jurnalistik.co.id – Seorang pekerja bandara di Frankfurt meninggal dunia akibat malaria setelah terjadi wabah langka yang bermula dari penularan melalui gigitan nyamuk.
Menurut pejabat kesehatan masyarakat Jerman, kasus ini terkait infeksi yang dialami total enam karyawan, sementara lima orang lainnya masih menjalani perawatan medis.
Fraport selaku operator bandara menyampaikan bahwa pihaknya meyakini nyamuk yang membawa infeksi tiba di bandara tersibuk di Jerman tersebut melalui pesawat.
“Sadly, we must confirm that one employee has died as a result of the infection,” ujar juru bicara Fraport kepada BBC.
Dalam pernyataan lanjutan, juru bicara yang sama mengatakan langkah informasi internal telah dilakukan kepada seluruh pekerja di lokasi. “We have provided comprehensive information to all employees and encourage them to consult a doctor if they experience any symptoms.”
Untuk menelusuri sumber nyamuk, pihak bandara memasang perangkap di area terkait, dan nyamuk yang tertangkap akan dianalisis di laboratorium guna menentukan spesies serta asalnya.
Juru bicara Fraport juga menjelaskan bahwa selain satu orang yang telah meninggal, lima individu lain yang terkonfirmasi terinfeksi sedang mendapatkan penanganan.
Peristiwa ini pertama kali dilaporkan pada bulan Juli, ketika wabah melibatkan empat pekerja yang dinyatakan terinfeksi.
Robert Koch Institute, lembaga pemerintah federal Jerman untuk pengendalian dan kesehatan masyarakat, sebelumnya menyebutkan bahwa empat karyawan tersebut jatuh sakit pada periode 4 hingga 6 Juli, dan nyamuk didatangkan melalui pesawat.
Lembaga itu menegaskan bahwa malaria di Jerman hampir secara eksklusif menyerang pelancong jarak jauh yang tertular di wilayah endemik malaria.
Robert Koch Institute juga menyatakan bahwa penularan di dalam bandara sangat jarang terjadi, sehingga kasus ini menjadi perhatian serius bagi proses investigasi.
Berita Terkait
Dalam bulletin epidemiologinya, mereka menyebutkan bahwa “The lack of a travel history can lead to a delayed diagnosis. A delayed diagnosis increases the risk of a severe course of the diseases.”
Institusi tersebut menambahkan bahwa kasus malaria terkait bandara terakhir tercatat pada 2023, juga di Frankfurt Airport.
BBC melaporkan bahwa mereka telah menghubungi Dinas Kesehatan Publik Frankfurt yang memimpin penyelidikan untuk meminta komentar terkait temuan dan perkembangan wabah.
Secara umum, malaria adalah penyakit yang ditularkan oleh beberapa jenis nyamuk yang menggigit manusia, dan mayoritas kasusnya ditemukan di negara-negara tropis.
WHO menyebutkan bahwa infeksi ini dapat dicegah dan dapat diobati, serta disebabkan oleh parasit yang tidak menular dari orang ke orang.
Walaupun demikian, gejala yang muncul dapat bersifat ringan ataupun berpotensi mengarah pada kondisi yang mengancam jiwa, tergantung pada perjalanan penyakit.
Dengan adanya pemasangan perangkap dan analisis spesies nyamuk, otoritas berupaya memastikan jalur masuknya vektor dan menilai skenario penularan yang terjadi di lingkungan bandara.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penularan penyakit tropis dapat muncul ketika vektor yang membawa parasit tiba melalui perjalanan, sehingga kewaspadaan tenaga kerja dan respons medis tetap diperlukan.
Robert Koch Institute menekankan bahwa tidak adanya riwayat perjalanan dapat membuat diagnosis terlambat. Ketika pemeriksaan baru dilakukan setelah gejala berkembang, risiko perjalanan penyakit yang lebih berat ikut meningkat, sehingga penilaian medis perlu dilakukan cepat walau kasusnya berada di wilayah yang tidak biasanya menjadi tempat penularan.
Di sisi operasional, langkah pemberitahuan internal juga dimaksudkan untuk memastikan seluruh pekerja memahami pentingnya memantau gejala. Selain itu, pemasangan perangkap dan pemeriksaan laboratorium terhadap nyamuk yang tertangkap menjadi bagian dari upaya menjelaskan bagaimana vektor masuk serta membantu menyusun gambaran investigasi yang lebih jelas di lingkungan bandara.
Malaria sendiri merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dan terkait parasit; WHO menyebut infeksi ini dapat dicegah dan diobati. Meskipun sebagian gejala dapat tampak ringan, kondisi tetap bisa berkembang menjadi serius, tergantung pada perjalanan penyakit pada masing-masing individu.












