jurnalistik.co.id – Konferensi tahunan Liberal Demokrat akhir pekan ini menjadi panggung bagi kegelisahan yang sudah mengendap di internal partai. Sejumlah anggota parlemen dan staf menyampaikan bahwa keberhasilan dua tahun lalu belum diikuti momentum yang terasa nyata.
Kekecewaan itu, menurut percakapan dengan faksi frontbench, anggota parlemen, serta tim di belakang layar, berkaitan dengan cara partai memanfaatkan hasil pemilihan umum terbaiknya. Banyak yang menilai Liberal Demokrat belum mampu “mengubah kemenangan menjadi pertumbuhan” dan justru kehilangan daya dorong.
Di antara penilaian yang sering muncul, ada keyakinan bahwa partai belum memiliki sesuatu yang cukup baru atau menarik. Seorang anggota parlemen senior menyebut situasinya seperti kehilangan energi dan antusiasme, sementara seorang frontbencher menggambarkan sebagian besar baris komunikasi pers sebagai sikap yang terlalu hati-hati—“tetap aman” dan bergerak pelan-pelan.
Yang lain bahkan melabeli pendekatan tersebut sebagai “membosankan”. Di saat bersamaan, mereka mencemaskan kenaikan Partai Hijau yang sedang menguat di bawah Zack Polanski, yang dinilai mampu menyedot perhatian publik lebih cepat.
Leadership partai menyadari kemarahan yang menguat. Mereka menegaskan konferensi kali ini akan menjadi “gear shift”, dengan gaya yang lebih berani dan lebih konfrontatif.
Deputi pemimpin partai, Daisy Cooper, mengatakan pertemuan kali ini akan bergaya “gloves-off kind of conference”. Ia menyebut akan muncul “sedikit pembicaraan yang berapi-api”, menandai perubahan dari kehati-hatian yang selama ini dianggap terlalu tegas menahan diri.
Cooper dan sejumlah pengurus juga menunjukkan bahwa sebagian kehati-hatian sebelumnya memang disengaja. Mereka pernah membahas kemungkinan meniru gaya Polanski yang lebih “punchy” dan berpusat pada media sosial, namun memutuskan pendekatan itu tidak akan cocok untuk pemilih di wilayah Inggris selatan yang selama ini menjadi basis Liberal Demokrat.
Keputusan itu, menurut pihak yang terlibat, kini dipandang mendukung upaya partai yang dianggap “tidak terseret” gaya yang terlalu seragam. Meski begitu, pada berbagai level tetap ada pengakuan bahwa Liberal Demokrat tertinggal dibanding partai lain dalam memanfaatkan media sosial untuk menarik perhatian.
Latarnya, antara lain, adalah pendekatan komunikasi yang disebut lebih “social first” yang dilakukan Andy Burnham. Dalam pandangan sejumlah figur internal, partai baru belakangan mulai melatih anggota parlemen agar mampu membuat konten video untuk media sosial, sehingga sebagian pihak justru merasa terlambat.
Sebagian kritik juga diarahkan pada kebiasaan partai yang responsif pada relawan secara fisik namun kurang konsisten di kanal digital. Seorang anggota parlemen senior menggambarkan bahwa saat ada keberhasilan, partai sangat cepat mengirim selebaran kepada pendukung, tetapi tidak menjalankan pola yang sama untuk media sosial.
Digital dan media sosial disebut akan menjadi fokus setidaknya 17 kegiatan fringe selama konferensi. Namun, ada pula kekhawatiran bahwa masalah tidak semata-mata pada kanal, melainkan pada pesan yang tidak cukup kuat untuk meraih perhatian.
“Kita perlu marah” dan pesan yang lebih berani Dalam kritik yang lebih langsung, seorang anggota parlemen mengaitkan persoalan dengan hasil polling YouGov. Ia menyinggung persepsi bahwa mayoritas pemilih—52% menurut YouGov—memandang partai sebagai “lemah”.
Polling yang disebut juga menunjukkan 43% responden meyakini partai lemah, sementara hanya 18% yang menilai partai kuat. Dari perspektif internal, angka-angka ini dipakai sebagai bukti bahwa partai belum terlihat tegas dalam sikap dan identitas politiknya.
Seorang anggota parlemen senior merangkum kebutuhan partai sebagai dorongan menuju keberanian yang lebih besar dan sikap yang lebih radikal, termasuk “perlu marah” atas nama konstituen mereka. Ada pula anggota parlemen lain yang menggambarkan Liberal Demokrat terjebak pada politik gerilya kampanye lokal, sehingga visi yang lebih luas untuk “Liberal Britain” belum tersampaikan dengan utuh.
Di kelompok yang paling loyal kepada Ed Davey sekalipun, pengakuan tentang kesulitan memberi pesan yang jelas dan koheren tetap muncul. Mereka menilai keberhasilan pemilu terakhir terutama karena pemilih ingin menghapus Konservatif, sehingga partai mendapat manfaat dari sentimen anti-Tory tersebut.
Berita Terkait
Seorang penasihat senior mengaku partai belum menjawab alasan mengapa pemilih harus memilih Liberal Demokrat, bukan sekadar memilih melawan Konservatif. Sikap partai di ruang publik juga dibaca tidak tegas tentang kemungkinan pemerintahan koalisi dengan Partai Buruh setelah pemilu, meskipun di balik layar tidak muncul banyak keraguan.
