Internasional

Kunjungan Carney ke Strasbourg dan ‘aliansi unik’ dengan Uni Eropa: pemicunya langkah Trump

×

Kunjungan Carney ke Strasbourg dan ‘aliansi unik’ dengan Uni Eropa: pemicunya langkah Trump

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Carney's new love-in with EU has everything to do with Trump

jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Kanada Mark Carney sedang berada di Strasbourg pekan ini untuk mendorong pembentukan hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa. Dalam kunjungan yang mendapat perhatian luas itu, ia menegaskan Kanada tengah mencari “unique alliance” dengan Uni Eropa.

Langkah Carney itu muncul di tengah eskalasi sengketa tarif antara Kanada dan Amerika Serikat yang dipicu kebijakan Presiden Donald Trump. Hubungan kedua pihak kian panas setelah pembicaraan perdagangan AS-Kanada berantakan pada akhir bulan lalu.

Di lain sisi, sejumlah negara Eropa justru menyaksikan pertarungan tersebut dengan rasa ingin tahu, dan bagi sebagian pihak ada bentuk kekaguman. Uni Eropa, yang dipimpin Komisi Eropa, menerima tarif baru dari Trump tanpa perlawanan langsung, sementara Carney memilih mengambil sikap yang lebih tegas.

Carney tidak hanya merespons dengan cepat, tetapi juga menerapkan tarif balasan kepada Amerika Serikat. Dalam narasi yang berkembang di Brussel, tindakan itu dipandang sejalan dengan upaya menjaga kedaulatan di tengah tekanan ekonomi dari Washington.

Trump sebagai katalis, bukan kebetulan

Kendati retorika hubungan Kanada-Eropa memang sudah lama berkembang, gelombang kedekatan baru Carney tidak bisa dipisahkan dari “Trump effect”. Finland—yang juga menjadi sekutu dekat Kanada sebagai sesama negara Arktik—pernah melontarkan sindiran bernada ringan tentang aspirasi Kanada di Eropa.

Presiden Finlandia Alexander Stubb pernah bertanya, “Wouldn’t it be lovely if Canada was the 28th state of the European Union rather than the 51st state of the United States?”, sambil menekankan nada bercanda. Pernyataan tersebut merespons fakta bahwa Trump berkali-kali menyatakan keinginannya menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat.

Bagi banyak orang Kanada, ide itu justru menyinggung. Namun, dalam konteks kunjungan Carney ke Strasbourg, gagasan tentang kedekatan Kanada dengan Eropa dibungkus dengan tujuan yang lebih konkret.

Pada Minggu, Carney menyampaikan kepada wartawan bahwa Kanada sedang mengejar “unique alliance” dengan Uni Eropa. Sumber pemicu yang paling sering disebut adalah Donald Trump, termasuk karena ia pernah memposting peta Amerika Utara di Truth Social yang menampilkan Kanada dan Greenland, wilayah yang merupakan bagian dari Denmark, dengan bendera Amerika Serikat.

Peta tersebut juga mengingatkan pada ketegangan yang lebih luas. Di Eropa, muncul pula catatan bahwa Trump pernah menolak menutup kemungkinan mengambil Greenland dari Denmark “by force”. Perubahan sikap ini dinilai menjadi titik balik dalam cara Eropa memandang Washington.

Yang ingin dibangun: kemitraan lintas sektor

Di Brussel, berbagai kalangan menggambarkan bahwa Kanada terdengar lebih “Europe-minded” dibanding banyak warga Eropa sendiri. Pernyataan yang kerap terdengar di kawasan itu adalah, “Canada is more Europe-minded than most Europeans!”.

Dari pandangan beberapa pengamat, Kanada bahkan menunjukkan ketertarikan yang lebih besar dibanding Inggris untuk mendekat ke Brussel, meski statusnya bukan anggota. Direktur Mark Lowen dari European Council on Foreign Relations mengatakan, “Canada right now seems more interested than the UK to get as close to Brussels as possible, as a non member state”, lalu menambahkan, “It’s remarkable.”

Kanada, bukan Inggris, berhasil bergabung lebih dulu pada awal tahun ini dengan European Union’s Security Action for Europe (SAFE) defence fund. Sementara itu, Inggris tetap di luar skema setelah cekcok soal biaya dan ketegangan politik.

Kedekatan Carney di Strasbourg juga terkait undangannya sebagai tamu khusus dalam pidato tahunan Presiden Komisi Eropa mengenai State of the Union. Carney dijadwalkan berpidato di Parlemen Eropa pada Kamis, sehari setelah von der Leyen memaparkan prioritas politik dan kebijakan Uni Eropa.

Pihak-pihak terkait menyatakan bahwa ini bukan sekadar “blah blah politics”. Seorang diplomat Uni Eropa sempat menjelaskan bahwa Carney dan von der Leyen diperkirakan menyebut rencana membangun keterkaitan yang lebih rapat, seolah “As close as you can get without (Canada) actually becoming an EU member,”.

Di balik layar, pembicaraan di Brussel mengarah pada ide pembentukan “special association agreement” dengan Kanada. Tujuan yang tidak dipublikasikan secara lengkap itu adalah mengurangi ketergantungan pada Washington di beberapa bidang penting, termasuk digital dan teknologi, energi—terutama karena Kanada punya cadangan liquified natural gas (LNG) yang dibutuhkan ketika Uni Eropa memangkas ketergantungan pada Rusia—serta raw materials dan critical minerals.

Selain sektor tersebut, ada pula pembahasan tentang perdagangan serta pengadaan pertahanan. Kanada disebut pernah menjalani tren “buy European”, termasuk pembelian kapal selam serang Jerman dan pesawat airborne early-warning dari Saab Swedia, sehingga muncul pertanyaan praktis: mengapa harus memberi penghargaan kepada AS melalui pembelian peralatan Amerika setelah diberi tarif perdagangan yang bisa mencapai 50% di sejumlah sektor.

