jurnalistik.co.id – Gangguan lalu lintas udara di Inggris berujung penundaan panjang, pembatalan penerbangan, dan situasi kacau di bandara. Ratusan ribu penumpang disebut terdampak selama Selasa dan Rabu setelah masalah teknis memicu gangguan layanan kendali lalu lintas udara.
Menurut informasi yang disampaikan penyedia layanan lalu lintas udara, Nats, operasi penerbangan kemudian dinyatakan kembali stabil. Namun sejumlah maskapai tetap mengingatkan adanya efek lanjutan yang bisa membuat jadwal perjalanan tetap tidak menentu.
Pihak Nats juga meminta maaf atas gangguan tersebut. Di hari Rabu, kepala Nats Martin Rolfe bertemu dengan Menteri Perhubungan Heidi Alexander untuk membahas investigasi menyeluruh atas insiden yang terjadi.
Gangguan itu melanda sejumlah bandara utama, termasuk Heathrow, Gatwick, Luton, dan Glasgow. Penumpang pun diminta memeriksa status penerbangan sebelum berangkat ke bandara agar tidak terjebak ketidakpastian jadwal.
Di Gatwick, pasangan baru menikah Sasha dan James Graham menceritakan momen yang mengubah rencana liburan bulan madu mereka. Saat akan menaiki pesawat dari Gatwick menuju Funchal di pulau Madeira, mereka mengatakan pesawat “turned right back around”.
Sasha menyebut mereka akhirnya terdampar selama tiga jam di Wetherspoons. Dalam laporannya kepada BBC, ia mengatakan, “We spent three hours stranded in Wetherspoons, making the best of it. “It’s certainly not the experience we planned, but I think starting your marriage with a national disruption is certainly very memorable!””
Rencana awal untuk menjalani bulan madu pun berubah drastis. Sasha menambahkan, “It feels like we will spend our honeymoon at Gatwick,” serta mengungkap bahwa mereka tidak sempat mengambil bagasi saat itu, sebelum kemudian memesan penerbangan baru.
Di ruang pengambilan bagasi, suasananya digambarkan makin panas karena antrean tak terkendali. Phil White menceritakan bahwa di Gatwick, “carnage” terjadi ketika ribuan penumpang berupaya mencari koper mereka dalam waktu yang bersamaan.
Berita Terkait
Ia menjelaskan mekanismenya membuat banyak penumpang berebut akses dekat ke konveyor. “All the bags from every cancelled flight were sent to one reclaim carousel. So there were a thousand or so people trying to get close enough to get their cases,” katanya, sebelum menambahkan bahwa aula bagasi menjadi titik paling buruk dan “they’re very lucky that there wasn’t any sort of incident as tempers frayed and the concourse was getting hotter.”
Di luar Inggris, sejumlah keluarga dan penumpang juga mengalami keterlambatan yang memaksa mereka bertahan lebih lama dari rencana semula. Sukie Perera dari Cardiff, yang terjebak di Turki, menggambarkan pengalamannya sebagai “it has been a nightmare” sekaligus menilai komunikasi di bandara tidak berjalan baik.
Perera mengaku belum bisa terbang kembali hingga Kamis. Meski begitu, ia sempat melontarkan candaan, “the view is beautiful.”
Pengalaman senada datang dari Paul Willows bersama keluarganya yang berada di Rhodes, Yunani. Ia mengatakan mereka harus menghabiskan malam Selasa dengan tidur di lantai ruang konferensi sebuah hotel setelah penerbangan kembali ke Inggris dibatalkan.
Paul menjelaskan suasananya: “They stripped all the cushions off the sunbeds and laid them in the conference room. I dare say there were about 80 of us on the floor.” Ia mengakui malam itu “not been a comfortable night at all”, tetapi tetap melihat sisi positif karena ada rasa saling membantu: “there was a “good element of pulling together” from those impacted.”
Di Turki, Alan Jones dan Kelly Fewery juga menggambarkan kondisi yang sulit ketika harus tidur di lantai bandara Dalaman. Mereka menyebut keluarganya “absolutely exhausted” setelah melewati malam tanpa selimut maupun bantal.
Seiring penumpukan gangguan, data penerbangan menunjukkan dampaknya cukup besar. Cirium melaporkan lebih dari 340 penerbangan dibatalkan pada Rabu.
Dalam situasi seperti ini, kewajiban maskapai tetap ada meski penerbangan dibatalkan. Airlines, menurut ketentuan yang dirujuk, tetap berkewajiban membawa penumpang menuju tujuan—meski harus melalui maskapai lain—atau memberikan pengembalian dana (refund).
Bagi penumpang yang tertunda, hak mendapat dukungan seperti makanan atau penginapan bergantung pada lamanya waktu tunggu. Meski demikian, tidak disarankan berharap adanya pembayaran kompensasi tambahan, karena gangguan kendali lalu lintas udara dinyatakan bukan kesalahan maskapai mana pun.












