jurnalistik.co.id – Ron Bailey dikenal luas selama 40 tahun kiprahnya dalam kampanye politik, meski julukan-julukan yang ia terima tidak selalu sopan. Di balik reputasi itu, ada pola kerja yang konsisten: mengubah aturan dari dalam, tetapi dengan tekanan yang dibangun dari luar.
Sejumlah tokoh pernah menilai Bailey dengan cara yang berbeda-beda. Dari “kampanye parlementer paling sukses” menurut mantan Direktur Friends of the Earth, hingga “lobbyist paling efektif dan paling gigih” menurut mantan menteri Sir Oliver Letwin. Lord Foster—yang juga pernah berteman dengan Bailey—pernah menyebutnya “sekali-sekali menjadi gangguan”, menggambarkan betapa sulitnya mengabaikan gerakannya.
Dalam rentang kariernya, Bailey pernah bekerja untuk kelompok-kelompok seperti Green Party, Community Rights Project, serta Sustainable Energy Association. Ia memperkirakan telah terlibat dalam mengantarkan 16 rancangan undang-undang menjadi hukum, sekaligus berperan dalam 25 perubahan hukum lainnya. Angka itu terasa mengejutkan bagi seseorang yang pada masa mudanya pernah memasang poster bertuliskan “Jangan pilih; itu hanya mendorong mereka”.
Dari aksi langsung ke pemahaman hukum yang presisi
Pada awalnya, Bailey lebih tertarik pada aksi langsung ketimbang proses parlementer. Ia tumbuh dengan rasa tidak nyaman terhadap otoritas: ketertarikan politiknya sempat mulai terbuka ketika ia masih sekolah, saat kakaknya—seorang penyanyi rakyat—berhadapan dengan kondisi yang membuat mereka “diminta untuk pergi” dari sekolah tata bahasa karena “berbuat ulah”.
Di dekade 1960-an, Bailey ikut menajamkan keterlibatannya lewat protes terhadap undang-undang perumahan yang dinilai keras karena memisahkan keluarga-keluarga tunawisma. Ia juga terlibat dalam gerakan squatting: mulai dari menduduki hostel, memindahkan keluarga tunawisma ke rumah kosong, hingga berhadapan dengan juru sita. Meski semangat zamannya berwarna revolusioner, kegigihan tersebut ditopang oleh pemahaman Bailey tentang hukum secara rinci.
Ia pernah mengingat bagaimana ia menghabiskan berjam-jam di British Library untuk menelusuri hukum kepemilikan yang jejaknya bisa ditarik hingga abad ke-14. Dengan cara itu, ketika posisinya dipersoalkan, Bailey memiliki fakta yang bisa dipakai untuk memperkuat argumen.
Kemenangan awal: keterbukaan informasi dan tekanan publik
Lebih dari satu dekade setelah periode aksi langsungnya, Bailey mulai mendorong perubahan hukum, bukan hanya membaca tentangnya. Salah satu langkah awal yang ia sebut berhasil adalah kampanye kebebasan informasi.
Pada 1983, Greater London Council Grants Committee memberikan dana yang cukup bagi salah satu proyeknya. Dana itu ia gunakan untuk menyewa kantor sekaligus mempekerjakan staf. Alih-alih langsung memperluas jaringan lobi, Bailey memulai tuntutan yang sederhana namun spesifik: meminta agar pertemuan-pertemuan dibuat terbuka.
Langkah berikutnya adalah mendorong Local Government (Access to Information) Bill. Rancangan itu memperluas akses publik terhadap rapat-rapat dewan dan dokumen yang menyertainya. Untuk membangun dukungan, Bailey dan timnya menghubungi ratusan kelompok lokal, mengirim “secret files” yang berisi detail aktivitas dewan yang selama ini terjadi di balik pintu tertutup.
Ia menyinggung contoh yang ia anggap mengena: ada sebuah dewan yang memilih mosi mendukung kebebasan informasi, tetapi melakukannya secara tertutup. Menurut Bailey, kampanyenya mulai menunjukkan efek ketika ia mendengar anggota parlemen mengeluh di ruang bar parlemen karena banjir surat yang mereka terima terkait isu tersebut.
Bailey juga menegaskan cara ia memandang perannya. Ia tidak menyebut dirinya sebagai lobbyist. “Saya menyebut diri saya community mobiliser,” katanya, lalu menambahkan bahwa kemenangan kampanye seperti ini tidak datang dari parlemen, melainkan dari luar parlemen.
Membuat ruang bagi lawan untuk ‘menyelamatkan muka’
Dalam konteks politik saat itu, pemerintah Konservatif memiliki mayoritas besar dan sebelumnya menentang rancangan tersebut. Namun, ketika tekanan publik menguat, pemerintah akhirnya melunak. Bailey menyatakan timnya berhati-hati agar menteri tetap bisa “menyelamatkan muka”: mereka mengubah redaksi usulan agar pemerintah tidak terlihat seakan mundur begitu saja.
Aturan main yang ia bawa ke berbagai koalisi
Berita Terkait
Di luar strategi teknis, Bailey menempatkan sejumlah prinsip kampanye sebagai pedoman. Salah satunya adalah “Giving your opponent a way out”, atau memberi jalan keluar bagi pihak lawan. Ia juga menghindari politik identitas partai yang terlalu mengeras.
