jurnalistik.co.id – Pidato Mark Carney di hadapan Parlemen Eropa terdengar hangat dan penuh optimisme, namun pesan yang sama juga membawa batasan yang jelas: status “asosiasi” Uni Eropa untuk Kanada belum tentu berujung pada kepastian konkret.
Carney merespons undangan dari Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen agar Kanada menjadi anggota asosiasi pertama Uni Eropa. Ia menegaskan bahwa kedekatan baru itu, meski bertahap, dibayangkan sebagai cara untuk memperkuat kemampuan strategis melalui kerja sama yang lebih dalam.
Dalam pidatonya, Carney mengatakan: “Canada and Europe should secure our strategic autonomy through deep cooperation in the full range of strategic capabilities.” Pernyataan itu menempatkan kerja sama lintas-bidang sebagai fondasi, bukan sekadar simbol hubungan diplomatik.
Menurut Carney, langkah tambahan di luar kerja sama dagang yang sudah berjalan—termasuk kesepakatan perdagangan Ceta—akan diarahkan pada energi dan ketahanan ekonomi, serta isu bahan baku kritis. Agenda ini juga mencakup pendidikan, inovasi teknologi dan AI, hingga kerja sama pertahanan.
Ia juga menekankan bahwa gagasan anggota asosiasi tidak dimaksudkan untuk membentuk kekuatan blok baru. Carney menyatakan: “We do not pursue zero sum deals,” sambil menggambarkan kerja sama sebagai upaya memperluas ruang koordinasi tanpa mengunci negara lain dalam persaingan zero-sum.
Carney menggiring konsep tersebut ke arah tata kelola multilateral. Ia mengisyaratkan bahwa negara-negara yang memiliki pandangan sejalan dapat “berkumpul” untuk menciptakan bentuk pemerintahan global yang lebih adaptif di dunia yang makin tidak menentu, di mana sebagian pihak memandang kekuatan sebagai penentu utama.
Dalam kerangka itu, ia menyebut penguatan melalui kolaborasi sebagai jalan untuk menutup kesenjangan kapabilitas, memperbesar daya tawar, serta menjaga kedaulatan nasional. Kalimat-kalimatnya disambut tepuk tangan yang sangat hangat di Parlemen Eropa, yang oleh suasana saat itu terlihat tulus dan antusias.
Undangan hangat, agenda kerja sama yang luas
Gagasan anggota asosiasi muncul di tengah kebingungan yang lebih luas di Eropa, termasuk soal kesesuaian kerangka konstitusi Uni Eropa. Secara prinsip, konstitusi Uni Eropa mengatur kemungkinan tersebut dengan batasan, sebab Kanada secara geografis berada di luar Eropa.
Namun Carney tidak menafsirkan undangan itu sebagai langkah dramatis yang otomatis mengubah struktur besar. Ia justru menempatkannya sebagai kanal kerja sama yang lebih rapat, dengan fokus pada kemampuan strategis yang ingin dibangun bersama.
Ia juga menautkan dorongan itu pada tekanan dari arah eksternal. Kanada dan Uni Eropa, menurut pidato tersebut, merasa semakin “terjepit” oleh kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan China. Tekanan itu datang pula dari raksasa teknologi yang beroperasi melintasi batas, sehingga kebijakan dan dampaknya terasa melampaui kendali yang biasanya dimiliki negara.
Di sisi lain, Carney menyebut bahwa kerja sama tidak dimaksudkan menjadi gerakan melawan pihak mana pun. Ia menggambarkan pendekatan yang berorientasi pada solidaritas strategis dan koordinasi lintas negara, bukan pembentukan aliansi tandingan.
Berita Terkait
Pembingkaian semacam ini, sekaligus, bisa dibaca sebagai upaya menjawab tantangan politik yang sedang menguat di Eropa. Sinyal tersebut tampak dari rujukan pada slogan-slogan nasionalis, seperti “Italy First”, “France for the French”, dan “Make Poland Great Again”, yang bergema dengan gaya seruan “Make America Great Again” yang pernah disuarakan Donald Trump.
