jurnalistik.co.id – John Healey dijadwalkan bertemu para menteri keuangan Uni Eropa di Dublin pada Jumat mendatang. Dalam pertemuan itu, ia akan mendorong agar Inggris tetap bisa ikut dalam skema industri yang dibentuk blok tersebut, sekaligus menegaskan pentingnya agar kerja sama ekonomi tidak berubah menjadi penghalang baru.
Pemerintah Inggris memandang bahwa “Made in Europe” perlu dirancang dengan cara yang memperkuat keterkaitan lintasnegara, bukan justru menutup akses bagi pihak luar. Healey akan menyampaikan peringatan bahwa Uni Eropa seharusnya tidak mengunci Inggris dari program yang bertujuan melindungi industri dari persaingan yang dianggap tidak adil dari kompetitor asal Tiongkok.
Menurut sumber dari Treasury yang diwawancarai BBC, Healey akan meminta agar program tersebut disusun sedemikian rupa sehingga kedalaman kemitraan Inggris-Uni Eropa tetap terjaga. Ia juga berencana menekankan isu kerja sama yang lebih erat di sektor teknologi, pertahanan, dan manufaktur, dengan logika bahwa hubungan yang sudah berjalan tidak boleh dipatahkan oleh desain kebijakan industri.
Program tersebut secara resmi disebut Industrial Accelerator Act (IAA) dan sedang dipertimbangkan di tingkat Uni Eropa. Kebijakan ini menargetkan perlindungan manufaktur kawasan melalui pembatasan terhadap barang dari negara di luar blok. Di sisi pemerintah Inggris, terdapat kekhawatiran bahwa skema seperti ini dapat membuat perusahaan-perusahaan Britania Raya sulit masuk ke rantai pasok Eropa.
Healey juga akan mengarahkan diskusi pada pembelajaran setelah perundingan tahun lalu gagal membawa Inggris bergabung dalam skema pinjaman pertahanan Uni Eropa. Sengketa saat itu berkisar pada jumlah kontribusi yang akan dibayarkan Inggris untuk bergabung, sehingga perbedaan perhitungan ekonomi menjadi titik yang membuat pembicaraan tidak menemui jalan keluar.
Berita Terkait
Dalam konteks tersebut, Treasury menyebut Healey ingin mengurangi dampak ekonomi dari Brexit dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa. Namun, pendekatannya tetap menempatkan batas: tujuan tersebut tidak boleh mengorbankan kepentingan Inggris secara berlebihan, terutama jika desain kebijakan justru merugikan akses perusahaan-perusahaan di lapangan.
Healey menyampaikan pandangannya dengan mengatakan: “The next chapter of Britain’s growth story will be written in more places. “To me, closer ties with the EU means British businesses – wherever they are based across the UK – get better access to both the supply chains and the customers they need to grow.” Ia menggunakan pertemuan Dublin sebagai momentum untuk menegaskan bahwa tujuan pertumbuhan jangka panjang terkait dengan akses rantai pasok dan pasar.
Agenda konferensi di Dublin juga akan menitikberatkan pada perusahaan teknologi, perusahaan pertahanan, serta sektor manufaktur. Seorang sumber Treasury menyatakan bahwa Healey ingin memastikan tidak ada hambatan yang menahan perkembangan kelompok-kelompok industri tersebut, baik dari sisi peluang kolaborasi maupun dari sisi akses pasar yang menjadi prasyarat investasi.
Pertemuan ini muncul setelah rencana “reset summit” dengan Uni Eropa sempat tertunda. Tunda tersebut terjadi setelah pengunduran diri Sir Keir Starmer sebagai perdana menteri, dan kini sumber Treasury memperkirakan pertemuan itu berlangsung pada bulan November.
Selain isu skema industri, arah pembahasan kebijakan pertahanan juga ikut mewarnai posisi Healey. Dalam laporan terpisah awal pekan ini, muncul informasi bahwa ia sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan bank investasi global yang diarahkan untuk menghimpun dana guna mendukung belanja pertahanan. Ia sedang membahas penawaran untuk ikut dalam Defence, Security and Resilience Bank (DSRB), tidak lama setelah pendahulunya, Rachel Reeves, menolak gagasan tersebut.
Upaya membentuk bank itu disebut dipimpin oleh Kanada. Para pendukung ide ini berpendapat bahwa DSRB dapat memungkinkan pemerintah meminjam dengan biaya lebih rendah, sehingga kapasitas pembiayaan untuk meningkatkan pengeluaran militer dapat diperluas. Bagi Healey, bagaimana menutup kebutuhan pendanaan atas komitmen pertahanan yang terus bertambah menjadi salah satu persoalan paling menonjol saat ia mempersiapkan Budget pada Oktober dan juga tinjauan belanja untuk tahun berikutnya.












