jurnalistik.co.id – Pengumuman hasil GCSE 2026 menunjukkan gambaran yang tampak stabil jika hanya melihat angka kelulusan secara umum. Namun ketika rincian diperiksa, muncul sejumlah perubahan yang lebih kompleks—mulai dari meningkatnya jumlah peserta yang mengulang, pergeseran jarak nilai antara siswa laki-laki dan perempuan, hingga melebar lagi jurang antarwilayah di Inggris.
Menurut data kelulusan GCSE di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara, proporsi nilai pada ambang 4/C atau lebih berada pada level yang hampir sama seperti tahun lalu. Meski begitu, dinamika di balik angka tersebut memperlihatkan tekanan tambahan pada kelompok tertentu dan ketimpangan yang belum benar-benar terselesaikan.
1) Kelulusan GCSE relatif setara dengan 2025
Secara keseluruhan, tingkat kelulusan tetap dijaga dengan konsistensi yang kuat. Di Inggris, Wales, dan Irlandia Utara, 67,3% dari semua nilai mencapai 4/C ke atas. Angka ini hanya sedikit turun dibanding 67,4% pada tahun sebelumnya.
BBC menekankan bahwa pola yang terlihat lebih mendekati “konsistensi” setelah periode perubahan besar pada 2020 dan 2021, ketika ujian dibatalkan akibat pandemi Covid dan hasil ditetapkan lewat penilaian guru. Bahkan, tingkat kelulusan tahun ini dinyatakan “persis sama” dengan yang terjadi pada 2019.
Di masing-masing negara, proporsi nilai 4/C atau lebih juga tidak mengalami pergeseran besar. Di Inggris, tercatat 67% (turun dari 67,1% pada 2025). Di Wales, angkanya 62,3% (turun dari 62,5%). Sedangkan di Irlandia Utara, nilainya 83,6% (naik dari 83,5%).
Tingkat nilai tertinggi (7/A atau lebih) juga relatif stabil. Tahun ini naik tipis dari 21,9% menjadi 22%. Rangkuman ini memperkuat kesimpulan bahwa hasil secara agregat tidak berubah drastis, tetapi perbedaan di level komponen tertentu justru menjadi penentu variasi dampak.
2) Jumlah peserta yang mengulang (resit) kembali meningkat
Salah satu perubahan paling menonjol datang dari komposisi peserta yang mengikuti ujian ulang. Hampir seperempat GCSE matematika dan bahasa Inggris pada tahun ini diambil oleh kelompok usia 17 tahun ke atas.
Di Inggris, kelompok tersebut menyumbang 24,3% dari nilai bahasa Inggris (GCSE English language) dan matematika. Porsi ini lebih tinggi dibanding tahun lalu yang sebesar 23,4%.
Resit tidak selalu diwajibkan oleh ketentuan, namun kenyataannya lembaga pendidikan cenderung mendaftarkan siswa ketika mereka dianggap siap. Penjelasan ini relevan karena, menurut data dalam laporan, peluang lulus pada kelompok yang berusia 17 tahun ke atas jauh lebih rendah.
Di Inggris, hanya 19,8% entri bahasa Inggris dari peserta usia 17+ yang mendapat nilai 4 atau lebih. Untuk matematika, angkanya bahkan lebih rendah, yakni 15,3% untuk entri kelompok usia yang sama. BBC menyebut kedua angka ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu.
Dalam konteksnya, peningkatan jumlah resit berpotensi menekan hasil total karena nilai keseluruhan turut terdampak oleh peserta yang memiliki tingkat kelulusan lebih rendah dibanding siswa 16 tahun yang mengambil ujian pertama kali.
Cambridge OCR pada hari yang sama menyatakan bahwa “the number of resit entries is still going in the wrong direction”. Sementara itu, Association of School and College Leaders mengkritik kebijakan pendidikan lanjutan dengan mengatakan “force-feeding [young people] a relentless diet of GCSE English and maths in post-16 education is simply not working”.
Di sisi lain, DfE menyampaikan bahwa “future years won’t face this demoralising cycle” melalui pengenalan kualifikasi baru sebagai “stepping stone” bagi mereka yang tidak lulus GCSE mulai 2028. Rencana tersebut adalah Level 1, satu tingkat di bawah GCSE. Meski rencana ini mendapat sambutan luas, ada seruan agar siswa bisa mengambil kualifikasi tersebut lebih awal, sebelum mereka berada di tahap mengerjakan GCSE.
