jurnalistik.co.id – Anggota kabinet Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tetap berada di pesawat umpan setelah Trump diam-diam meninggalkan pesawat itu, lalu naik penerbangan lain di Turki pada bulan lalu. Informasi ini disampaikan CBS News, sebagaimana dilaporkan BBC News.
Dua pejabat kabinet yang disebut dalam laporan tersebut adalah Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent. Keduanya tidak ikut berpindah ke penerbangan yang disediakan khusus untuk Trump.
Menurut laporan, Rubio dan Bessent tetap berada di pesawat yang diduga merupakan Air Force One. Mereka tidak bergabung dengan penerbangan yang disiapkan untuk Trump karena kekhawatiran terkait aspek keamanan, khususnya yang melibatkan Iran.
Peristiwa pengaturan penerbangan itu berawal setelah Trump masuk ke pesawat yang disebut sebagai Air Force One pada 8 Juli. Saat itu, baik kedua pejabat kabinet maupun sejumlah anggota pers berada di dalam pesawat tersebut.
Setelah masuk, Trump dikabarkan bersembunyi dengan cara beralih ke kendaraan katering. Ia kemudian diangkut secara diam-diam menuju pesawat militer yang berbeda.
Dalam laporan itu dijelaskan bahwa label “Air Force One” sesungguhnya berlaku untuk pesawat mana pun yang sedang ditumpangi presiden. Namun, dalam kasus yang dimaksud, pesawat pertama—yang kemudian berfungsi sebagai umpan—tetap mempertahankan sinyal panggilan (call signal).
Dengan sinyal panggilan yang tetap digunakan, pesawat asli terus diperlakukan seolah-olah masih membawa Trump, sehingga menciptakan kesan bahwa presiden masih berada di dalamnya. Sementara itu, Trump sendiri sudah berpindah secara terselubung ke pesawat lain.
Berita Terkait
Keputusan bagi Rubio dan Bessent untuk tetap berada di pesawat umpan juga diposisikan sebagai bagian dari pertimbangan keamanan. Mengingat kekhawatiran yang disebut mencakup Iran, mereka tidak dibawa mengikuti penerbangan yang disediakan untuk Trump.
Rangkaian langkah ini memperlihatkan perbedaan pergerakan antara presiden dan rombongan intinya. Saat Trump berpindah ke penerbangan lain melalui jalur yang dirahasiakan, kedua pejabat kabinet justru melanjutkan keberadaan mereka di pesawat yang diyakini sebagai Air Force One.
Terpisahnya rute Trump dari rute anggota kabinet, menurut laporan, terjadi dalam konteks penerbangan yang berlangsung di Turki. Laporan tersebut juga menegaskan bahwa perpindahan Trump dilakukan sebelum ia naik penerbangan yang berbeda.
Dengan demikian, pesawat umpan yang menampilkan sinyal panggilan “Air Force One” berperan sebagai lapisan pengelabuan. Sementara itu, Rubio dan Bessent tetap berada di pesawat tersebut, tidak ikut penerbangan susulan yang disiapkan untuk Trump.
Laporan ini menempatkan detail teknis dan operasional dalam satu rangkaian tindakan: Trump masuk Air Force One pada 8 Juli bersama pejabat dan pers, kemudian bersembunyi di kendaraan katering untuk dibawa secara diam-diam ke pesawat militer lain. Setelah perpindahan itu, pesawat awal dengan sinyal “Air Force One” tetap menjadi lokasi yang ditinggali anggota kabinet yang disebut.
Skenario tersebut, seperti tertulis dalam laporan CBS News yang dikutip BBC News, pada akhirnya menjelaskan mengapa Marco Rubio dan Scott Bessent tetap berada di pesawat umpan. Perbedaan keputusan tersebut tidak hanya berkaitan dengan logistik penerbangan, tetapi juga diletakkan pada pertimbangan keamanan yang dikaitkan dengan Iran.
Dalam laporan yang sama, penjelasan mengenai “Air Force One” juga ditegaskan sebagai bagian dari cara kerja yang lebih luas: panggilan itu digunakan untuk pesawat apa pun yang sedang ditumpangi presiden. Karena itu, ketika sinyal panggilan tetap dipertahankan pada pesawat awal, orang di luar bisa mengira Trump masih berada di sana, sementara perubahan sesungguhnya telah terjadi pada bagian lain dari rute.
Urutan pergerakan yang digambarkan memperlihatkan bahwa perpindahan Trump tidak langsung diikuti oleh rombongan kabinet yang disebut. Rubio dan Bessent memilih tetap berada dalam pesawat yang diduga menjadi lokasi penumpang utama, sejalan dengan pertimbangan keamanan yang disebut terkait Iran. Dengan demikian, laporan menggambarkan adanya penataan jalur yang sengaja dipisahkan: presiden bergerak lewat penerbangan lain, sedangkan dua pejabat kabinet melanjutkan keberadaan mereka di pesawat umpan.












