jurnalistik.co.id – Menara Eiffel ditutup pada Senin setelah staf melakukan mogok kerja sebagai protes atas pemindahan sejumlah pekerja perempuan untuk mengakomodasi kunjungan kelompok religius Hindu BAPS.
Penutupan itu disampaikan oleh pekerja serta pihak manajemen, menyusul rangkaian ketegangan yang muncul ketika delegasi BAPS mendatangi area wisata tersebut.
Kelompok yang terkait Bochasanwasi Akshar Purushottam Swaminarayan Sanstha (BAPS) mengirim delegasi sekitar 100 orang ke monumen ikonik di Paris pada Sabtu.
Menurut perwakilan serikat pekerja, Diane Davoine, staf memberitahu perempuan untuk berpindah tempat saat delegasi tiba.
Davoine mengatakan, “During the visit of this delegation, women were asked to leave their places of work in order to place men there.”
Ia juga menyatakan manajemen telah meminta maaf kepada para pekerja setelah insiden tersebut terjadi.
“So that absolutely does not go down well with the employees, with women obviously, who are all humiliated by what happened, by the way some were treated,” ujar Davoine.
Ia menambahkan, “Tensions mounted over the weekend, so this morning, the employees decided to meet: first, to open a dialogue with management, and second, to ensure that women are never treated this way at the company again.”
Sebelum penutupan, para karyawan memilih langkah dialog dengan manajemen serta menekankan komitmen agar perlakuan seperti itu tidak terulang terhadap pekerja perempuan.
PT pengelola Menara Eiffel, SociĂ©tĂ© d’Exploitation de la tour Eiffel (SETE), mengonfirmasi bahwa pihak delegasi meminta penyelenggaraan kunjungan diatur agar membatasi “interactions with women,” menurut laporan AFP.
SETE menegaskan kepada AFP bahwa permintaan tersebut tidak seharusnya diterima.
Perusahaan juga menyatakan ketentuan yang diminta delegasi tidak sejalan dengan nilai SETE serta prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Presiden SETE, Ariel Weil, menyampaikan, “I restate the Eiffel Tower’s commitment to republican values and to the equality of men and women.”
BBC menyebut pihaknya telah menghubungi Union Confédération générale du travail (CGT) untuk tanggapan atas kasus ini.
Berita Terkait
Di tengah protes tersebut, BAPS juga merilis keterangan. Pihak BAPS di Paris menyatakan bahwa kunjungan mereka diatur “in conjunction with the Eiffel Tower team at the start of normal opening hours to avoid disrupting or inconveniencing others” dalam unggahan di X.
Dalam pernyataan yang sama, BAPS juga menyampaikan permintaan maaf “for any pain or inconvenience caused”, serta menambahkan, “we believe in the universal values of mutual respect and service”.
Menurut penjelasan di situsnya, BAPS menggambarkan organisasi sebagai “a spiritual, volunteer-driven fellowship dedicated to improving society” melalui nilai-nilai Hindu.
Organisasi tersebut menyebut memiliki kuil di sejumlah kota besar dunia, termasuk London, Los Angeles, dan Sydney.
Wali Kota Paris, Emmanuel Grégoire, menyatakan akan ada investigasi terkait keadaan kunjungan. Ia menulis di X bahwa kemarahan staf dianggap sah.
“I am taking note of the anger expressed by the employees of the Eiffel Tower, and I want to tell them that their discontent is legitimate,” tulisnya.
Ia melanjutkan, “Equality between women and men will never stop at the foot of our historical monuments, nor anywhere in this city. It must be applied everywhere, for everyone.”
Pernyataan serupa juga muncul dari tokoh politik Prancis. Marine Le Pen menyatakan, “In France, we will never accept that the presence of women be ‘limited’.”
Gabriel Attal, mantan Perdana Menteri Prancis yang sebelumnya menyatakan akan maju dalam pemilihan presiden tahun depan, menyampaikan bahwa tidak ada budaya atau keyakinan yang boleh menentukan posisi perempuan.
“In France, no culture, no belief, no worship, nothing nor anyone can come to dictate to women their place,” katanya.
Yaël Braun-Pivet, Presiden Majelis Nasional Prancis, juga menegaskan penolakan terhadap permintaan yang memaksa perempuan untuk bergeser demi memenuhi kebutuhan pengunjung asing.
Ia menyatakan, “I refuse to allow women to be compelled to step aside in order to meet the demands of foreign visitors.”
Kasus ini kemudian memusat pada dua hal: bagaimana mekanisme layanan dan penjadwalan kunjungan di situs publik besar, serta bagaimana penerapan prinsip kesetaraan di lingkungan kerja.
Dengan penutupan Menara Eiffel pada Senin, sengketa yang berawal dari pemindahan pekerja perempuan menjadi sorotan nasional dan memicu janji investigasi serta pernyataan politik dari berbagai pihak.












