengarah pada siklus respons yang saling menguatkan, dengan retorika yang makin keras dari kedua pihak.
Dengan konflik yang berulang dan pernyataan saling membantah, situasi di kawasan tetap rentan terhadap gelombang eskalasi berikutnya. Bagi pihak Iran, pesan utamanya adalah bahwa balasan akan datang lebih “faster, heavier, more painful response” dan diarahkan untuk membuat Amerika memahami konsekuensi sebelum “before it is too late”.