Meskipun ia memilih Green, Bailey tidak selalu selektif soal siapa yang diajak bekerja sama. Pada era 1980-an, misalnya, ia bergabung dengan Association for the Conservation of Energy, organisasi yang dikelola direktur dan CEO. Dalam pidato perpisahannya di akhir masa kerja dengan organisasi tersebut, Bailey menyampaikan: “Mungkin kita berdua telah belajar sesuatu.” Ia melanjutkan bahwa ia belajar tidak semua “kapitalis jahat” adalah kapitalis jahat, dan tidak semua “anarkis nakal” adalah anarkis nakal.
Ia juga menekankan kebiasaan untuk tampil “ultra reasonable”. Di bukunya, Bailey menulis prinsip lain: “Buatlah sedemikian sulit bagi orang untuk menentang Anda.” Bagi Bailey, nada yang tampak wajar tidak meniadakan tekanan, tetapi membuat serangan balik menjadi lebih sulit.
Serangkaian undang-undang yang ia catat sebagai keberhasilan
Di daftar keberhasilannya, Bailey menyebut beberapa aturan yang berhubungan dengan energi, transportasi, dan pengelolaan lokal. Salah satunya Home Energy Conservation Act yang mewajibkan dewan menetapkan penjelasan tentang upaya peningkatan efisiensi energi rumah.
Ia juga mencatat Private Hire Vehicles Act yang mengatur minicab. Selain itu, Road Traffic Reduction Act disebut sebagai dasar kewajiban bagi dewan setempat untuk menyusun rencana pengurangan kemacetan atau lalu lintas.
Strategi kunci: private members’ bills dan kecepatan setelah nomor keluar
Salah satu metode utama Bailey untuk membuat rancangan lolos adalah mekanisme private members’ bills. Proses ini dimulai dari deputy speaker yang mengenakan sarung tangan putih, lalu mengambil bola bernomor kecil dari semangkuk seperti akuarium. Para anggota parlemen yang mendapatkan nomor “beruntung” memperoleh waktu parlementer yang krusial untuk mengajukan rancangan mereka sendiri.
Begitu nomor-nomor itu keluar, Bailey bergerak cepat. Ia segera melobi tujuh anggota parlemen dalam daftar, lalu menyodorkan paket rancangan yang siap pakai untuk diajukan. Ia dikenal sebagai penguasaan proses rumit mengubah private members’ bills menjadi undang-undang yang benar-benar berlaku.
Benturan dengan Eric Forth dan cara mematahkan hambatan
Keahlian Bailey di jalur ini membuatnya bersinggungan dengan anggota parlemen Konservatif Eric Forth. Forth dikenal sebagai paruh waktu parlementer yang berdedikasi, tetapi juga penentang gigih proses private members’ bills. Ia kerap berupaya menghambat rancangan dengan “berbicara sampai habis waktu”, atau melakukan filibustering terhadap rancangan dari anggota belakang parlemen.
Forth berargumen bahwa rancangan semacam itu mencerminkan “impian kelompok tertentu” dan “aspirasi orang-orang yang bermaksud baik”, tetapi tidak selalu merupakan gagasan yang matang. Karena intensitas aksinya, sesi Jumat di House of Commons yang membahas rancangan terkait sering dijuluki “Eric Forth’s killing fields”.
Dalam bukunya, Bailey menggambarkan Forth sebagai sosok yang “tak bisa diretas”. Meski begitu, Bailey tetap menyebut beberapa kemenangan yang ia berhasil klaim terhadap Forth. Dalam upaya menyelamatkan Private Hire Vehicles Bill—yang akhirnya berhasil—Bailey menyusun kampanye lokal yang intensif: selebaran dikirim ke setiap satu dari 50.000 konstituen Forth.
Kembali ke gaya aksi langsung saat diperlukan
Bailey juga tidak ragu memakai taktik aksi langsung yang pernah ia jalani di masa muda. Ia pernah mengunci chief whip Liberal Democrat di kantornya, dengan tujuan mencegah figur tersebut dihubungi oleh kampanye-kampanye tandingan.
Saat ini, di usia 80-an, Bailey sedang dalam pemulihan setelah mengalami stroke keenam. Ia juga menghadapi insomnia dan restless leg syndrome yang membuatnya tetap terjaga di malam hari. Namun menurut Lord Don Foster—rekannya dari kubu Liberal Democrat—Bailey “masih saja begitu”: “masih mengejar, masih menulis pertanyaan-pertanyaan parlementer.”
Foster menambahkan bahwa, di atas semuanya, Ron Bailey kemungkinan besar telah meloloskan lebih banyak potongan legislasi melalui parlemen dibanding mayoritas menteri kabinet. Dalam gambaran itu, keberhasilan Bailey bukan hanya soal satu rancangan yang lolos, melainkan cara bertahun-tahun membangun tekanan, merancang teks yang siap diajukan, dan menjaga agar perubahan tidak hanya berhenti sebagai gagasan.