Berita Terkait
3) Nilai anak perempuan kembali turun, menyempitnya kesenjangan terjadi di titik terendah rekor
Secara umum, siswa perempuan masih menunjukkan performa yang lebih baik dibanding laki-laki. Namun jarak antara tingkat kelulusan keduanya kembali mengecil dan bahkan mencapai titik terendah yang pernah tercatat.
BBC mencatat kesenjangan tahun ini sebesar 5,8 poin persentase, turun dari 6,2 poin pada tahun lalu. Angka ini juga lebih kecil dibanding 9,5 poin pada 2017, ketika jaraknya berada pada level terlebar di abad ini.
DfE memasukkan temuan ini sebagai “positive signs of improvement”. Tetapi laporan menjelaskan bahwa penyempitan kesenjangan bukan terutama karena peningkatan besar pada siswa laki-laki. Sebaliknya, jarak mengecil karena nilai siswa perempuan turun, sementara hasil siswa laki-laki naik sedikit.
Analisis yang dibahas BBC sebelumnya—mengacu pada Education Policy Institute—menyatakan bahwa performa siswa perempuan “declining in absolute terms” sejak pandemi Covid. Temuan tersebut dikaitkan dengan tren kesejahteraan yang mengkhawatirkan, termasuk memburuknya kesehatan mental dan meningkatnya penggunaan media sosial.
4) Pembeda wilayah di Inggris melebar lagi
Perbedaan hasil antarwilayah di Inggris juga menjadi sorotan karena jarak antara wilayah dengan performa tertinggi dan terendah justru melebar. London mencatat tingkat kelulusan tertinggi, yakni 71,7%, sedangkan West Midlands berada di angka terendah, 62,4%.
Dengan demikian, kesenjangan antarwilayah mencapai 9,3 poin persentase. Angka ini naik dari 8,7 poin pada tahun lalu. BBC juga menegaskan bahwa jurang tersebut masih lebih lebar dibanding periode mana pun dalam dekade sebelum Covid.
DfE menyatakan komitmen untuk “tackling entrenched inequality” melalui dukungan terarah di wilayah dengan performa lebih lemah. DfE juga menyebut keinginan memberi lebih banyak pengaruh kepada pemimpin lokal dalam pendidikan remaja.
Di tingkat kebijakan, Prime Minister Andy Burnham mengumumkan pada bulan lalu bahwa ia ingin memastikan remaja memiliki jalur teknis ke pekerjaan yang disesuaikan dengan industri lokal.
5) Entri computing turun, sementara isu “AI” ikut memengaruhi minat
Perubahan pilihan mata pelajaran juga tampak pada tren entri ujian. BBC menyebut ada lonjakan jumlah peserta yang mengambil statistik pada GCSE tahun ini. Pada saat yang sama, terjadi penurunan entri untuk bahasa Prancis, yang untuk pertama kalinya kalah popularitas dibanding bahasa Spanyol pada tahun lalu.
Namun penurunan paling besar terjadi di computing. Laporan menyebut jumlah entri computing turun 7,1% menjadi 85.000 entri. Cambridge OCR, melalui Myles McGinley, menilai computing memang masih “very popular GCSE”, tetapi mengalami penurunan dari “a historic high”.
McGinley juga berspekulasi bahwa “the emergence of AI could be leading to students thinking they don’t need to learn how to code”. Ia menyoroti fenomena “vibe coding”, yaitu membuat aplikasi atau situs menggunakan AI alih-alih menulis kode secara manual, yang digambarkan sebagai “all the rage”.
Meski demikian, ia menegaskan pandangannya bahwa komputer sains justru semakin penting di era AI: “I think potentially computer science is more important than ever in the age of AI. “I think AI won’t be able to replace a solid understanding of how software works, how technology can solve real-world problems, and how it can create a good user experience for example.”
Keseluruhan temuan dari hasil GCSE 2026, meski menunjukkan stabilitas pada angka kelulusan, memperlihatkan bahwa masalah tidak hilang begitu saja. Peningkatan resit, perubahan pola kesenjangan gender, pelebaran jurang regional, serta tantangan minat pada computing menjadi bagian dari gambaran besar yang menuntut perhatian kebijakan dan praktik pendidikan.












