Internasional

Krisis minyak Saudi yang kian memanas: bensin, solar, dan gas berpotensi melonjak di seluruh dunia

×

Krisis minyak Saudi yang kian memanas: bensin, solar, dan gas berpotensi melonjak di seluruh dunia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How escalating Saudi oil crisis could drive up prices everywhere

jurnalistik.co.id – Dalam beberapa hari terakhir, harga energi global kembali bergerak naik tajam. Lonjakan ini terutama dikaitkan dengan eskalasi konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi yang mengganggu industri migas.

Dampaknya terasa di berbagai negara melalui kenaikan biaya bahan bakar minyak untuk kendaraan seperti bensin dan solar. Di saat yang sama, harga gas alam di pasar grosir—yang dipakai untuk pemanasan rumah dan pembangkit listrik—di Inggris serta Eropa nyaris berlipat sejak bulan Juli.

Para ekonom dan pelaku pasar makin khawatir munculnya guncangan inflasi lanjutan bagi ekonomi dunia. Jika energi tetap mahal, tingkat bunga bisa terdorong naik, biaya KPR meningkat, dan harga hampir semua kebutuhan di toko ikut terangkat, termasuk makanan.

Harga bensin, solar, dan gas mulai merambat

Harga minyak dunia saat ini berada di atas US$108 per barel (sekitar ÂŁ80). Angka itu naik dari sekitar US$70 (sekitar ÂŁ52) pada Juni 2026, atau meningkat kira-kira 50%.

Kenaikan minyak mentah tersebut ikut mendorong harga bensin rata-rata di Inggris melewati 170 pence per liter, menjadi level tertinggi sejak 2022. Pada Juli, harga bensin berada di sekitar 150 pence per liter.

Saat biaya gas alam domestik juga mendekati skenario naik dua kali lipat, batas harga (price cap) yang ditetapkan regulator energi, Ofgem, diperkirakan naik 25% pada Januari tahun depan. Perhitungan itu setara kira-kira ÂŁ440 per tahun untuk rumah tangga rata-rata.

Di Amerika Serikat, harga bensin per galon (3,8 liter) meningkat dari US$3,80 pada Juli menjadi US$4,32, menurut indeks AAA Gas Prices. Untuk solar, harga mencapai rekor di atas US$6 per galon, lebih tinggi dibanding masa setelah invasi penuh Rusia terhadap Ukraina pada 2022.

Pasokan yang menyusut jadi pemicu utama

Menurut para analis, dorongan utama kenaikan harga adalah berkurangnya pasokan minyak dan gas secara global. Sebelum perang AS–Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar 20% dari produk minyak global dan pasokan LNG melewati Selat Hormuz, sebuah jalur sempit yang menghubungkan Teluk dan Laut Arab.

Arus energi tersebut menurun tajam setelah Februari, dipicu serangan Iran terhadap pengiriman komersial serta fasilitas energi milik sekutu AS di kawasan Teluk, ditambah kebijakan blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Setelah perang dimulai, Arab Saudi meningkatkan penggunaan pipa East–West untuk mengekspor minyak melalui Laut Merah ketimbang Selat Hormuz.

Menurut perusahaan intelijen maritim, Kpler, kapasitas pipa itu mencapai 3,6 juta barel per hari. Namun, pipa tersebut dipaksa berhenti setelah diserang oleh drone pada Jumat. Arab Saudi menyatakan serangan itu berasal dari milisi yang didukung Iran di Irak.

Selain itu, pekan lalu Houthi juga menyerang beberapa fasilitas minyak Arab Saudi dengan drone dan rudal. Serangan tersebut memicu kebakaran dan membuat operasi dihentikan sementara.

Neil Quilliam dari Chatham House menilai pipa bisa ditutup hingga delapan minggu untuk perbaikan. Meski demikian, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC pada Selasa bahwa pipa akan mulai beroperasi kembali “very soon”.

Pemerintah AS menyebut bahan bakar tetap mengalir melalui Selat Hormuz dengan volume yang kira-kira setara seperti sebelum perang. Namun, sebagian besar analis independen menilai jalur itu tetap tersumbat secara signifikan.

Sebelum perang, sekitar 21 juta barel per hari minyak dan produk minyak melewati Selat Hormuz, menurut US Energy Information Administration. Kpler memperkirakan volumenya turun menjadi sekitar 8,6 juta barel per hari pada akhir Agustus.

Dalam dua pekan terakhir, Houthi di Yaman merebut wilayah strategis dari pasukan pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi dekat Bab al-Mandab. Bab al-Mandab merupakan chokepoint perdagangan lain di ujung selatan Laut Merah, dan sebelum Februari menjadi titik transit sekitar 5% pasokan minyak global.

Sekitar 5% pasokan minyak global juga biasanya keluar dari Laut Merah ke arah utara melalui Terusan Suez serta sebuah pipa melintasi Mesir menuju kawasan Mediterania. Kenaikan harga minyak pasar global muncul seiring kekhawatiran jalur pelayaran ini bisa terganggu lebih berat—seperti yang terjadi pada Selat Hormuz—oleh Iran dan para proksinya.

Perang kawasan menekan harga, termasuk solar

Sebelum kemajuan Houthi di pesisir barat daya Yaman, kelompok itu menyatakan pada Juli bahwa mereka menerapkan blokade angkatan laut terhadap kapal dan pelabuhan milik Arab Saudi. Mereka juga menyatakan tidak akan menyerang kapal dari negara lain yang melintas melalui Laut Merah.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan kenaikan harga solar dunia terutama disebabkan perang Rusia–Ukraina, bukan Iran. Para analis menilai konflik tersebut—termasuk serangan drone Ukraina terhadap kilang Rusia—memberi tekanan pada harga solar, karena Rusia merupakan pengekspor solar terbesar kedua.

Namun, sebagian besar pihak menilai lonjakan harga energi terbaru terutama dipicu oleh meluasnya konflik regional di Timur Tengah.

Dampak ke ekonomi: inflasi dan pertumbuhan melambat

Dalam kajian ekonomi, harga energi global yang tinggi dan bertahan biasanya membuat harga kebutuhan rumah tangga ikut naik serta melemahkan pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut dapat menekan pendapatan dan upah masyarakat.

International Monetary Fund (IMF) memperkirakan, jika kenaikan harga minyak yang bertahan mencapai 10%, inflasi global meningkat sebesar 0,4% dan pertumbuhan PDB global turun hingga 0,2%. Bank of England memperkirakan, kenaikan 10% harga minyak global akan menaikkan inflasi Inggris sekitar 0,5% dalam jangka pendek serta menurunkan pertumbuhan PDB Inggris sekitar 0,4%.

Kenaikan harga minyak global sejak Juni tercatat sekitar lima kali lebih besar dibanding skenario yang digunakan IMF dan Bank of England dalam model mereka untuk menilai dampak kenaikan minyak.

Meski demikian, harga minyak global masih mungkin turun kembali jika ada kesepakatan damai antara AS dan Iran. Setelah kesepakatan awal ditandatangani pada Juni antara kedua pihak yang berperang, harga minyak sempat turun tajam kembali ke level sebelum perang, meski sebelumnya sempat menyentuh US$120 per barel.