Tanpa kepastian: politik AS dan kompleksitas di UE
Meski nada pidato di Parlemen Eropa terdengar menyenangkan, respons di seberang Atlantik tidak sehangat itu. Pada Rabu, Donald Trump menolak proposal anggota asosiasi Uni Eropa untuk Kanada secara tegas, bahkan mengancam akan mengenakan “very heavy tariffs” bila kesepakatan itu benar-benar terjadi.
Trump juga memberi peringatan bahwa ia mungkin menilai langkah tersebut sebagai “hostile act”. Dalam dinamika semacam ini, AS bisa menjadi variabel penentu yang memengaruhi kalkulasi Kanada dan Uni Eropa, terutama karena peran pertahanan tradisional selama ini sangat melekat pada hubungan transatlantik.
Kompleksitas hubungan itu makin terasa ketika Ottawa terlibat dalam apa yang disebutnya sebagai eskalasi “perang dagang” dengan Gedung Putih. Baik Kanada maupun Uni Eropa, dalam cara mereka memandang situasi, sama-sama “tersengat” oleh apa yang dianggap sebagai upaya Washington memanfaatkan tarif bea masuk sebagai instrumen tekanan.
Kedua pihak juga khawatir tidak bisa lagi sepenuhnya berharap pada AS untuk dukungan keamanan dan pertahanan. Kekhawatiran tersebut membuat beberapa sekutu Eropa yang jauh dari pusat politik Uni Eropa mulai melirik peluang untuk mempererat hubungan dengan UE sebagai bentuk perlindungan baru.
Nama-nama yang disebut menunjukkan minat serupa, termasuk Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, Uni Eropa juga mempercepat upaya mengamankan daftar kesepakatan dagang—dengan contoh negara seperti India, Indonesia, dan Jepang—sebagai cara untuk meragamkan relasi.
Namun, pada titik paling menentukan, tidak ada jaminan bahwa status asosiasi Kanada akan benar-benar diwujudkan. Bahkan jika ide itu lolos tahap awal, kesepakatan tersebut belum tentu menjadi “template” yang mudah ditiru oleh negara lain, termasuk negara seperti Inggris yang ingin menjalin hubungan lebih dekat tanpa harus menuju keanggotaan penuh.
Alasannya terletak pada prosedur dan preseden yang belum ada. Setiap kesepakatan harus disetujui oleh masing-masing dari 27 negara anggota Uni Eropa. Selain itu, tidak ada preseden hukum yang sudah mapan untuk skema tersebut, sehingga proses perundingan diperkirakan panjang.
Dalam proses itu, potensi konflik kepentingan juga dapat muncul, misalnya terkait tarif baja. Pada Mei, Jerman sempat mengusulkan agar Ukraina—yang sangat membutuhkan jalur keanggotaan penuh Uni Eropa secepat mungkin—mendapat status anggota asosiasi. Namun, usulan tersebut ditolak oleh sejumlah pihak di dalam Uni Eropa.
Beberapa pemerintah, termasuk yang disebut berasal dari Prancis, khawatir non-anggota memperoleh kesepakatan yang terlalu “baik”. Mereka menilai kondisi itu dapat dimanfaatkan kekuatan yang skeptis terhadap Uni Eropa, baik di dalam maupun luar blok, untuk mendorong pemilih agar menuntut agar negara keluar.
Pada akhirnya, “asosiasi” dapat berfungsi sebagai label, bukan jaminan perubahan struktural yang otomatis. Uni Eropa sendiri berada di bawah tekanan serius dari berbagai arah—termasuk China, Amerika Serikat, dan Rusia—sehingga aturan yang sebelumnya kaku berbasis sistem berbasis aturan mulai diuji untuk menunjukkan fleksibilitas yang lebih besar.
Karena itu, pidato Carney yang penuh harapan mungkin benar menggambarkan arah diskusi, tetapi pertanyaannya tetap sama: seberapa jauh konsep itu mampu melewati proses politik dan hukum yang panjang sampai benar-benar menjadi kenyataan?