Data survei opini Nanos pada April menunjukkan dukungan masyarakat Kanada. Lebih dari empat dari lima orang Kanada mendukung penguatan hubungan dengan Uni Eropa, dan dekat tiga dari lima mendukung Kanada benar-benar bergabung dengan blok tersebut. Namun, artikel 49 Konstitusi Uni Eropa disebut membuat langkah itu tampak mustahil.

Kebijakan dagang tidak sesederhana “melepaskan AS”

Hubungan perdagangan Kanada dan Uni Eropa memang tidak baru. Uni Eropa sudah menjadi mitra dagang terbesar kedua Kanada, meski masih jauh di bawah Amerika Serikat yang membeli sekitar 70% ekspor Kanada.

Perjanjian Comprehensive Economic and Trade Agreement (CETA) disepakati sekitar satu dekade lalu dan mulai diimplementasikan secara sementara, dengan penghapusan 99% tarif untuk barang ekspor Kanada. Karena itu, versi hubungan yang lebih dekat belakangan dipahami sebagai kelanjutan dari proses yang sudah berjalan, tetapi dipicu oleh dinamika politik-ekonomi baru.

Menurut penilaian pejabat Eropa secara pribadi, pendekatan tingkat tinggi yang kini kembali menguat antara Ottawa dan Brussel “everything to do with the actions of Trump’s second term in office.” Di Eropa dan Kanada, yang selama puluhan tahun ekonominya saling terjalin dengan AS, berkembang anggapan bahwa kedua belah pihak tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan Washington.

Mark Camilleri, presiden Canada EU Trade and Investment Association (CEUTIA), menyampaikan kepada BBC bahwa pemerintah Kanada berkomitmen pada diversifikasi perdagangan. Ia mengatakan, “The Canadian government is committed to trade diversification, doubling non-US trades in the next 10 years, and doing more with the European Union will be very key to achieving that target,”.

Namun, ada batas realistis yang juga diakui di dalam pembahasan. Memutus ketergantungan dari AS sepenuhnya dinilai tidak realistis bagi Kanada maupun Uni Eropa. AS adalah mitra dagang terbesar Uni Eropa bila digabungkan barang dan jasa, sementara hubungan bilateral AS-Kanada tercatat bernilai hampir US$900 miliar (sekitar £668 miliar) tahun lalu.

Angka itu jauh melampaui nilai total perdagangan bilateral Uni Eropa-Kanada sebesar $130 miliar pada periode yang sama. Karena sebagian besar ekspor Kanada mengalir ke AS, Ottawa tetap menghadapi tantangan besar jika ingin mengganti pelanggan dan rantai pasok yang sudah dibangun di sekitar pasar Amerika.

Di level kebijakan, diceritakan bahwa Carney dan von der Leyen akan membela sistem perdagangan global berbasis aturan. Dalam penggambaran diplomatis, ada kalimat yang ingin ditegaskan, “This is not about trying to keep the past alive. We need to forge a new rules-based future in trade and beyond. With or without Washington,”.

Uni Eropa dan Kanada juga dijadwalkan menggelar KTT pada akhir bulan depan, setelah itu kelompok kerja akan mulai menangani rincian yang lebih teknis dan legal di bidang-bidang yang keduanya harapkan dapat diperkuat.

Simpatik, tapi kehati-hatian tetap ada

Dari sudut pandang yang berkembang, ada penjelasan mengapa Carney tidak selalu mendapat dukungan yang sama kuat di ruang publik. Setelah pidato Carney di Davos pada World Economic Forum—yang menyerukan agar negara-negara menengah bersatu menghadapi “economic coercion” oleh “global super-powers”—banyak pihak di Eropa memberi perhatian.

Dalam eskalasi tarif saat ini, Carney disebut bersikap berani. Ia menyatakan bahwa Kanada sedang “at war” dengan AS terkait perdagangan, lalu mengenakan tarif balasan atas nama “sovereignty”. Paolo Gentiloni menulis komentar di media sosial: “Here is a speech I would like to hear in Europe.”

Meski dukungan di belakang layar diakui, di publik para pemimpin Eropa memilih lebih berhati-hati. Beberapa pemimpin seperti presiden Finland, serta Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni—yang pernah menjadi penggemar Trump—terlibat percakapan nonpublik untuk memperdalam hubungan dengan Carney.

Namun, ada “big but” yang menahan mereka: tidak ada politisi Eropa teratas yang ingin mengambil risiko berdiri terlalu terang demi Carney di momen ini. Alasannya berkaitan dengan potensi dampak politik di negara masing-masing, mengingat pemilihan besar di banyak negara Uni Eropa dalam beberapa bulan ke depan, serta risiko kemarahan dan tarif tambahan dari Trump.

Dalam struktur Uni Eropa, perdagangan menjadi urusan Komisi Eropa atas nama negara anggota. Komisi Eropa dan presiden Parlemen Eropa mengundang Carney ke Strasbourg, tetapi sejumlah pejabat di Brussel tetap mengingatkan agar Carney juga memahami dinamika “European coffee”: ada suara yang menginginkan agar negara non-anggota tidak memperoleh kesepakatan yang terlalu menguntungkan, termasuk dari pihak seperti Prancis.

Tekanan untuk memberi fleksibilitas memang meningkat di tengah masa yang tidak menentu. Namun, perbedaan sikap itu membuat hubungan Kanada dan Uni Eropa tetap berjalan dengan ritme yang lebih berhitung—meski kedekatan yang kini diupayakan Carney sudah jelas mendapat dorongan kuat dari “Trump effect”.