Dalam situasi yang banyak pihak perkirakan bisa menghasilkan parlemen tergantung (hung parliament), ambisi Liberal Demokrat adalah menjadi “kingmakers” untuk mencegah pemerintah dari kubu Reform. Pernyataan itu ditegaskan oleh penasihat senior yang sama: jika sebuah partai politik serius, keberadaannya dianggap ditujukan untuk ikut memerintah.
Dalam strategi pemilu berikutnya, peta kekuatan partai diinternal dinilai masih memungkinkan mempertahankan mayoritas kursi yang dimenangi pada 2024. Mereka menyasar mempertahankan sebagian besar dari 72 kursi yang diperoleh, lalu mengincar 27 kursi lainnya tempat Liberal Demokrat berada di posisi kedua, yang sebagian besar dimenangi Konservatif.
“Nice Guy Eddie” jadi sorotan, tapi ada dukungan Leadership partai menggambarkan dua tahun terakhir setelah pemilu sebagai “stage one”, masa ketika banyak anggota parlemen baru menyesuaikan diri di konstituensi masing-masing. Menurut Cooper, “stage two” adalah memenangkan “air war” dan menjelaskan secara tegas seperti apa “Liberal Britain” itu sebenarnya, dan konferensi akan menjadi tempat yang menampilkan itu.
Cooper berbicara tentang pemimpinnya, Sir Ed, dengan menepis label “Nice Guy Eddie”. Ia mengatakan pemimpin partai bukan sekadar “nice guy Eddie”, melainkan akan terlihat lebih “berkualitas tempur” karena memiliki karakter petarung yang nyata. Ia juga menyebut Davey memandang pertarungan melawan Reform UK sebagai “fight of our lives”.
Namun, sejumlah kritikus di dalam partai mengingatkan bahwa janji untuk menghadirkan “fighting talk” menghadapi Reform UK pernah disampaikan pada konferensi sebelumnya. Meski demikian, mereka menilai perubahan pada posisi nasional partai belum terasa signifikan.
Di sisi lain, ada kelompok besar anggota parlemen—termasuk figur frontbench—yang secara terbuka mempertanyakan apakah masalahnya bukan semata-mata pada pesan atau strategi, melainkan pada Davey sendiri. Seorang juru bicara yang mempertimbangkan peluang maju kepemimpinan jika proses pemilihan terbuka mengatakan bahwa ia merasa Davey “menahan” partai.
Anggota parlemen lain menggambarkan suasana sedang “matang” untuk tantangan kepemimpinan. Ia menambahkan bahwa partai belum memiliki figur tandingan seperti Wes Streeting yang, menurut rujukan mereka, mampu meruntuhkan kepemimpinan politik Partai Buruh lewat tantangannya kepada Sir Keir Starmer.
Keluhan ini menyinggung tidak adanya alternatif yang ambisius dan masih muda yang berani tampil menawarkan cara berbeda. Sementara itu, pendukung Davey menolak anggapan terkait polling nasional sebagai ukuran utama posisi Liberal Demokrat.
Seorang frontbencher yang loyal kepada Davey mengatakan ia lebih memilih berada di kisaran 10% dalam jajak pendapat nasional, tetapi tetap berpeluang menang kursi jauh lebih besar—dibanding berada pada 15% dan hanya meraih empat kursi. Ia menilai strategi partai terlihat dari permainan lapangan dan hasil pemilu lokal.
Dalam penjelasan lain, mereka menunjuk kenaikan yang diraih Liberal Demokrat pada pemilu lokal bulan Mei, sebagai indikator bahwa strategi sedang bekerja. Meski demikian, gejolak frustrasi tetap ada, dan tidak sedikit yang mencari opsi lain di luar Davey.
Nama yang disebut muncul sebagai alternatif antara lain presiden partai Josh Babarinde dan Daisy Cooper sendiri, sekaligus pertanyaan mengapa mereka tidak mengajukan visi tandingan secara lebih jelas. Baik Babarinde maupun Cooper dijadwalkan menyampaikan pidato di konferensi, begitu pula juru bicara urusan dalam negeri Max Wilkinson.
Cooper ditanya soal peluang memimpin Banyak yang memandang Cooper sebagai kandidat penerus Davey. Ketika ditanya tentang posisi kepemimpinan, ia menyatakan bahwa Ed adalah pemimpin yang tepat, dan ia merasa bekerja sebagai tim dengan baik bersama Davey.
Ia juga mengungkap bahwa ia menikmati perannya sebagai wakil pemimpin dan memandang keduanya saling melengkapi. Namun, ketika ditanya apakah ia ingin menjadi pemimpin, Cooper menegaskan bahwa “tidak ada kursi kosong” saat ini.
Ia kemudian menegaskan kembali bahwa hingga sekarang memang “tidak ada vacancy”. Dengan demikian, meski debat internal tentang arah dan gaya komunikasi makin menghangat, status kepemimpinan resmi tetap tidak berubah dalam konferensi kali ini.












