Pendidikan

Deborah Prentice: Saya memahami kekhawatiran atas penunjukan Jason Arday di Cambridge

×

Deborah Prentice: Saya memahami kekhawatiran atas penunjukan Jason Arday di Cambridge

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: I share concerns over Arday appointment, says Cambridge University head

jurnalistik.co.id – Rektor Universitas Cambridge, Deborah Prentice, mengatakan ia memahami kekhawatiran publik terkait penunjukan Jason Arday. Dalam surat kepada staf, ia mengakui adanya “anger and anxiety around this damaging and difficult case”.

Prentice menyatakan bahwa ia turut merasakan kegelisahan tersebut. Ia menegaskan penyelidikan kampus akan dilakukan secara independen oleh akademisi senior dari dalam maupun luar Cambridge, dan akan dimulai “as soon as possible”.

Langkah itu muncul setelah Arday mengundurkan diri dari jabatan profesor Cambridge bidang sosiologi pendidikan pada pekan lalu. Keputusannya terkait tuduhan plagiarisme serta pertanyaan mengenai beberapa pencapaiannya.

Arday, yang berusia 41 tahun, menolak tuduhan plagiarisme. Ia mengatakan polemik yang terjadi belakangan ini telah memunculkan “an unrelenting level of public scrutiny and personal attack”.

Sebagaimana disampaikan dalam pemberitaan, Arday menjadi profesor kulit hitam termuda di Cambridge pada 2023. Ia juga sebelumnya menempuh pendidikan doktoral di Liverpool John Moores University (LJMU), setelah bekerja sebagai guru pendidikan jasmani.

Universitas menjelaskan bahwa penanganan tuduhan plagiarisme yang terkait tesis Arday dan sebagian publikasi jurnal pernah dikaji oleh LJMU serta jurnal-jurnal yang dimaksud. LJMU—yang menganugerahkan PhD kepada Arday pada 2015—meneliti tuduhan yang muncul tahun lalu dan menyimpulkan ia tidak melakukan plagiarisme.

Dalam wawancara dengan Times, Arday membela diri dengan menyatakan ia tidak mendapatkan supervisi yang memadai selama studi PhD. Ia mengaitkannya dengan kondisi autisme dan “learning disabilities”.

Menurut surat yang disampaikan Prentice, Cambridge akan menelusuri “That investigation, as you say, should be thorough and transparent” serta memastikan proses tersebut independen. Ia menekankan bahwa fokus penyelidikan mencakup keadaan sekitar penunjukan Arday oleh fakultas pendidikan pada 2022 dan masa Arday di Cambridge sejak penunjukan yang berlangsung hampir empat tahun.

Temuan dari penyelidikan yang sebelumnya diumumkan pada Jumat lalu, kata universitas, akan menjadi masukan untuk peninjauan atas proses penunjukan peran akademik senior. Prentice juga menegaskan bahwa “our staff of colour are highly valued, for their scholarship, their achievements, and the contributions they make” dan menyatakan kasus ini “should not be used to cast aspersions on their work or the legitimacy of their roles at Cambridge”.

Universitas sebelumnya menyatakan pihaknya telah memberi arahan kepada masyarakat untuk menghubungi institusi yang relevan atau meneruskan keluhan. Namun setelah Cambridge mengumumkan penyelidikan internalnya, sebagian akademisi mendorong agar proses tersebut independen, sembari mempertanyakan apakah kampus dapat secara memadai menilai prosedur penunjukan mereka sendiri.

Pihak Cambridge belum menjelaskan secara rinci bagaimana investigasi independen itu akan dijalankan atau siapa yang akan memimpinnya. Sejauh ini, yang dipastikan adalah universitas akan meninjau penunjukan Arday pada 2022 serta perjalanannya setelah mulai menjabat.

Sebelum menjadi profesor sosiologi pendidikan di Glasgow, Arday pernah menjadi associate professor di Durham. Saat mengundurkan diri, Arday juga menyatakan ia bukan “a ‘liar’” dan bahwa pengunduran dirinya “should not be mistaken for an acceptance of the narratives that have surrounded me.” Glasgow kemudian mengumumkan peninjauan terhadap jabatan akademik Arday sebelumnya.

Dalam suratnya, Prentice menekankan bahwa penyelidikan harus mencerminkan prinsip ketelitian dan keterbukaan, sekaligus menegaskan bahwa proses tersebut tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan secara sepihak. Ia menyatakan tinjauan akan menjangkau konteks di balik penunjukan Arday pada 2022 oleh fakultas pendidikan, serta perjalanan Arday di Cambridge selama masa menjabat yang berlangsung hampir empat tahun, termasuk bagaimana prosedur dijalankan.

Di sisi lain, Arday tetap menolak tuduhan plagiarisme dan menggarisbawahi bahwa polemik yang berkembang membuat tekanan publik semakin berat. Ia juga menyebut bahwa permasalahan yang ia hadapi selama menempuh studi doktoral—khususnya soal pendampingan akademik—berkaitan dengan kondisi autisme serta adanya learning disabilities, yang menurutnya turut membentuk cara ia menjalani proses penelitian.

Cambridge juga belum merinci langkah teknis bagaimana investigasi independen itu akan dijalankan, termasuk pihak yang akan memimpin prosesnya. Namun universitas memastikan fokusnya adalah peninjauan terhadap penunjukan Arday dan rangkaian peristiwa setelah ia mulai menjabat. Dalam konteks ini, Cambridge mengingatkan bahwa penelaahan atas tuduhan plagiarisme yang sempat dikaitkan dengan tesis dan publikasi jurnal telah pernah ditinjau melalui LJMU dan jurnal-jurnal terkait, sebelum kesimpulan yang menyatakan Arday tidak melakukan plagiarisme menjadi rujukan.