jurnalistik.co.id – Kepulan asap hitam dilaporkan terlihat di kawasan sekitar Bandara Internasional Riyadh beberapa jam setelah peringatan serangan udara dikeluarkan bagi ibu kota Arab Saudi. Warga juga melaporkan terdengarnya suara-ledakan disertai gangguan besar di sejumlah lokasi.
Ini merupakan kali pertama penduduk Riyadh menerima peringatan langsung untuk berlindung di dalam rumah sejak eskalasi konflik yang melibatkan kelompok pemberontak Houthi, yang didukung Iran, di Yaman. Dalam situasi itu, otoritas juga meminta warga tetap waspada terhadap potensi bahaya.
Setelah peringatan diumumkan, beberapa laporan menyebutkan sejumlah ledakan sempat terdengar bergema di wilayah kota. Sejumlah warga yang berbicara kepada AFP mengungkapkan bahwa mereka melihat dampak di dekat bandara.
“In the direction of the airport we saw black smoke and fire,” kata seorang warga kepada AFP dengan syarat anonim. Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi yang terlihat di sekitar area penerbangan setelah peringatan diterbitkan.
Di saat yang sama, King Khalid International Airport dilaporkan mengalami masalah signifikan. Situs pelacakan penerbangan, FlightRadar24, melaporkan adanya penundaan panjang dan pembatalan sejumlah penerbangan.
Salah satu laporan menyebutkan ada tangki bahan bakar yang dilaporkan terbakar di dekat bandara. Belakangan, AFP melaporkan petugas pemadam kebakaran terlihat berupaya memadamkan api dari tangki bahan bakar milik perusahaan minyak dan gas negara, Aramco.
Pihak berwenang Arab Saudi belum memberikan komentar resmi terkait laporan-laporan tersebut. Namun, rangkaian peringatan telepon sudah lebih dulu disalurkan kepada warga pada malam hari.
Berita Terkait
Saudi Civil Defence mengirimkan peringatan melalui telepon mengenai kemungkinan bahaya di Riyadh dan wilayah lainnya sebelum akhirnya mengeluarkan “all-clear” pada Sabtu pagi. Mekanisme peringatan itu muncul sebagai respons atas situasi keamanan yang sedang meningkat.
Menurut kesaksian warga kepada AFP, suara yang terdengar setelah peringatan dikeluarkan memiliki kemiripan dengan rentetan ledakan. Gema suara tersebut disebut muncul setelah peringatan mulai diterima, lalu diikuti laporan adanya asap dan api di area bandara.
Di sisi lain, Houthi pada Jumat mengumumkan bahwa mereka telah menggagalkan serangan Saudi terhadap ibu kota Yaman, Sanaa. Pengumuman itu menyebut serangan yang dilaporkan terjadi memiliki ciri-ciri operasi yang dikaitkan dengan kelompok Islamic State.
Juru bicara militer Houthi, Yahya al-Sarea, menyatakan Arab Saudi telah melakukan 300 kali serangan di seluruh Yaman selama sepekan terakhir. Ia juga memperingatkan bahwa serangan yang dilaporkan menarget Sanaa “not go unanswered”.
Kelompok Houthi saat ini terlibat dalam perang saudara dengan pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Dalam perkembangan terkini, mereka juga merebut kendali atas kota pelabuhan strategis Mokha serta Perim Island, yang disebut menjadi gerbang menuju jalur pelayaran penting.
Houthi menyatakan bahwa pengepungan atau blokade laut yang mereka terapkan merupakan balasan atas blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah barat laut Yaman yang berada dalam kendali Houthi. Pernyataan itu menempatkan eskalasi di jalur perdagangan maritim sebagai bagian dari dinamika konflik yang sedang berjalan.
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa kapal-kapal Saudi bergantung pada bentangan Laut Merah untuk ekspor minyak. Ketergantungan tersebut disebut berlangsung sejak perang AS dan Israel dengan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz.
Sementara itu, di Riyadh, rangkaian peringatan, laporan kepulan asap, dan gangguan di bandara menegaskan bahwa dampak dari situasi keamanan di kawasan tidak hanya terasa di medan konflik, tetapi juga menyentuh infrastruktur penerbangan dan aktivitas harian di ibu kota.












